Ready for marriage

Tolong, ini bukan postingan galau.

Hadeh, udah lama gak pernah ngepost, postingannya beginian hahaha.

Jadi begini, tadi tu sebenarnya buka laptop, buka word, buka browser, tujuannya mau nyari bahan untuk buat proposal. Yah seperti biasalah, godaan sebelum bertugas, pasti melipir ke sosmed sana sosmed sini. Lumayan buat nambah-nambah info orang-orang sekitar, cuman patroli doang, palingan ngelike, ngelove, udah. Jadi tau si ini udah nikah, si anu udah tunangan, si itu anaknya udah dua, dsb dsb.

Kadang mikir orang-orang berani banget untuk ngambil langkah besar dalam hidupnya. Karena sampai sekarang, jujur, saya belum masuk golongan yang mupeng atau baper ngeliatin orang-orang berubah status. Saya lebih ke “woooh hebat” ngeliat keberanian teman-teman ini untuk take a big leap dalam hidup mereka.

Untuk usia saya yang udah 26 tahun 6 bulan ini *detil ya, gak penting kali* harusnya udah ada pikiran ke arah sana. Tapi kok ya sampe sekarang saya gak ngerasa apa-apa ya, mati rasa apa ya, apa yang salah ya sama pikiran saya. Tiba-tiba terloncatlah pikiran ini sehingga menggerakkan tangan mengetik keyword “why do i feel not ready to get married”. Keluarlah hasil pencarian, artikel teratas judulnya “10 signs you’re not ready blabla”, skip, artikel kedua “9 ways to know blabla”, skip, males baca yang poin-poin gitu, lagi pengen cari artikel dengan analisis mendalam kali panjang kali lebar.

Mata terpaut pada artikel ketiga, judulnya di tab “Marriage: Not Ready? You never will be, Until you marry”, judulnya di artikel “The ‘I’m Not Ready to Get Married’ Trap”. Artikel ini dibuka dengan :

In every age, people say and believe things that aren’t true but somehow become accepted as “conventional wisdom.” The statement “I’m not ready to get married” is a current example.

Judul utamanya, judul kecilnya, kalimat pembukanya sesuatu sekali. Pikiran “saya gak siap” itu sebenarnya gak bener. Yang bener itu “saya gak tau saya siap atau gak kalo saya gak melakukannya”.

Contohnya aja orang jaman dulu, rata-rata nikah di usia yang baru puber bahkan sebelum puber juga banyak. Mereka gak ditanya siap apa gak. Nikah dulu, barulah memantaskan diri. Belajar tanggung jawab, belajar menjadi “pribadi yang sudah menikah”. Semua karena tuntutan, entah itu tuntutan status, lingkungan masyarakat, atau agama.

Sama halnya dengan menjadi orang tua, sedikit sekali yang “siap” untuk menjadi orang tua sebelum memiliki anak. Sebagian besar “siap” untuk menjadi orang tua setelah punya anak. Dipaksa untuk siap, siap gak siap harus siap *di Biologi namanya adaptasi*.

Begitu juga dengan dokter, pengacara, perawat, programmer, profesi apapun, menjadi apapun, akan selalu ada “kali pertama” dalam melakukan segala sesuatu.

Lalu saya mulai teupeh pas baca advice di artikel ini dari Susan Patton yang isinya:

“Find a husband on campus before you graduate. . . . You will never again be surrounded by this concentration of men who are worthy of you.”

Hmm….

Trus katanya lagi, semakin lama menunda untuk “membuat diri siap” maka seseorang akan sampai di satu titik dimana sudah nyaman dengan kejombloannya dan ketertarikan untuk berumah tangga semakin berkurang. Kayak lagunya Kunto Aji sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama aku asik sendiri, lama tak ada yang menemani..rasanyaaaa

Kena peh sama satu paragraf lagi ni

And one more thing: If you’re 25 and not ready to commit to another person, in most cases — even if you are a kind person, and a responsible worker or serious student — “I’m not ready to get married” means “I’m not ready to stop being preoccupied with myself,” or, to put it as directly as possible, “I’m not ready to grow up.” (No job on earth makes you grow up like getting married does.)

