Ready for marriage

Tolong, ini bukan postingan galau.

Hadeh, udah lama gak pernah ngepost, postingannya beginian hahaha.

Jadi begini, tadi tu sebenarnya buka laptop, buka word, buka browser, tujuannya mau nyari bahan untuk buat proposal. Yah seperti biasalah, godaan sebelum bertugas, pasti melipir ke sosmed sana sosmed sini. Lumayan buat nambah-nambah info orang-orang sekitar, cuman patroli doang, palingan ngelike, ngelove, udah. Jadi tau si ini udah nikah, si anu udah tunangan, si itu anaknya udah dua, dsb dsb.

Kadang mikir orang-orang berani banget untuk ngambil langkah besar dalam hidupnya. Karena sampai sekarang, jujur, saya belum masuk golongan yang mupeng atau baper ngeliatin orang-orang berubah status. Saya lebih ke “woooh hebat” ngeliat keberanian teman-teman ini untuk take a big leap dalam hidup mereka.

Untuk usia saya yang udah 26 tahun 6 bulan ini *detil ya, gak penting kali* harusnya udah ada pikiran ke arah sana. Tapi kok ya sampe sekarang saya gak ngerasa apa-apa ya, mati rasa apa ya, apa yang salah ya sama pikiran saya. Tiba-tiba terloncatlah pikiran ini sehingga menggerakkan tangan mengetik keyword “why do i feel not ready to get married”. Keluarlah hasil pencarian, artikel teratas judulnya “10 signs you’re not ready blabla”, skip, artikel kedua “9 ways to know blabla”, skip, males baca yang poin-poin gitu, lagi pengen cari artikel dengan analisis mendalam kali panjang kali lebar.

Mata terpaut pada artikel ketiga, judulnya di tab “Marriage: Not Ready? You never will be, Until you marry”, judulnya di artikel “The ‘I’m Not Ready to Get Married’ Trap”. Artikel ini dibuka dengan :

In every age, people say and believe things that aren’t true but somehow become accepted as “conventional wisdom.” The statement “I’m not ready to get married” is a current example.

Judul utamanya, judul kecilnya, kalimat pembukanya sesuatu sekali. Pikiran “saya gak siap” itu sebenarnya gak bener. Yang bener itu “saya gak tau saya siap atau gak kalo saya gak melakukannya”.

Contohnya aja orang jaman dulu, rata-rata nikah di usia yang baru puber bahkan sebelum puber juga banyak. Mereka gak ditanya siap apa gak. Nikah dulu, barulah memantaskan diri. Belajar tanggung jawab, belajar menjadi “pribadi yang sudah menikah”. Semua karena tuntutan, entah itu tuntutan status, lingkungan masyarakat, atau agama.

Sama halnya dengan menjadi orang tua, sedikit sekali yang “siap” untuk menjadi orang tua sebelum memiliki anak. Sebagian besar “siap” untuk menjadi orang tua setelah punya anak. Dipaksa untuk siap, siap gak siap harus siap *di Biologi namanya adaptasi*.

Begitu juga dengan dokter, pengacara, perawat, programmer, profesi apapun, menjadi apapun, akan selalu ada “kali pertama” dalam melakukan segala sesuatu.

Lalu saya mulai teupeh pas baca advice di artikel ini dari Susan Patton yang isinya:

“Find a husband on campus before you graduate. . . . You will never again be surrounded by this concentration of men who are worthy of you.”

Hmm….

Trus katanya lagi, semakin lama menunda untuk “membuat diri siap” maka seseorang akan sampai di satu titik dimana sudah nyaman dengan kejombloannya dan ketertarikan untuk berumah tangga semakin berkurang. Kayak lagunya Kunto Aji sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama aku asik sendiri, lama tak ada yang menemani..rasanyaaaa

Kena peh sama satu paragraf lagi ni

And one more thing: If you’re 25 and not ready to commit to another person, in most cases — even if you are a kind person, and a responsible worker or serious student — “I’m not ready to get married” means “I’m not ready to stop being preoccupied with myself,” or, to put it as directly as possible, “I’m not ready to grow up.” (No job on earth makes you grow up like getting married does.)

Hmmmm lagi…

Lanjuuut… orang-orang gak nikah karena jatuh cinta. Banyak orang yang saling jatuh cinta tapi gak menikah. Manusia menikah karena tuntutan sosial. Manusia memahami mengapa menikah itu lebih baik karena pernikahan akan membawa kesejahteraan untuk lingkungan masyarakat, karena pernikahan memungkinkan sebanyak mungkin individu untuk commit to someone and take care of that person. Dari segi ekonomi, pernikahan dapat meningkatkan pendapatan seseorang. Gaji/pendapatan seorang pria akan meningkat setelah menikah. Mengapa? Karena semakin sedikit waktu dan uang yang disia-siakan, karena ada pasangan yang membantu mengelolanya. Dari sisi pencari karyawan (bos/majikan), mereka juga lebih memilih pria yang sudah menikah. Hmm itu sebabnya kenapa pernikahan itu melancarkan rejeki..

