Predestination (2014) Review Part 1

Here it comes another movie review. First thing I want to say is, I’m gonna give a huge spoiler about this movie. So, be prepared in case you don’t wanna know, just leave a comment and close this tab, it’s okay 😥

Saya nonton Predestination ini tadi malam, dan masih terngiang-ngiang sampe sekarang. Rekomendasinya dari abang-abang jualan film, katanya ini film bagus banget tentang science-fiction, dari semua film yang dia punya dia rekomendasiin film ini untuk kategori film (lumayan) terbaru yang wajib ditonton.

predestination

Cerita berawal dari seseorang yang nantinya diketahui adalah seorang agen yang sedang berjalan menenteng koper memasuki sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu dia berusaha menjinakkan bom, tapi seseorang mengalihkan perhatiannya sehingga di detik terakhir dia terburu-buru memasukkan bom itu ke dalam koper dan terlambat menutupnya, yang akibatnya dia terkena ledakan dan seluruh wajahnya habis dilahap api. Di tengah erangannya dia berusaha meraih kotak biola yang terlempar agak jauh, namun dia beruntung ada seseorang yang membantu mengambilkan kotak biola tersebut. Sambil tertatih dia menekan-nekan tombol yang ada di kotak biola itu daaaann scene beralih ke sebuah ruangan dimana dia dirawat.

Si agen selamat dan mendapatkan perawatan dari dokter khusus. Sang dokter melakukan serangkaian operasi plastik sehingga wajah agen tersebut berubah drastis. Selagi dirawat, si agen mendapat kunjungan dari koleganya yang berkata dia tak perlu menangani kasus bom itu lagi dan beristirahat hingga pulih total.

Singkat cerita, dia mulai sembuh dan mulai beraksi kembali sebagai agen. Di sela waktu dia selalu merekam suaranya seperti diary dan perintah untuk dilakukan agen berikutnya. Sebagian isi dari rekaman tsb berbunyi : “Misi pertama kita sama pentingnya dengan misi terakhir kita. Satu sama lain mendekatkan kita pada tujuan akhir. Waktu selalu menangkap kita, meski itu bidang pekerjaan kita. Bisa dikatakan kita berbakat. Jesus, kedengarannya sombong. Baiklah, kuperbaiki. Bisa dikatakan, kita ditakdirkan untuk pekerjaan ini.”

6 November 1970. Si agen berada di sebuah bar menjadi seorang bartender. Sekian menit berlalu masuk seorang pria yang duduk memesan minuman. Si agen melirik jam tangannya dan si pria, seolah-olah dia menunggu kedatangannya. Dia mencoba mengajak si pria berbincang-bincang. Awalnya si pria terlihat tidak ingin diganggu dan tidak suka dengan cara si bartender memulai percakapan, namun bartender mendapatkan perhatiannya karena dia berkata suka cerita pengakuan yang ada di majalah, dan si pria ternyata adalah penulisnya dengan nama pena The Unmarried Mother. Dalam percakapannya si bartender terkejut penulisnya adalah seorang pria (padahal jalan cerita pengakuan itu tertuang dalam sudut pandang wanita), dan si penulis juga terkejut si pria membaca cerita tsb (padahal cerita genre itu diperuntukkan untuk wanita). Si penulis bekata ada kisah asli dibalik cerita itu dan sampai sekarang dia belum mempublikasikannya. Bartender bertaruh sebotol wine bahwa cerita aslinya tidak sebagus cerita fiksi karangannya, akhirnya si pria mulai bercerita kisah aslinya, yang tidak lain adalah kisah hidupnya sendiri. Si pria mulai bercerita: “Ketika aku masih gadis kecil… (dijelaskan bahwa dia adalah seorang transgender).

13 September 1945. Seseorang berjalan memasuki pekarangan panti asuhan, meletakkan seorang bayi perempuan yang mana adalah dirinya sendiri di depan pintu dan pergi meninggalkannya. Si bayi tumbuh besar dan diberi nama Jane. Jane unggul dalam pelajaran Fisika dan Matematika. Dia juga unggul dalam beladiri, dia senang berkelahi bahkan mengungguli laki-laki. Dia merasa tidak rupawan, tidak seperti gadis-gadis pada umumnya yang suka bersolek, bahkan dia tidak ingin melihat cermin semasa remaja hingga dewasanya. Pada umur 18 tahun seseorang dari perusahaan SpaceCorp datang ke sekolahnya untuk merekrut perempuan-perempuan yang pintar di bidang Matematika dan fisika serta memiliki fisik dengan daya tahan yang kuat untuk dilatih menjadi astronot. Jane melewati tahap demi tahap seleksi, namun di tengah-tengah dia terlibat perkehian yang berakibat dikeluarkan dari proses seleksi tsb. Tak punya keluarga, dia memutuskan untuk cari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Pagi bekerja, malam mengikuti kursus table-manner. Tiap malam selesai kursus biasanya dia langsung pulang, namun tidak malam itu. Malam itu hujan dan dia berteduh di suatu tempat, tak sengaja dia menabrak seorang pria. Berawal dari kebetulan itu mereka sering bertemu, dan akhirnya berhubungan intim. Sekian bulan berlalu ketika mereka sedang berpacaran di taman, pria itu berkata pada Jane kalau dia akan pergi sebentar dan akan kembali dengan segera. Namun ternyata dia tak pernah kembali.