Hmmmm lagi…

Lanjuuut… orang-orang gak nikah karena jatuh cinta. Banyak orang yang saling jatuh cinta tapi gak menikah. Manusia menikah karena tuntutan sosial. Manusia memahami mengapa menikah itu lebih baik karena pernikahan akan membawa kesejahteraan untuk lingkungan masyarakat, karena pernikahan memungkinkan sebanyak mungkin individu untuk commit to someone and take care of that person. Dari segi ekonomi, pernikahan dapat meningkatkan pendapatan seseorang. Gaji/pendapatan seorang pria akan meningkat setelah menikah. Mengapa? Karena semakin sedikit waktu dan uang yang disia-siakan, karena ada pasangan yang membantu mengelolanya. Dari sisi pencari karyawan (bos/majikan), mereka juga lebih memilih pria yang sudah menikah. Hmm itu sebabnya kenapa pernikahan itu melancarkan rejeki..

Sepanjang sejarah, pada masyarakat manapun, seseorang menikah bukan ketika dia “siap”, tapi ketika dia sudah sampai “umur menikah” dan diharapkan untuk dapat memikul tanggung jawab sebagai orang dewasa.

Di akhir artikel disebutkan kalau kita ini sedang berada di era yang apa-apa pake perasaan. Bukannya menilik dari segi rasional dan moral, kita malah lebih sering mempertimbangkan perasaan. Kita lebih mengutamakan perasaan dibandingkan aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban. Jadi mungkin yang bisa dipetik dari sekian panjang artikel ini adalah: LAKUKAN SAJA. Jika kewajiban itu sudah sampai waktunya, jika itu baik secara rasional dan moral, maka harus ditunaikan tanpa menunda-nunda. Pada akhirnya, pilihan kitalah yang membentuk pribadi kita. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang akan terjadi pada kita.

In life, behavior shapes feelings. Act happy, you’ll become happy. Act like you’re single, you’ll remain single. Act like you’re ready for marriage, you’ll become ready for marriage. Do it, in other words. Then you’ll be “ready.”

PS: studi kasus “pernikahan” adalah sampel, contoh. Contoh lain yang lebih dekat dari nikah adalah nulis proposal tesis. Kapan bisa selesainya ini proposal kalo gak dibikin-bikin. Kapan saya “siap” untuk maju seminar kalo gak mulai nulis dan memahami dari sekarang. Lakukan, maka kamu akan siap. Lakukan, maka kamu akan bisa.

Okelah, sekian dulu, mayan juga nulis gini 2 jam, niat amat. Sampai jumpa kapan-kapan.

Advertisements

Nonton HUT NET 2.0

Thanks to Mbak Dian, Lia dan Syifa, karena kalian aku bisa nonton HUT NET TV yang kedua! Horeeeeee!

 The Complete Story will be told soon..

Sakit Gusi, Bukan Sakit Gigi

Karena sakit gigi terlalu mainstream…

Semalem jam 7an pas lagi di depan laptop kerasa di bagian gusi kiri bawah paling belakang sakit. Ini bukan pertama kalinya, udah beberapa kali kejadian begini kalo diitung ada 6 kali apa ya, sejak 2012. Lima kali yang dulu-dulu sakitnya bukan di gusi yang sama, pernah dua kali di gusi kanan bawah, sekali di gusi kanan atas, ama dua kali di gusi kiri atas, kesamaannya ya sama-sama di gusi paling belakang di

Continue reading Sakit Gusi, Bukan Sakit Gigi

Rejeki

This is just a reminder to myself, I hope I could achieve the target in the beginning of March 2015.

Semester ini sudah berlalu tepat 7 hari yang lalu. Tanggal 19 Januari 2015 adalah hari pertama kuliah di semester ini. Selasa yang lalu adalah bimbingan pertama kali dengan dosbing. Harapannya di minggu-minggu selanjutnya saya bisa bimbingan 2 kali seminggu. Dengan begitu diusahakan sudah 8 kali bimbingan di pertengahan Februari.

Sedangkan aplikasi yang sedang dibuat belum berfungsi dengan sepenuhnya, masih ada modul-modul yang belum dilengkapi. Dengan mengusahakan seringnya bimbingan dan konsultasi dengan dosen dan orang terdekat, saya berharap bisa menghadapi ini semua.

Tiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Bagaimana cara memecahkannya? Dengan mendiskusikannya. Kalo selamanya diam, gak akan ada yang tahu kalo kamu punya masalah. Ketika stuck tapi malah gak terbuka, itu namanya sama aja dengan menggali lubang kubur sendiri. Percayalah dengan orang-orang yang patut dipercayai. Terbukalah. Jangan dipendam sendiri. -Ayah

Masalah itu… sama seperti rejeki. Sama-sama harus dibagi-bagi. Jangan dipendam sendiri.

FIGHTING!

Bus Primajasa Garut/Tasik-Lebak Bulus

Kemarin saya balik lagi ke Bandung dari Jakarta dengan bus favorit idaman mahasiswa. Kenapa favorit? Ya karena murahh 😀 😀 😀

Okeh, sekarang tarif bus ini sebenernya gak bisa dibilang murah lagi sih, tapi tetep jadi yang termurah diantara semua tarif bus yang pada melangit. Kalo ngomongin inflasi, saya merasa sangat tua sekarang. Karena saya pernah merasakan makan dengan porsi yang bikin kenyang hanya dengan Rp5000 saja. Sekarang? Lima ribu cuma dapet nasinya doang 😥

Nah, balik lagi ke bus tadi, ada apa dengan si bus? Ga ada apa-apa sih, cuma mau sekedar share doang pengalaman naik bus ini selama hampir 6 tahun…

Pertama kali saya naik bus Primajasa yang jurusan tujuannya Lebak Bulus (bisa dari Garut maupun Tasikmalaya), jujur rasanya merinding disko. Dengan iming-iming tarif yang sangat miring –tahun 2009 tarifnya masih 26ribu– saya harus menaiki bukit menempuh jejak tanah yang curam, selalu licin kalo hujan, dan lokasinya dekat tempat pembuangan sampah. Gak cuma itu, sesampainya di atas bukit –ini bukit bukan sembarang bukit–, saya harus nyetop bus yang melaju dengan kecepatan tinggi. Itu artinya saya harus siaga penuh, memantau tulisan GARUT-LB.BULUS atau TASIK-LB.BULUS di setiap bus putih yang lewat dari ujung jalan. Loh, kok jalan? Tadi katanya bukit?

Nah ketahuan deh ini bukan bukit, tapi jalan layang tol! 😀 =))

Hadeeeh ga tau dah apa yang ada di pikiran saya yang polos itu. Yang jelas saya ikut sesuai instruksi. Menurut instruksi, selain pandangan harus tajam membaca tulisan tiap bus, saya juga harus siaga memantau mobil atau manusia berseragam dinas. Entah itu seragam polisi atau seragam Jasa Marga (perusahaan yang punya jalan tol). Kenapa? Karenaaaa ini ilegal kawan-kawan.. Yaiyalah mana ada kendaraan boleh berhenti di jalan tol, namanya juga jalan bebas hambatan.. (kecuali darurat dan macet ya..–eittsss macet di jalan tol? Hanya di Indonesia!)

Singkat cerita, saat itu saya sampai di Lebak Bulus dengan selamat. Percobaan pertama berhasil, saya jadi nagih, tiap pulang dan pergi dari rumah abang yang berlokasi di Tangerang Selatan ke Bandung selalu naik bus primajasa ini. Walau tarifnya naik secara berkala seiring naiknya BBM, pertama 26ribu, lalu 30ribu, terus 35ribu, dan yang terupdate 38ribu.. Dari jaman belum ada travel Umbara (travel baru yang beroperasi Bandung-Tangsel) sampai terminal lebak bulus pun udah gak ada lagi.. bus jurusan ini masih tetap jadi favorit saya karena kemurahan dan fasilitasnya.

Apa aja fasilitas bus primajasa Garut/Tasik-Lebak Bulus? Kalo Bus Primajasa jurusan Bandung-Lebak Bulus seat nya 2-2, full AC, ada smoking room, dan ada toiletnya. Kalo bus yang ini minus toilet, plus kursi satu. Yep, fasilitasnya seat 2-3, full AC, dan ada smoking room. Udah gitu aja, gak jauh beda kan fasilitasnya? Tapi kalo soal harga beda jauuuhhhh. Primajasa Bandung-Lb.Bulus yang terbaru 75ribu, sedangkan si garut/tasik setengahnya. Makanya saya bilang, ini masih jadi favorit..