Sepanjang sejarah, pada masyarakat manapun, seseorang menikah bukan ketika dia “siap”, tapi ketika dia sudah sampai “umur menikah” dan diharapkan untuk dapat memikul tanggung jawab sebagai orang dewasa.

Di akhir artikel disebutkan kalau kita ini sedang berada di era yang apa-apa pake perasaan. Bukannya menilik dari segi rasional dan moral, kita malah lebih sering mempertimbangkan perasaan. Kita lebih mengutamakan perasaan dibandingkan aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban. Jadi mungkin yang bisa dipetik dari sekian panjang artikel ini adalah: LAKUKAN SAJA. Jika kewajiban itu sudah sampai waktunya, jika itu baik secara rasional dan moral, maka harus ditunaikan tanpa menunda-nunda. Pada akhirnya, pilihan kitalah yang membentuk pribadi kita. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang akan terjadi pada kita.

In life, behavior shapes feelings. Act happy, you’ll become happy. Act like you’re single, you’ll remain single. Act like you’re ready for marriage, you’ll become ready for marriage. Do it, in other words. Then you’ll be “ready.”

PS: studi kasus “pernikahan” adalah sampel, contoh. Contoh lain yang lebih dekat dari nikah adalah nulis proposal tesis. Kapan bisa selesainya ini proposal kalo gak dibikin-bikin. Kapan saya “siap” untuk maju seminar kalo gak mulai nulis dan memahami dari sekarang. Lakukan, maka kamu akan siap. Lakukan, maka kamu akan bisa.

Okelah, sekian dulu, mayan juga nulis gini 2 jam, niat amat. Sampai jumpa kapan-kapan.

Advertisements

Meluruskan Niat Menuntut Ilmu

Dikutip dari Meluruskan Niat Menuntut Ilmu

Meluruskan Kembali Niat Menuntut Ilmu 

   Oleh: Dasep Kurniawan

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dikisahkan ada tiga orang manusia yang masuk neraka bukan karena dia melakukan kemaksiatan, tetapi justru karena dia melaksanakan amal sholeh, cuma sayang ketika dia melaksanakan amal sholehnya tidak didasari dengan niat yang ikhlas karena Allah, tetapi ingin dipuji dan dipuja manusia.

Orang pertama yang masuk neraka adalah seorang syuhada (yang mati di medan perang) tetapi sayang dia berperang bukan karena Allah tetapi karena dia ingin disebut pahlawan oleh kaumnya.

Orang kedua yang masuk neraka adalah seorang ulama yang menyebarkan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat, tetapi sayang dia melakukan itu bukan karena Allah, tetapi karena ingin mendapat popularitas supaya disebut seorang ulama besar yang dihormati.

Dan orang ketiga yang masuk neraka adalah orang kaya yang dermawan yang selalu menginfakkan hartanya di jalan Allah, suka membantu dan menolong fakir miskin, tetapi sayang dia melakukan itu bukan karena Allah tetapi ia ingin mendapat pujian dan penghormatan dari  masyarakat sebagai seorang dermawan.   Dari kisah hadits di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa salah satu syarat utama diterimanya amal baik seseorang adalah niat yang ikhlas semata-mata karena Allah I, hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi:

اِنَّمَااْلاَعْمَالُ باِالنِّيَّاتِ, وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى …

  “Tiap-tiap amal harus disertai dengan niat, dan balasan bagi setiap amal manusia tergantung kepada apa  yang diniatkannya…” (H.R. Bukhari)   Salah satu amal baik kita yang perlu diluruskan niatnya adalah menuntut ilmu. Karena di zaman sekarang ini banyak orang yang sekolah tinggi dengan memakan biaya besar dan memakan waktu yang lama, tidak diniatkan ikhlas karena Allah, tetapi semata-mata ingin mendapat gelar, pangkat atau kedudukan yang bersifat duniawi.   Oleh karena itu, supaya menuntut     ilmu  yang   kita    lakukan     berhasil / sukses, tidak sia-sia, dan supaya bernilai ibadah di sisi Allah, maka dalam menuntut ilmu baik secara formal (di sekolah) maupun non formal (di lingkungan masyarakat) maka kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Ketika menuntut ilmu kita harus benar-benar meluruskan niat dengan ikhlas semata-mata ibadah kepada Allah, bukan karena takut sama orang tua, guru atau ingin mendapat gelar semata dan niatan lain yang akan dapat menghapus pahalanya nanti di akhirat.