Si penulis berhenti bercerita. Terlihat jelas dia sedang memendam amarah. Dia melanjutkan ceritanya. Si pria tidak kembali dan meninggalkan dia dalam keadaan hamil. Di saat yang tidak tepat SpaceCorp memintanya kembali untuk masuk ke dalam tim (dengan pertimbangan dia adalah orang yang tepat : selain akademik dan fisik, dia juga tak punya keluarga) tapi hal itu tidak mungkin karena dia sedang hamil. Di saat itu dia merasa sangat marah dengan pria yang telah meninggalkannya itu, jika dia tidak hadir di kehidupan Jane tentu Jane tidak hamil dan bisa mewujudkan mimpinya menjadi seorang astronot. Singkat cerita, Jane pun melahirkan anak perempuan. Pasca melahirkan caesar, dokter berkata bahwa dia menemukan kejanggalan pada organ reproduksi Jane, Jane memiliki kelamin ganda. Karena pendarahan berlebih akibat melahirkan, memaksa dokter untuk melakukan histerektomi yaitu pengangkatan rahim. Mendengar hal tsb Jane sangat terkejut, itu artinya organ kewanitaannya tak ada lagi dan ia sedang direkonstruksi menjadi laki-laki. Dalam kesendirian dan perubahan kelaminnya, satu-satunya harta dalam hidupnya adalah bayi perempuannya, yang dinamai atas namanya ketika pernah menjadi wanita, Jane.

Namun malangnya dia, anak yang menjadi harapan pun diculik orang. Dia dalam kembali bangkit dan mencoba mencari pekerjaan, bekerja jadi koki di restoran, mencoba melamar jadi astronot ke SpaceCorp lagi dengan kondisi kelamin yang berbeda, hingga akhirnya menjadi penulis dengan nama pena The Unmarried Mother.

Selesai bercerita, si penulis berkata pagi ini dia menemukan dirinya sudah menjadi pria yang matang secara reproduksi. Dan si bartender menyalaminya memberikan selamat. Antara malu dan berbangga, si penulis berkata banyak perawat yang berkata dia tampan. –Dan yeah, si penulis (diperankan oleh Sarah Snook), dengan bantuan makeup memang terlihat ganteng untuk ukuran perempuan yang bertransformasi jadi laki-laki–

Mirip Leonardo DiCaprio gak? XD
Mirip Leonardo DiCaprio gak? XD

Wah ternyata panjang juga, btw ini udah setengah jalan cerita (belum masuk klimaks), besok dipost lagi lanjutannya.

Advertisements

Saya dan Orang Gila

Pulang telat. Jam 11 malam. Dengan sepeda.

 

“Vi, bukain pintu pagar dong. Maap ya gan mengganggu tidur lo.”

 

Sambil menunggu Vivi yang lumayan lama keluar, saya senderan ke tembok rumah tetangga. Dengan mata menatap ke hape, saya konsentrasi memecahkan game sudoku yang kemaren belom selese-selese. Dari sebelah kiri saya terasa ada bayangan orang berjalan mendekat.

 

Ah, paling ada warga yang mau lewat.

 

Saya masih tetap berkonsentrasi ke hape sampai ‘si warga’ melongok melewati tembok yang saya sender. Perasaan saya gak enak, ‘warga’ ini kok lama banget melongok nya, kalo mau lewat kenapa gak lewat aja, ngomong ‘Punten…’ gitu.

 

Konsentrasi saya buyar. Saya menoleh ke kiri. Kira-kira berjarak 1,5 meter dari tempat saya bersender, berdiri sesosok makhluk dengan rambut mirip Mbah Surip (Cuma lebih awut-awutan lagi) serta pakaian compang-camping menatap ke arah saya. Dengan disinari lampu jalan berwarna kuning suram itu, saya dan dia saling menatap selama sepersekian detik.

 

Dag. Dig. Dug.

 

Jantung saya berdetak kencang.

Ini bukan cinta pada pandangan pertama. Ini ekspresi ketakutan.

Saya ketakutan. Banget.