Nah.. terus selama hampir 6 tahun ini ada beberapa kejadian menarik dan memorable seputar pulang-pergi Jkt-Bdg dengan bus ini..

  • Pertama : ketika nunggu bus buat nyetop saya dan Lia pernah kepergok sama Jasa Marga terus disita KTP nya.. Katanya kami harus ngambil sendiri ke kantor Pusatnya di Jl.Pasteur sana, akhirnya saya dapat kembali KTP nya dengan proses panjang investigasi dan tanda tangan surat segala macem..
  • Kedua : Ketika jalan masuk naik ke tol itu udah ditutup beton rapi sama Jasa Marga, saya melakukan observasi jalan masuk alternatif lain, dan ketemu lewat Jl. Adhyaksa Sukapura.
  • Ketiga : Sekian lama berlalu, giliran Jl. Adhyaksa nya yang dibeton, saya balik lagi ke jalan semula, eh ternyata beton yang dulu udah dibobol.. dahsyat bgt emang masyarakat kita, termasuk saya yang secara gak langsung menikmati pembobolan ini LOL..
  • Keempat : Saya pernah naik bus yang di tengah2 perjalanan salah satu bannya bocor, meledak pas lagi kecepatan tinggi. Untungnya ban yang meledak ban belakang ya, yang ada 2. Formasi ban bus dan truk-truk gede kan depan 1-1, belakang 2-2. Jadi ketika meledak satu gak langsung terpeleset dan guling-guling, cuma agak meleng aja dikit, terus langsung berhenti dan ganti ban. Rasanya kayak udah kecelakaan aja, penumpang pada panik luar biasa. Tapi si sopir gak langsung berhenti, dia tetep jalaan aja lumayan jauh sampe Pasar Rebo. Disanalah kami para penumpang ditransfer ke bus lain yang jurusannya sama.
  • Kelima : Saya pernah beberapa kali ngegembel di dalam bus gara-gara gak kebagian tempat duduk, saya harus berdiri sepanjang jalan bdg-jkt, atau ketika udah gak tahan lagi terpaksa saya duduk di lantai bus, udahlah gak mikir lagi apa bersih atau kotor, kaki udah gak tahan lagi..
  • Keenam : Saya pernah nunggu bus di atas tol sampe lebih dari sejam, karena semua bus garut/tasik-lb.bulus yang lewat pada penuh bahkan overload. Waktu itu hari terpanjang dan teribet sepanjang sejarah. Setelah nunggu sejam saya memutuskan untuk turun tol dan nyari travel, travel juga udah pada fully-booked. Akhirnya saya naik tol lagi, ke arah Cileunyi. Saya pikir mungkin kalo saya ke terminalnya langsung saya bisa dapat bus yang kosong, dan yang paling utama bisa dapat kursi. Sampailah saya di Terminal Cileunyi. Saya langsung amazed melihat lautan manusia nungguin bus. Ikutlah saya di dalam gerombolan bus yang ke lebak bulus. Bus pertama datang, orang-orang yang menunggu pada desak-desakan, udah kayak nonton konser, keringetan, panas, beberapa orang pada anarkis, tapi saya tetep sabar, saya nyerah di bus ketiga, saya cari warung dulu, makan minum dulu, pas datang bus ketujuh, saya langsung lari dan masuk ke dalam, dan saya dapet kursi kosong! Akhirnya! Yeay!
  • Ketujuh : Cobaan belum berakhir. Masih di hari yang sama, di hari teribet sepanjang sejarah itu, saya dan seluruh penumpang terjebak di jalan menuju Jakarta selama lebih dari 7 jam! Saat itu emang jackpot bgt gara-gara saya baru dapet busnya maghrib, itu emang waktunya rentan muacet, ditambah lagi lusanya lebaran haji. Udah dah.