2. Setelah meluruskan niat, kita harus juga menyempurnakan ikhtiar dengan cara belajar dengan tekun, ulet, sungguh-sungguh, dan tanpa putus asa, serta lakukanlah dengan penuh kedisiplinan, karena tiada kesuksesan tanpa kedisiplinan. Misalnya kalau di sekolah jangan hanya mau belajar itu kalau akan ulangan, dan jangan belajar itu hanya ingin mengejar nilai yang bagus semata tetapi lakukanlah belajar (menuntut ilmu) itu setiap hari baik akan ada ulangan atau tidak, sedangkan hasilnya kita pasrahkan (tawakal) saja kepada Allah. Karena Allah menilai amal belajar kita bukan hasil belajarnya (nilai ulangannya) tetapi Allah menilai prosesnya (kegigihan, kesungguhan  dan keikhlasan kita dalam menuntut ilmu).

3. Iringilah ikhtiar kita dengan selalu berdo’a kepada Allah Swt., karena tanpa pertolongan-Nya usaha kita akan sia-sia.   Mudah-mudahan dengan kiat-kiat di atas kegiatan kita menuntut ilmu akan sukses dan menjadi amal sholeh yang diterima di sisi Allah Swt..

Ingat ! Allah tidak menilai hasilnya, tetapi Allah menilai prosesnya.

Maka luruskanlah niat dan sempurnakan ikhtiar

Sandra Aamodt: Why Dieting Doesn’t Usually Work

This article is copied from there. I just reblogged it here because this talk is so insightful.

Aku sedang berbicara tentang makan dengan kesadaran: belajar untuk memahami sinyal tubuh Anda sehingga Anda makan saat Anda lapar dan berhenti ketika Anda kenyang, karena berat badan berlebih bermuara ketika Anda makan pada saat Anda tidak lapar. – Sandra Aamodt –

Transcript of the video:

Three and a half years ago, I made one of the best decisions of my life. As my New Year’s resolution, I gave up dieting, stopped worrying about my weight, and learned to eat mindfully. Now I eat whenever I’m hungry, and I’ve lost 10 pounds.

This was me at age 13, when I started my first diet. I look at that picture now, and I think, you did not need a diet, you needed a fashion consult. (Laughter) But I thought I needed to lose weight, and when I gained it back, of course I blamed myself. And for the next three decades, I was on and off various diets. No matter what I tried, the weight I’d lost always came back. I’m sure many of you know the feeling.

As a neuroscientist, I wondered, why is this so hard? Obviously, how much you weigh depends on how much you eat and how much energy you burn. What most people don’t realize is that hunger and energy use are controlled by the brain, mostly without your awareness. Your brain does a lot of its work behind the scenes, and that is a good thing, because your conscious mind — how do we put this politely? — it’s easily distracted. It’s good that you don’t have to remember to breathe when you get caught up in a movie. You don’t forget how to walk because you’re thinking about what to have for dinner.

Your brain also has its own sense of what you should weigh, no matter what you consciously believe. This is called your set point, but that’s a misleading term, because it’s actually a range of about 10 or 15 pounds. You can use lifestyle choices to move your weight up and down within that range, but it’s much, much harder to stay outside of it. The hypothalamus, the part of the brain that regulates body weight, there are more than a dozen chemical signals in the brain that tell your body to gain weight, more than another dozen that tell your body to lose it, and the system works like a thermostat, responding to signals from the body by adjusting hunger, activity and metabolism, to keep your weight stable as conditions change. That’s what a thermostat does, right? It keeps the temperature in your house the same as the weather changes outside. Now you can try to change the temperature in your house by opening a window in the winter, but that’s not going to change the setting on the thermostat, which will respond by kicking on the furnace to warm the place back up. Your brain works exactly the same way, responding to weight loss by using powerful tools to push your body back to what it considers normal. If you lose a lot of weight, your brain reacts as if you were starving, and whether you started out fat or thin, your brain’s response is exactly the same. We would love to think that your brain could tell whether you need to lose weight or not, but it can’t. If you do lose a lot of weight, you become hungry, and your muscles burn less energy. Dr. Rudy Leibel of Columbia University has found that people who have lost 10 percent of their body weight burn 250 to 400 calories less because their metabolism is suppressed. That’s a lot of food. This means that a successful dieter must eat this much less forever than someone of the same weight who has always been thin.