Sepersekian detik yang rasanya lama sekali itu mampu membuat saya mengucurkan keringat dingin.

Di detik berikutnya, entah ada angin apa, saya dan dia sama-sama membalikkan badan. Menjauh.

 

Masih dengan jantung dag dig dug, saya berusaha bersikap seolah tidak melihat apa-apa.

Tapi aneh, ‘si warga ini’ gak nongol-nongol lagi. Ketika saya mencoba melongok ke arah dimana dia berasal, yang saya lihat dia sudah menutup diri di balik kardus TV yang agak besar. Di depannya ada api unggun.

 

WOW. Kayaknya dia lagi camping. Hehehe

 

Beberapa detik kemudian akhirnya si Vivi datang juga. Dan saya cerita ke Vivi. Dia antara khawatir dan mau ketawa. -____-

 

Saya jadi sadar satu hal tentang kejadian barusan. Tadi bukan Cuma saya yang menjauh. Dia  juga.

Mengapa tadi saya menjauh? Karena saya ketakutan, tapi berusaha cool dan tenang.

Mengapa dia menjauh? Langsung meringkuk dibalik kardus pula.

 

Hm, kayaknya bukan Cuma saya yang ketakutan. Tapi dia juga.

 

Saya bingung, harus bangga atau terpukul.

Tapi yang pasti, saya bersyukur 🙂

Saya dan Jojo

“Jo, kamu tau gak Thomas Alva Edison?”

 

“Penemu bohlam yang terkenal itu kan?”

 

“Iya. Dia itu punya kesamaan sama kamu.”

 

Dengan muka sumringah dan mata berbinar-binar Jojo bertanya pada saya “Oh ya, apanya yang sama????”

 

“Sama-sama dikatain sama gurunya ‘Lemot. Idiot’. ”

Seketika muka Jojo langsung berubah datar dan matanya menatap saya dengan tajam. Melihat perubahan ekspresinya, saya langsung tertawa ngakak. Sebenarnya saya Cuma niat ngisengin Jojo. Soalnya saya selalu pusing luar biasa tiap ngajarin dia. Dia gak pernah mau serius. Tiap saya ngajarin, tangannya selalu mencet-mencet BB, atau benerin jam, atau foto-foto sana-sini. Berkali-kali saya bilang “Eh Jo, kakak pulang ya. Kamu gak niat belajar.” barulah dia menghentikan ‘kegiatannya’, tapi Cuma beberapa detik. Selanjutnya? Mulai lagi seperti tadi. Looping -__-.

 

Melihat saya tertawa ngakak, Jojo ngomong”Puaaassss????”

 

Muka saya kembali datar. “Gak, biasa aja.”

 

Jojo yang jadi agak pundungan membuat saya agak sedikit merasa bersalah. Supaya agak meredakan rasa bersalah saya, saya mencoba menyampaikan sisi positif dari ‘mirip Thomas Alva Edison’ tersebut.

 

“Kamu tau gak Jo, Edison itu kan di sekolahnya nilainya jelek terus, ibunya udah berkali-kali dipanggil sama gurunya. Sampai akhirnya si guru nyerah dan mengeluarkan Edison dari sekolah karena menganggap Edison tidak punya masa depan. Gurunya berkali-kali bilang Edison lemot. Edison idiot. Tapi edison gak nyerah. Ibunya juga gak putus asa dengan kondisi anaknya yang seperti itu. Edison terus-menerus mencoba hingga akhirnya dia menemukan banyak sekali penemuan-penemuan yang berguna bagi kehidupan.”

 

“Makanya, kamu juga gitu. Gak masalah orang lain bilang kamu lemot, kamu idiot. Yang penting itu kamu punya keinginan untuk berubah gak, punya keinginan untuk mematahkan kata-kata orang itu gak. Ini Cuma masalah kamu serius atau gak untuk mencapai apa yang kamu inginkan.”

 

Kata-kata saya tadi cukup membuat Jojo terdiam dan tertegun.

 

Hei tunggu, bukan Cuma Jojo, saya juga.

 

Selalu, tiap kali saya ‘menasehati orang’ —yang sebenarnya berkilah—, selalu menjadi pukulan telak buat diri saya sendiri. Pada hakikatnya, semua yang kita bicarakan adalah apa yang kita rasakan. Sebenarnya saya tak jauh berbeda dengan Jojo dan anak-anak yang tidak serius lainnya. Saya dengan lancar bisa berkata ini itu kepada Jojo. Dengan mudah bisa membuat dia manggut-manggut dan setuju dengan isi dari pembicaraan saya karena pada hakikatnya saya membicarakan apa yang dia rasakan. Saya membicarakan apa yang dirasakan oleh orang-orang ‘bodoh lemot dan idiot’ itu. Karena saya salah satu dari mereka.