Gitu deh kenangan saya seputar bus Primajasa Garut/Tasik-Lebak Bulus. Btw semua yang saya tulis barusan gak untuk ditiru ya! Kalopun mau niru ya siap-siap tanggung resiko kayak yang udah saya alamin. Yah sukur-sukur kalo gak kenapa-napa.. Pokoknya pinter-pinter liat peluang, selama trayek bus ini masih yang termurah, kita tetep hati-hati, gak ada polisi dan Jasa Marga, semua aman mudah-mudahan. Eh Pokoknya Don’t Try This At Home, or Road, or where ever.. 😛

Semalam pulang-pulang saya langsung buka laptop, sebelum ngoding (cailah ngoding!) saya ngetik dulu apa yang tercurah di kepala tentang apa yang udah saya alami selama 6 tahun ini yang berkaitan dengan pengalaman naik ini bus. Kenapa jadi throwback gini ya? Yahh mungkin gara-gara tadi sepanjang jalan di dalam bus dengernya lagu lawas Koes Plus, Novia Kolopaking, Pance Pondaag, dan Dewi Yul. Walaupun saya bukan generasi 70an, mau gak mau lumayan hapal lah lagu-lagunya secara inyak dan ayah kadang suka nyanyi ini lagu-lagu. Emang lah lagu lawas gak ada matinya, selalu jadi andalan para supir bus antar Kota antar Propinsi. Daripada penumpang mati gaya gak tau ngapain, mending ngelamunin kisah-kisah lama sambil dengerin lagu-lagu lawas yg melankolis haha… Ya apa iya?!

Btw nih ketemu lagu-lagu yang kemarin saya denger… Selamat ngelamun! Xixixi (ketawa taiwan)

Yang Kaya Dari Youtube

It’s been a loooooong long time since I don’t post any post about anything, and it’s 2015 already! How fast time flies! Aaannd because of the resolution of 2015 : should post something on blog at least once a week, today I’m gonna post something about what I recently pay attention to : Youtube.

Social media yang satu ini sudah melanglangbuana di dunia internet sejak tahun 2005 (10 tahun yang lalu, jamannya saya baru-baru kenal internet). Dulu, youtube itu bagi saya sesuatu yang wah, gak terjangkau. Kenapa? Karena bener-bener gak terjangkau–alias gak kesampean– buat nontonnya. (baca : abis waktu buat nge-load aja. Apalagi nge-buffer, lemotnya na’udzubillah). Entah mungkin karena jaman dulu internet di Indonesia memang lebih lemot slow, jadinya website lain seperti Friendster dan Facebook selalu jadi tujuan utama..

Seiring bertambahnya kecepatan internet di Indonesia, apalagi semenjak saya punya laptop sendiri, dan wifi gratis dengan speed yang cihuy, berselancarlah saya di web-web ‘berat’, dan Youtube lah salah satunya. Jalan dari channel ke channel, saya menemukan satu channel yang sangat menarik. Yang punya channel orang Amerika keturunan Jepang, namanya Ryan Higa. Kenapa menarik? karena semua video yang dia buat bergenre comedy. Padahal pada saat itu (tahun 2010) listening bahasa inggris saya masih sangat jelek tapi menonton videonya dengan cara bicara yang super-duper-cepat kayak rapper, herannya, bisa langsung saya pahami.

Pada saat itu langsung saya subscribe channelnya yang sudah memiliki subscriber sebanyak 1 juta itu, hampir semua videonya saya tonton, ketika bagian ucapan yang tidak saya mengerti saya ulang lagi, begitu terus berulang-ulang. Hampir semua video nigahiga ( nama channel Ryan Higa) selalu membuat saya tertawa, bahkan sampe ngakak, terkadang. Menonton nigahiga selalu jadi ritual setiap saya punya akses untuk mengakses youtube, hingga tiba saatnya ketika saya merasa terlalu banyak buang-buang waktu di internet, saya mulai melakukan bersih-bersih internet. Deactivate Facebook, membersihkan segala subscription Youtube, maka ikut terhapuslah channel ini.

Singkat cerita, 4 tahun berselang, saya lebih sering instagram-walking, blog-walking soal makanan,  tonton video tentang makanan, beberapa blog menyelipkan tautan ke youtube tentang cara membuat makanan ini itu, tips makanan ini itu, dari situ saya mulai subscribe-subscribe lagi. Di tahun 2014 saya mulai sering nonton Youtube lagi, saya subscribe banyak channel dari yang paling sehat seperti FullyRawKristina (gara-gara channel ini saya pernah coba jadi vegan selama 2 hari dan hasilnya turun 4kg!) sampe yang paling gak sehat seperti SimpleCookingChannel (Channel ini gak bikin saya suka masak kue-kue, cuma bikin saya lebih sering jajan chacha, snickers, dan teman-temannya).