From an evolutionary perspective, your body’s resistance to weight loss makes sense. When food was scarce, our ancestors’ survival depended on conserving energy, and regaining the weight when food was available would have protected them against the next shortage. Over the course of human history, starvation has been a much bigger problem than overeating. This may explain a very sad fact: Set points can go up, but they rarely go down. Now, if your mother ever mentioned that life is not fair, this is the kind of thing she was talking about. (Laughter) Successful dieting doesn’t lower your set point. Even after you’ve kept the weight off for as long as seven years, your brain keeps trying to make you gain it back. If that weight loss had been due to a long famine, that would be a sensible response. In our modern world of drive-thru burgers, it’s not working out so well for many of us. That difference between our ancestral past and our abundant present is the reason that Dr. Yoni Freedhoff of the University of Ottawa would like to take some of his patients back to a time when food was less available, and it’s also the reason that changing the food environment is really going to be the most effective solution to obesity.

Sadly, a temporary weight gain can become permanent. If you stay at a high weight for too long, probably a matter of years for most of us, your brain may decide that that’s the new normal.

Psychologists classify eaters into two groups, those who rely on their hunger and those who try to control their eating through willpower, like most dieters. Let’s call them intuitive eaters and controlled eaters. The interesting thing is that intuitive eaters are less likely to be overweight, and they spend less time thinking about food. Controlled eaters are more vulnerable to overeating in response to advertising, super-sizing, and the all-you-can-eat buffet. And a small indulgence, like eating one scoop of ice cream, is more likely to lead to a food binge in controlled eaters. Children are especially vulnerable to this cycle of dieting and then binging. Several long-term studies have shown that girls who diet in their early teenage years are three times more likely to become overweight five years later, even if they started at a normal weight, and all of these studies found that the same factors that predicted weight gain also predicted the development of eating disorders. The other factor, by the way, those of you who are parents, was being teased by family members about their weight. So don’t do that.

I left almost all my graphs at home, but I couldn’t resist throwing in just this one, because I’m a geek, and that’s how I roll. (Laughter) This is a study that looked at the risk of death over a 14-year period based on four healthy habits: eating enough fruits and vegetables, exercise three times a week, not smoking, and drinking in moderation. Let’s start by looking at the normal weight people in the study. The height of the bars is the risk of death, and those zero, one, two, three, four numbers on the horizontal axis are the number of those healthy habits that a given person had. And as you’d expect, the healthier the lifestyle, the less likely people were to die during the study. Now let’s look at what happens in overweight people. The ones that had no healthy habits had a higher risk of death. Adding just one healthy habit pulls overweight people back into the normal range. For obese people with no healthy habits, the risk is very high, seven times higher than the healthiest groups in the study. But a healthy lifestyle helps obese people too. In fact, if you look only at the group with all four healthy habits, you can see that weight makes very little difference. You can take control of your health by taking control of your lifestyle, even If you can’t lose weight and keep it off.

Diets don’t have very much reliability. Five years after a diet, most people have regained the weight. Forty percent of them have gained even more. If you think about this, the typical outcome of dieting is that you’re more likely to gain weight in the long run than to lose it.

If I’ve convinced you that dieting might be a problem, the next question is, what do you do about it? And my answer, in a word, is mindfulness. I’m not saying you need to learn to meditate or take up yoga. I’m talking about mindful eating: learning to understand your body’s signals so that you eat when you’re hungry and stop when you’re full, because a lot of weight gain boils down to eating when you’re not hungry. How do you do it? Give yourself permission to eat as much as you want, and then work on figuring out what makes your body feel good. Sit down to regular meals without distractions. Think about how your body feels when you start to eat and when you stop, and let your hunger decide when you should be done. It took about a year for me to learn this, but it’s really been worth it. I am so much more relaxed around food than I have ever been in my life. I often don’t think about it. I forget we have chocolate in the house. It’s like aliens have taken over my brain. It’s just completely different. I should say that this approach to eating probably won’t make you lose weight unless you often eat when you’re not hungry, but doctors don’t know of any approach that makes significant weight loss in a lot of people, and that is why a lot of people are now focusing on preventing weight gain instead of promoting weight loss. Let’s face it: If diets worked, we’d all be thin already. (Laughter) Why do we keep doing the same thing and expecting different results? Diets may seem harmless, but they actually do a lot of collateral damage. At worst, they ruin lives: Weight obsession leads to eating disorders, especially in young kids. In the U.S., we have 80 percent of 10-year-old girls say they’ve been on a diet. Our daughters have learned to measure their worth by the wrong scale. Even at its best, dieting is a waste of time and energy. It takes willpower which you could be using to help your kids with their homework or to finish that important work project, and because willpower is limited, any strategy that relies on its consistent application is pretty much guaranteed to eventually fail you when your attention moves on to something else.