 

Dua jam privat bersama Jojo, saya pun pamit pulang. Sembari mengantar saya keluar, Jojo ngomong ke ibunya “Ma, tadi Kak Anna ngomong aku mirip Thomas Alva Edison.”

“Oh iya? Bagus dong, penemu terkenal itu kan?”

“Iya, katanya aku dan Thomas Alva Edison punya kesamaan. SAMA-SAMA LEMOT. IDIOT.” Jojo ngomong dengan mata membelalak dan suara yang sangat lantang sambil melirik-lirik ke arah saya.

 

Mamanya ketawa. Saya nyengir pamit dan langsung mengayuh sepeda. Kabur.

Maksiat

Maksiat adalah candu.

 

“sekali kau melakukannya, selamanya kau akan punya keinginan untuk melakukannya lagi.”

 

“seperti yang kau lakukan pada shalat-shalatmu, kau merasa sesak dan menyesal karena melalaikannya hingga akhirnya kau lupa dan meninggalkannya. Di lain kesempatan, kau mencoba untuk melakukannya lagi. Kau mengira kali ini kau tidak akan lupa. Tapi kenyataan berkata lain. Kau lupa dan akhirnya meninggalkannya LAGI.”

 

 

“HAL INI SAMA HALNYA DENGAN BERJUDI. KAU BERTARUH DENGAN WAKTUMU. KAU BERTARUH DENGAN INGATANMU. KAU BERTARUH DENGAN KESADARANMU. PADAHAL KAU TAK BISA MENJAMIN SEGALANYA MASIH AKAN TETAP ADA. MASIH AKAN TETAP TERSISA. SESUNGGUHNYA SEMUA YANG ADA PADA DIRIMU ADALAH MILIK ALLAH. HAK ALLAH UNTUK MENCABUT APA2 YANG DITITIPKAN-NYA PADA HAMBA-NYA KAPANPUN IA KEHENDAKI. SEHARUSNYA KAU SADAR AKAN HAL ITU.”

 

 

Jadi janganlah kau melalaikan perintah Allah jika sudah sampai pada waktunya. Jangan pernah kau tidur untuk kesekian kalinya padahal kau tahu saat itu sudah masuk waktu shalat.

 

Change

    Apa yang akan aku lakukan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik?

  1. Ubah cara pandangku.
  2. Ubah pemikiranku.
  3. Pikirkan masalah2 besar.
  4. Munculkan ide-ide kecil dan brilian.
  5. Bagi masalah2 besar itu menjadi kecil2.
  6. Selesaikan masalah2 kecil itu dengan ide2 kecil dan brilian tadi.
  7. Sedikit masalah kecil terselesaikan.
  8. Banyak masalah kecil terselesaikan lagi.
  9. Lebih banyak lagi masalah kecil yang terselesaikan lagi dan lagi.
  10. Akhirnya hanya tinggal segelintir masalah kecil yang belum dan mungkin gak bisa terselesaikan.
  11. Setidaknya dunia menjadi lebih baik.
  12. Atau paling tidak diri sendiri menjadi lebih baik.

 

Memaknai hidup dengan lebay

Setiap peranan di dalam hidup kita memiliki porsi masing-masing untuk dikenang.

Tergantung bagaimana kita merasakan tiap detik dari kehidupan kita, seberapa besar kita menghargai diri sendiri dan juga orang lain.

Ini bukan masalah bagaimana kita ingin dikenang oleh orang lain, bukan masalah bagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain, bukan masaalah seberapa banyak orang di dunia ini yang menyukai kita, bukan masalah membangun relasi, dan bukan pula masalah menghargai atau tidak menghargai sesama manusia, bukan itu semua.

Ini masalah antara diri sendiri dengan satu objek. Melalui yang satu itu bisa bercabang kemana-mana. Yang satu itu adalah alasan, satu-satunya alasan untuk melakukan apapun.

Masalahnya sekarang adalah, ketika kita melakukan apapun kepada cabang-cabang yang kecil itu tanpa melalui objek tunggal tadi, seringkali segalanya menjadi lebay. Lebay disini dalam artian mencurahkan segalanya berserakan, tak tentu arah. Bisa dalam bentuk emosi yang berlebihan, pemberian yang berlebihan, apapun, dengan kelebayan.

Tapi jika kita mencurahkan segalanya kepada yang satu itu, Dia akan membaginya sama rata kepada semua cabang, tak ada istilah lebay untuk yang satu itu.

Laksana keran air dan sumbernya yang berada di tengah2, ketika sumbernya itu diisi air, semua keran akan bisa menerima dan mengeluarkan air tersebut, tergantung besarnya keran itu terbuka.