Gak cuma itu, saya baru kenal dengan youtube channel yang berisi review tentang makanan seperti KBDProductionsTV (most about junk food, but it’s goood to watch it), channel ini sering melakukan video kolaborasi dengan emmymadeinjapan (tasting snacks from all over the world), dan daymdrops (sama seperti KBD, kebanyakan tentang junkfood, tapi videonya lebih lucu dari KBD), yang dari sini kedua-duanya juga saya subscribe.

Lama nontonin channel-channel ini membuat saya nyari yang lain lagi, masa semuanya yg saya tonton makanan mulu. Ada titik jenuh dimana saya sudah muak dengan makanan(halah). Jadi, saya pun mulai teringat lagi dengan si nigahiga, apa kabarnya sekarang? Ketika saya pencet tombol search, muncul pencarian channelnya kan, saya buka, dan terkejut luar biasa. Nigahiga yang saya unsubscribe 4 tahun lalu dengan subscriber 1 juta, sekarang sudah beranak pinak jadi 13 juta! Men… 12 juta dalam waktu 4 tahun, bener bikin saya tercengang…

So, saya kembali lagi mensubscribe, menonton, dan menyadari si Ryan Higa ini jadi makin lucu, makin bagus kualitas gambar dan efek, bahkan dia jadi makin famous dan udah ke beberapa negara dalam rangka fans-tour. Selain Singapore dan Australia, negara lainnya yang udah dia kunjungi adalah Indonesia! Dia di Indonesia kira-kira di September 2014! What.. where the hell I am these years…

I am shocked not because I’m literally one of his fans that cannot see his performance in Indonesia live. I like his videos, but don’t admire him as a role model. I am shocked more like because he has grown so fast these years while I am still like this. I cannot help it to don’t compare him with myself. Okay, stop criticizing about me, I want to show you the point of this post..

Semua channel Youtube yang saya subscribe dan saya tonton videonya, banyak dari mereka yang mengungkapkan (di sela-sela videonya secara langsung maupun tidak) bahwa menjadi seorang Youtuber adalah suatu pekerjaan yang menghasilkan uang. “I love my job!” kata emmymadeinjapan, “From every view of this video I will donate $$$ to province xxx in Japan where lately been in earthquake” kata nigahiga. Dari sini saya baru sadar (again, where the hell have I been?) bahwa gak kayak socmed lainnya, Youtube berpeluang menjadi sumber penghasilan bagi penggunanya.

Langsung saya cao googling dan saya menemukan sebuah web bernama Social Blade. Situs ini dapat menganalisa social media dan mentaksir pendapatan dari Youtube user (berdasarkan kalkulasi views, subscribers, likes, dislikes, dan comments) jika ingin terikat kerjasama dengannya (CMIIW). Maka langsung saja saya memasukkan beberapa Youtuber yang saya subscribe dan inilah hasilnya.

kristina

simple

emmy

ken

ryan

Well, inilah kira-kira jumlah pendapatan para Youtuber di atas  jika para Youtuber ini bekerjasama dengan Social Blade. Tapi kalaupun tidak, Youtube punya alur sendiri bagi usernya yang ingin memonetisasikan videonya. Seperti yang tertera disini , nantinya user harus menghubungkan youtube account nya dengan Google adsense yang dia miliki, jika belum punya maka harus signup. Tinggal ikuti petunjuk dari link tsb dan kita bisa set-up akun Youtube agar dapat menghasilkan uang.

youtube

Naaahh saya baru tau tentang hal ini, dan untuk menjawab rasa penasaran saya, saya coba untuk set-up channel for monetization. Dan beginilah tampilan Youtube saya sekarang yang sudah enable for monetization. Disitu tertera bahwa taksiran pendapatan saya masih $0.

anna

Well, sejauh ini saya masih belum tau bagaimana cara kerja selanjutnya secara saya belum upload video apapun. Tapi jika membaca dari petunjuknya, ketika kita meng-enable sebuah video yg ada di channel kita untuk monetisasi, itu artinya orang lain bisa pasang iklan disitu. itu artinya kita akan menerima sejumlah uang ke dalam akun kita untuk setiap penayangan video tsb. Kira-kira seperti itu.