Let me leave you with one last thought. What if we told all those dieting girls that it’s okay to eat when they’re hungry? What if we taught them to work with their appetite instead of fearing it? I think most of them would be happier and healthier, and as adults, many of them would probably be thinner. I wish someone had told me that back when I was 13.

Thanks.

Source: TED
January 12, 2014
http://www.ted.com/talks/sandra_aamodt_why_dieting_doesn_t_usually_work.html

Sakit Gusi, Bukan Sakit Gigi

Karena sakit gigi terlalu mainstream…

Semalem jam 7an pas lagi di depan laptop kerasa di bagian gusi kiri bawah paling belakang sakit. Ini bukan pertama kalinya, udah beberapa kali kejadian begini kalo diitung ada 6 kali apa ya, sejak 2012. Lima kali yang dulu-dulu sakitnya bukan di gusi yang sama, pernah dua kali di gusi kanan bawah, sekali di gusi kanan atas, ama dua kali di gusi kiri atas, kesamaannya ya sama-sama di gusi paling belakang di

Continue reading Sakit Gusi, Bukan Sakit Gigi

Membuat Subtitle

Oke. Udah 3 hari ini saya coba jadi ‘penerjemah’ teks film. Iseng sebenernya. Hehehe.

Berawal dari pencarian saya tentang film lawas tahun 2003, judulnya Holes. Gak tau kenapa tiba-tiba teringat sama film ini. Ini salah satu film box office pertama yang saya tonton (lewat dvd bajakan), dan saya sangat suka dengan alur ceritanya. So it’s kind of throwback. Semacam nostalgia.

Saya temukan link downloadnya di Indowebster. Ketemu, langsung donlot. Setelah itu saya cari-cari subtitle nya di IDWB juga gak ketemu, di subscene.com ada, tapi cuma bahasa Inggris. It’s okay, downloaded.

Kelar nonton filmnya dengan sub English, saya kurang puas karena ada bagian yang gak dimengerti. Karena belakangan sering nonton drama Korea teks nya bahasa Indonesia, saya jadi agak susah mencerna teks bahasa Inggris. Nah tiba-tiba muncul sesuatu di otak saya, kalo saya udah cari kemana-mana gak ketemu teks Holes yang bahasa Indonesia, kenapa saya gak jadi orang pertama yang menerjemahkannya?

Berlanjut jadi semangat membara, saya pun mulai menerjemahkannya. Awalnya, diperkirakan teks film Holes yang berdurasi 2 jam ini akan selesai dalam waktu 12 jam. Kenapa semena-mena estimasi 12 jam? karena itu waktu yang diperlukan penerjemah teks Drama Korea Pinocchio untuk menerjemahkan ke Bahasa Indonesia dari sejak teks Bahasa Inggris diupload. Pagi udah ada teks English, biasanya siang atau sore baru ada yg Bahasa Indonesia.

Singkat cerita dua belas jam telah berlalu, dengan disela makan minum dan ke kamar mandi, hasilnya? Tidak sampai setengahnya. bahkan seperlima pun gak sampe. Dari 10ribu baris, saya baru menyelesaikan 1500 baris! Wooghh baru sekarang saya sadar ternyata berat jadi penerjemah subtitle. Naluri kepo saya memberontak, saya penasaran kok bisa si penerjemah-penerjemah drama korea ini sebegitu tahan bantingnya.

Saya surfing di internet, lalu terdampar di forum MINDS Indowebster. Bagi penonton drakor, pasti familiar dengan nama ini. Selayaknya Lebah Ganteng yang spesialis film-film box office, MINDS ini spesialis drama televisi yang kebanyakan drama korea. MINDS singkatan dari My Indonesian Subtitles, merupakan tim penerjemah subtitle dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Mereka adalah sebuah tim, bukan perorangan. Satu tim terdiri dari 3-4 orang. Tim ini terbentuk secara online dengan sistem sukarela. Jadi bila ada sebuah drama terbaru yang kira-kira banyak peminatnya, penerjemah bisa mengajukan diri untuk mentranslate-kannya. Sampai ada 3 orang yang mengajukan diri barulah tim ini ditutup dan ditugaskan untuk menerjemahkan dari episode pertama sampai terakhir. Subtitle yang telah diterjemahkan akan diaudit oleh tim editor atau oleh sesama mereka sendiri.

Nahh dari yang saya baca barulah saya ngeh kalo wajar mereka bisa kejar tayang secepat itu, karena satu subtitle dikeroyok sama 3 sampe 4 orang. Lah saya? Gimana dengan subtitle yang lagi saya garap? Haha mungkin sekitar 2-3 hari lagi baru launching dan akan saya post di subscene.

Well, membuat subtitle memang gak mudah, kalo durasi filmnya lama buangeet sampe sejam 2 jam. Gimana kalo durasinya cuma 3-4 menit? Ini baru menarik.

Baru-baru ini saya habis nonton videonya Tyler Oakley yang judulnya Hear Me Out. Nonton disini:

Di video ini Tyler lagi berkampanye kepada para Youtuber, atau siapa saja yang nonton Youtube, untuk memberi subtitle di video-video Youtube. Setelah nonton video salah seorang Youtuber yang tunarungu yang bilang kalo dia ingin sekali mengerti video-video yang bermanfaat di Youtube, tapi sayang sekali dia gak bisa dengar. Untung kalo video itu ada subtitle nya, tapi kalo gak? Dia gak bisa enjoy Youtube sebagaimana orang-orang normal lainnya.

Nah, dari situ si Tyler ini tergerak untuk membantu dan menyuarakan keinginan si Youtuber ini dengan bikin video kampanye yang sama juga. Selain itu dia juga bongkar semua video-video lamanya dan dikasih subtitle Inggris satu-satu. Bagi siapa yang ingin menerjemahkannya ke dalam bahasa lain dipersilahkan.

Saya amazed ya, mantep juga idenya. Langsung saya ikutin caranya gimana terjemahin video ini ke bahasa lain, maksud saya videonya ini mau saya terjemahin ke Bahasa Indonesia. Itung-itung ini pengalaman pertama saya terjemahin subtitle Youtube, kenapa gak? Eh ternyata setelah dicek Bahasa Indonesia nya udah ada dong. Dan mantepnya lagi, video ini udah diterjemahin ke lebih dari 50 bahasa! Wooww

Dua hari berselang, dilatarbelakangi sama-sama terinspirasi dari Tyler Oakley, seorang chef bernama Jamie Olliver yang punya acara TV Jamie’s 15-Minute Meals juga bikin video yang sama. Ketika saya cek belum ada bahasa Indonesia nya, langsung saya ambil kesempatan ini untuk menerjemahkannya.

Berikut ini skrinsut step by step menerjemahkan subtitle di Youtube. Pertama tekan tombol gear setting di kanan bawah video.

UntitledUntitled

Tekan simbol setting –> Subtitel/Teks –> Tambahkan subtitel/teks. Maka akan muncul window baru di bawah ini.

Untitled2Untitled2

Di halaman ini sudah ada teks aksli dari videonya. Tugas kita cuma tinggal mengartikannya dan diketik ke dalam kotak yang ada di bawahnya. Video berdurasi 1 menit 50 detik ini butuh waktu untuk saya terjemahkan kurang dari 5 menit. Betapa mudahnya dibanding terjemahin teks film! Nah, setelah itu tekan tombol Kirim Masukan yang ada di kiri bawah atau kanan bawah halaman. Dan Tada!Untitled2Kita dapat pemberitahuan bahwa subtitel kiriman kita sudah dikirim untuk dimoderasi oleh si pemilik video. Tinggal menunggu diterima, dan kita sudah bisa menonton video dengan teks yang kita terjemahkan.

Mudah ya? Gimana, ada yang berminat ngisi waktu luang dengan terjemahin subtitle? Itung-itung bahasa asing kita semakin terasah (dalam hal ini bahasa Inggris, kalo saya), kita juga dapat pahala. Ya gak?

Semoga tulisan ini bermanfaat ya. Selamat menerjemahkan!

Rejeki

This is just a reminder to myself, I hope I could achieve the target in the beginning of March 2015.

Semester ini sudah berlalu tepat 7 hari yang lalu. Tanggal 19 Januari 2015 adalah hari pertama kuliah di semester ini. Selasa yang lalu adalah bimbingan pertama kali dengan dosbing. Harapannya di minggu-minggu selanjutnya saya bisa bimbingan 2 kali seminggu. Dengan begitu diusahakan sudah 8 kali bimbingan di pertengahan Februari.

Sedangkan aplikasi yang sedang dibuat belum berfungsi dengan sepenuhnya, masih ada modul-modul yang belum dilengkapi. Dengan mengusahakan seringnya bimbingan dan konsultasi dengan dosen dan orang terdekat, saya berharap bisa menghadapi ini semua.

Tiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Bagaimana cara memecahkannya? Dengan mendiskusikannya. Kalo selamanya diam, gak akan ada yang tahu kalo kamu punya masalah. Ketika stuck tapi malah gak terbuka, itu namanya sama aja dengan menggali lubang kubur sendiri. Percayalah dengan orang-orang yang patut dipercayai. Terbukalah. Jangan dipendam sendiri. -Ayah

Masalah itu… sama seperti rejeki. Sama-sama harus dibagi-bagi. Jangan dipendam sendiri.