Nah, bisa dibayangin kan, pendapatan si nigahiga kalo masing-masing videonya ditonton minimal 1juta kali?? ($_$)

Daaan untuk menutup postingan kali ini saya akan berbagi daftar 25 Youtuber dengan penghasilan tertinggi. Daftar ini diambil dari sini.

  • #41: TimothyDeLaGhetto – $1 million (578 million total video views)
  • #40: SHAYTARDS – $1 million (1.01 billion views)
  • #39: Shane Dawson – $1 million (1.1 billion views)
  • #38: TheRadBrad – $1 million (1.03b views)
  • #37: ElRubiusOMG – $1.1 million (917m views)
  • #36: Vsauce – $1.2 million (656 million views)
  • #35: EvanTubeHD – $1.3 million (766 million views)
  • #34: PrankvsPrank – $1.3 million (788m views)
  • #33: EpicMealTime – $1.3 million (721m views)
  • #32: FPSRussia – $1.3 million (600m views)
  • #31: MichellePhan – $1.3 million (985m views)
  • #30: TheDiamondMinecart – $1.4 million (1.01b views)
  • #29: Potemi926 – $1.6 million (655m views)
  • #28: Vegetta777 – $1.6 million (1.1b views)
  • #27: WhiteBoy7thst – $1.7 million (609m views)
  • #26: TheLonelyIsland – $1.7 million (1.4 billion views)
  • #25: Sxephil – $1.7 million (1.27b views)
  • #24: FreddieW – $1.8 million (1 billion views)
  • #23: SpeedyW03 – $2 million (943m views)
  • #22: TheBajanCanadian – $2 million (817m views)
  • #21: HolaSoyGerman – $2 million (1.3b views)
  • #20: TheWillyRex – $2 million (838m views)
  • #19: Tobuscus – $2 million (1.02b views)
  • #18: TheFineBros – $2.2 million (1.9b views)
  • #17: AdamThomasMoran – $2.2 million (703m views)
  • #16: SkyDoesMinecraft – $2.3 million (2.1b views)
  • #15: BoyceAvenue – $2.3 million (1.4b views)
  • #14: Nigahiga – $2.3 million (1.8b views)
  • #13: ERB – $2.4 million (1.1b views)
  • #12: CaptainSparklez – $3.2 million (1.5b views)
  • #11: CollegeHumor – $3.3 million (2.7b views)
  • #10: RealAnnoyingOrange – $3.4 million (2.1b views)
  • #9: UberHaxorNova – $3.5 million (1.3b views)
  • #8: RayWilliamJohnson – $4 million (2.7b views)
  • #7: TobyGames – $4.2 million (1.7b views)
  • #6: JennaMarbles – $4.3 million (1.5b views)
  • #5: BluCollection – $4.8 million (1.78b views)
  • #4: DisneyCollectorBR – $5 million (2.6b views)
  • #3: Smosh – $5.7 million (3.4b views)
  • #2: BlueXephos – $6.7 million (2.4b views)
  • #1: Pewdiepie – $7 million (5.4b views)

Gak pernah menyangka kalau orang-orang di atas yang kerjanya senang-senang di Youtube bisa dapet duit gede kan? Atau cuma saya yang baru tau ya? XD -_____-”

Apakah ada yang pernah menghasilkan uang lewat Youtube? Share opini kalian di komentar ya 🙂

Mikirception

Q : “Jadi awal November nanti kamu mau ke Jakarta Dil?”

A : “Aku ga tau Na, bisa jadi ke Jakarta bisa jadi pulkam”

Q : “Ooh, nanti akhir November gimana pas wisuda, balik ke kos sini atau nyari penginapan lain?”

A : “Aku ga tau Na, awal bulan aja masih belum mikir, apalagi yang akhir.”

Q : “Jadi kapan kamu mau mikir?”

A : “Mmm Belum tau Na,”

Q : “Ooh kamu belum tau kapan kamu kamu akan memikirkannya. Kapan kamu akan tau?”

A : “Mmm ketika aku akan memikirkannya,”

Q : “Kapan kamu akan memikirkannya?”

A : “Mmm belum tau Na,”

Q : “Kapan kamu akan tau?”

A : “Mmm ketika aku akan memikirkannya,”

.

.

.

.

.

.

Sepuluh tahun kemudian….