FIGHTING!

Bus Primajasa Garut/Tasik-Lebak Bulus

Kemarin saya balik lagi ke Bandung dari Jakarta dengan bus favorit idaman mahasiswa. Kenapa favorit? Ya karena murahh 😀 😀 😀

Okeh, sekarang tarif bus ini sebenernya gak bisa dibilang murah lagi sih, tapi tetep jadi yang termurah diantara semua tarif bus yang pada melangit. Kalo ngomongin inflasi, saya merasa sangat tua sekarang. Karena saya pernah merasakan makan dengan porsi yang bikin kenyang hanya dengan Rp5000 saja. Sekarang? Lima ribu cuma dapet nasinya doang 😥

Nah, balik lagi ke bus tadi, ada apa dengan si bus? Ga ada apa-apa sih, cuma mau sekedar share doang pengalaman naik bus ini selama hampir 6 tahun…

Pertama kali saya naik bus Primajasa yang jurusan tujuannya Lebak Bulus (bisa dari Garut maupun Tasikmalaya), jujur rasanya merinding disko. Dengan iming-iming tarif yang sangat miring –tahun 2009 tarifnya masih 26ribu– saya harus menaiki bukit menempuh jejak tanah yang curam, selalu licin kalo hujan, dan lokasinya dekat tempat pembuangan sampah. Gak cuma itu, sesampainya di atas bukit –ini bukit bukan sembarang bukit–, saya harus nyetop bus yang melaju dengan kecepatan tinggi. Itu artinya saya harus siaga penuh, memantau tulisan GARUT-LB.BULUS atau TASIK-LB.BULUS di setiap bus putih yang lewat dari ujung jalan. Loh, kok jalan? Tadi katanya bukit?

Nah ketahuan deh ini bukan bukit, tapi jalan layang tol! 😀 =))

Hadeeeh ga tau dah apa yang ada di pikiran saya yang polos itu. Yang jelas saya ikut sesuai instruksi. Menurut instruksi, selain pandangan harus tajam membaca tulisan tiap bus, saya juga harus siaga memantau mobil atau manusia berseragam dinas. Entah itu seragam polisi atau seragam Jasa Marga (perusahaan yang punya jalan tol). Kenapa? Karenaaaa ini ilegal kawan-kawan.. Yaiyalah mana ada kendaraan boleh berhenti di jalan tol, namanya juga jalan bebas hambatan.. (kecuali darurat dan macet ya..–eittsss macet di jalan tol? Hanya di Indonesia!)

Singkat cerita, saat itu saya sampai di Lebak Bulus dengan selamat. Percobaan pertama berhasil, saya jadi nagih, tiap pulang dan pergi dari rumah abang yang berlokasi di Tangerang Selatan ke Bandung selalu naik bus primajasa ini. Walau tarifnya naik secara berkala seiring naiknya BBM, pertama 26ribu, lalu 30ribu, terus 35ribu, dan yang terupdate 38ribu.. Dari jaman belum ada travel Umbara (travel baru yang beroperasi Bandung-Tangsel) sampai terminal lebak bulus pun udah gak ada lagi.. bus jurusan ini masih tetap jadi favorit saya karena kemurahan dan fasilitasnya.

Apa aja fasilitas bus primajasa Garut/Tasik-Lebak Bulus? Kalo Bus Primajasa jurusan Bandung-Lebak Bulus seat nya 2-2, full AC, ada smoking room, dan ada toiletnya. Kalo bus yang ini minus toilet, plus kursi satu. Yep, fasilitasnya seat 2-3, full AC, dan ada smoking room. Udah gitu aja, gak jauh beda kan fasilitasnya? Tapi kalo soal harga beda jauuuhhhh. Primajasa Bandung-Lb.Bulus yang terbaru 75ribu, sedangkan si garut/tasik setengahnya. Makanya saya bilang, ini masih jadi favorit..

Nah.. terus selama hampir 6 tahun ini ada beberapa kejadian menarik dan memorable seputar pulang-pergi Jkt-Bdg dengan bus ini..

  • Pertama : ketika nunggu bus buat nyetop saya dan Lia pernah kepergok sama Jasa Marga terus disita KTP nya.. Katanya kami harus ngambil sendiri ke kantor Pusatnya di Jl.Pasteur sana, akhirnya saya dapat kembali KTP nya dengan proses panjang investigasi dan tanda tangan surat segala macem..
  • Kedua : Ketika jalan masuk naik ke tol itu udah ditutup beton rapi sama Jasa Marga, saya melakukan observasi jalan masuk alternatif lain, dan ketemu lewat Jl. Adhyaksa Sukapura.
  • Ketiga : Sekian lama berlalu, giliran Jl. Adhyaksa nya yang dibeton, saya balik lagi ke jalan semula, eh ternyata beton yang dulu udah dibobol.. dahsyat bgt emang masyarakat kita, termasuk saya yang secara gak langsung menikmati pembobolan ini LOL..
  • Keempat : Saya pernah naik bus yang di tengah2 perjalanan salah satu bannya bocor, meledak pas lagi kecepatan tinggi. Untungnya ban yang meledak ban belakang ya, yang ada 2. Formasi ban bus dan truk-truk gede kan depan 1-1, belakang 2-2. Jadi ketika meledak satu gak langsung terpeleset dan guling-guling, cuma agak meleng aja dikit, terus langsung berhenti dan ganti ban. Rasanya kayak udah kecelakaan aja, penumpang pada panik luar biasa. Tapi si sopir gak langsung berhenti, dia tetep jalaan aja lumayan jauh sampe Pasar Rebo. Disanalah kami para penumpang ditransfer ke bus lain yang jurusannya sama.
  • Kelima : Saya pernah beberapa kali ngegembel di dalam bus gara-gara gak kebagian tempat duduk, saya harus berdiri sepanjang jalan bdg-jkt, atau ketika udah gak tahan lagi terpaksa saya duduk di lantai bus, udahlah gak mikir lagi apa bersih atau kotor, kaki udah gak tahan lagi..
  • Keenam : Saya pernah nunggu bus di atas tol sampe lebih dari sejam, karena semua bus garut/tasik-lb.bulus yang lewat pada penuh bahkan overload. Waktu itu hari terpanjang dan teribet sepanjang sejarah. Setelah nunggu sejam saya memutuskan untuk turun tol dan nyari travel, travel juga udah pada fully-booked. Akhirnya saya naik tol lagi, ke arah Cileunyi. Saya pikir mungkin kalo saya ke terminalnya langsung saya bisa dapat bus yang kosong, dan yang paling utama bisa dapat kursi. Sampailah saya di Terminal Cileunyi. Saya langsung amazed melihat lautan manusia nungguin bus. Ikutlah saya di dalam gerombolan bus yang ke lebak bulus. Bus pertama datang, orang-orang yang menunggu pada desak-desakan, udah kayak nonton konser, keringetan, panas, beberapa orang pada anarkis, tapi saya tetep sabar, saya nyerah di bus ketiga, saya cari warung dulu, makan minum dulu, pas datang bus ketujuh, saya langsung lari dan masuk ke dalam, dan saya dapet kursi kosong! Akhirnya! Yeay!
  • Ketujuh : Cobaan belum berakhir. Masih di hari yang sama, di hari teribet sepanjang sejarah itu, saya dan seluruh penumpang terjebak di jalan menuju Jakarta selama lebih dari 7 jam! Saat itu emang jackpot bgt gara-gara saya baru dapet busnya maghrib, itu emang waktunya rentan muacet, ditambah lagi lusanya lebaran haji. Udah dah.

Gitu deh kenangan saya seputar bus Primajasa Garut/Tasik-Lebak Bulus. Btw semua yang saya tulis barusan gak untuk ditiru ya! Kalopun mau niru ya siap-siap tanggung resiko kayak yang udah saya alamin. Yah sukur-sukur kalo gak kenapa-napa.. Pokoknya pinter-pinter liat peluang, selama trayek bus ini masih yang termurah, kita tetep hati-hati, gak ada polisi dan Jasa Marga, semua aman mudah-mudahan. Eh Pokoknya Don’t Try This At Home, or Road, or where ever.. 😛

Semalam pulang-pulang saya langsung buka laptop, sebelum ngoding (cailah ngoding!) saya ngetik dulu apa yang tercurah di kepala tentang apa yang udah saya alami selama 6 tahun ini yang berkaitan dengan pengalaman naik ini bus. Kenapa jadi throwback gini ya? Yahh mungkin gara-gara tadi sepanjang jalan di dalam bus dengernya lagu lawas Koes Plus, Novia Kolopaking, Pance Pondaag, dan Dewi Yul. Walaupun saya bukan generasi 70an, mau gak mau lumayan hapal lah lagu-lagunya secara inyak dan ayah kadang suka nyanyi ini lagu-lagu. Emang lah lagu lawas gak ada matinya, selalu jadi andalan para supir bus antar Kota antar Propinsi. Daripada penumpang mati gaya gak tau ngapain, mending ngelamunin kisah-kisah lama sambil dengerin lagu-lagu lawas yg melankolis haha… Ya apa iya?!

Btw nih ketemu lagu-lagu yang kemarin saya denger… Selamat ngelamun! Xixixi (ketawa taiwan)