We grow bigger as they grow older

Memori-memori klasik ini gak akan pernah luntur…

ketika inyak mengantar kami pergi sekolah dengan menggunakan vespa. aku dan incut di jok belakang, sedangkan andy si anak bawang berdiri di posisi belakang setang. begitu setiap hari sejak kami SD sampai awal masuk sekolah menengah.

ketika ayah memalu kayu-kayu kualitas bagus, yang cukup berat, untuk membangun ayunan, gantungan untuk berolahraga, pondok/jambo di depan rumah untuk kami, atau ketika ayah bereksperimen menciptakan akuarium yang senyawa dengan tiang-tiang di tengah taman, begitu detilnya sampai-sampai sudut-sudutnya diukir, diampelas halus, dan dicat, dan segala macam bentuk kreativitas ayah lainnya.

ketika bunda maneh dengan segala lelucon dan kelincahannya yang selalu berhasil membuat seisi ruangan tertawa, dengan segala kritik dan nasehatnya yang pedas tapi benar dan untuk kebaikan, dengan keuletan dan kesigapannya mengerjakan segala sesuatu, tak bisa berlama-lama, harus cepat-cepat supaya waktu untuk beristirahat lebih banyak.

ketika setiap bundacut datang selalu tercium aroma kesegaran, bunda yang paling fresh diantara bunda-bunda lainnya. tiga kata yang menggambarkan kehadiran bundacut : independen, harum dan classy. bunda yang paling gak neko-neko, dan setiap pulang dari suatu tempat selalu membelikan kami oleh-oleh, baju, boneka, dompet, tas, gelang mutiara.

ketika wa mencium kami dengan cara menggesek seluruh pipi kami, tidak cukup sebelah tapi kedua belah pipi kena gesekannya. setiap kami berlibur ke rumah wa kami selalu dimasakkan kue-kue dan masakan yang enak-enak, yang wajib ada setiap pagi baru bangun tidur adalah kue pinungkuik dan beberapa kue lainnya ditemani teh dan kopi panas. selalu seperti itu.

ketika setiap pagi bundanyak memasak apam ijo yang ditepuk-tepuk pati santan di atasnya, begitu wangi dan rasanya pas tidak terlalu manis. kami selalu kesana setiap pagi ditugaskan oleh inyak untuk beli apam ijo itu, untuk bekal jajan kami ke sekolah (kalo gak salah TK atau SD). setiap kami ke rumah bundanyak pagi-pagi, bundanyak selalu di teras samping rumahnya sedang memasak apam ijo itu.

 

mereka orang tua kami. orang tua-orang tua terdekat kami yang mengasuh sedari kami lahir. selalu seperti itu di dalam ingatan. meski hari ini mereka agak berbeda. tidak seperti dulu lagi.

inyak harus selalu diantar kemana-mana, tidak berani mengendarai motor lagi.

ayah kegiatannya sekarang lebih sering siram-siram tanaman saja.

bunda maneh mengiris bawang saja butuh konsentrasi penuh dan proses yang lama karena harus memfokuskan pisau yang bergetar mengikuti getaran tangannya.

bundacut membutuhkan tongkat dan orang di sampingnya untuk memastikan kestabilannya berjalan.

wa sudah tak sanggup memasak lagi.

bundanyak telah tiada beberapa tahun yang lalu.

 

setahun 7 bulan sudah  kepulanganku ke rumah. dan butuh waktu lama bagiku untuk mencerna semua perubahan ini. yang bagiku perubahan ini sungguh drastis. butuh waktu yang tak singkat untuk membuatku berinisiatif lebih. situasi-situasi dimana ayah dalam hujan yang dahsyat harus cemplung ke kolam untuk membetulkan mesin penyedot air lalu besoknya sakit demam dan flu parah 3 hari 3 malam, situasi dimana inyak tiba-tiba terduduk dan berkeringat banyak sampai pucat, situasi dimana bunda maneh bergetar-getar tangannya menyendokkan lauk nasi, situasi dimana bundacut kehilangan keseimbangan ketika berjalan di permukaan yang datar…

situasi-situasi ini yang membuatku tercenung. berfikir sejenak, mencerna situasi agar mampu menerima kenyataan, bahwa mereka tidak sesempurna dulu lagi, bahwa sekarang tidak seperti dulu lagi…

refleksi memori ini membuatku menyadari bahwa sudah tiba masanya…

kita yang harus lebih banyak menumbuhkan inisiatif. kita yang harus terlebih dahulu menawarkan. kita yang harus lebih banyak berkorban dan mengalah. kita yang harus selalu siap siaga menghadapi apapun yang terjadi. kita yang harus lebih peka terhadap apapun, kita yang harus mengasah gerak refleks dan mengutamakan kecepatan. kita yang harus lebih sering maklum, dan kita yang harus selalu memaafkan…

kita yang harus menanamkan di lubuk hati kita yang terdalam, untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. untuk diri kita sendiri. untuk orang tua kandung kita. untuk orang tua-orang tua terdekat kita, yang turut mengasuh kita sedari kecil.

meski kita belum bisa membalas segala yang mereka berikan kepada kita, setidaknya semoga keberadaan kita di sisi mereka meringankan beban mereka.

 

 

Anna Meutia.
13-14 des 2017 (selama 2 jam, dari jam 11 malam sampai jam 1 dini hari)
-catatan di tengah malam buta, yang waktu ini harusnya dihabiskan untuk mengerjakan tugas mulmed dan proposal tesis. tapi sekelebat memori masa kecil menyeruak ingin ditumpahkan.

Advertisements

Baru maen instagram

Tia, payah kita cari foto inyak yang bagus satu. Untuk dipasang di ig. Yang bagus dikit muka inyak.

😑

Ini banyak kali orang yang kecewa, sudah dia ikuti inyak, tapi inyak gak ikuti dia balek.

😐

I:Ini kalo kita cari nama orang, dia tau kalo kita liat ig dia?

A:Tergantung, kalo inyak sukai fotonya, atau inyak ikuti dia, ada pemberitahuan di ig dia.

I:Oh jadi kalo cuma liat-liat aja gak tau kan.

A: iya 😑

Kepo tak mengenal usia ternyata.

Unluckiest Month Ever

Satu.

Laptop yang sudah menemani sejak 2009 baru kali ini bertingkah dan menyebabkan hard disk internalnya tak dapat diakses. Well, ketika dulu baterenya mulai soak, chargernya mulai kontak2, engselnya patah, atau LCD nya udh bergaris sedikit,gak dianggap bertingkah karena masih fully function alias masih dapat dimanfaatkan dengan sangat baik, masih dapat memenuhi tugasnya dengan luar biasa excellent 😂😁👍. 

Awalnya kupikir error ini cuman sementara, tp beberapa kali restart tetap tak bisa booting. Akhirnya berbekal live usb linux dan windows, saya mencoba recovery si windows di hdd laptop ini. Hasilnya? Nihil. Malahan muncul layar  “Your PC needs to be repaired”. 

Pada saat itu saya masih positive thinking dan beranggapan bahwa windows nya saja yang tidak dapat diakses, tapi data-data penting yang ada di partisi lain di hdd itu masih bisa diakses. Jadi usaha yg terlintas di pikiran saya pada saat itu ialah dengan membeli hdd eksternal sebagai wadah penampung isi hdd internal saya ini. Lalu tanpa pikir panjang saya tarik uang dan langsung ke toko komputer. 

Dua. 

Harddisk eksternal seharga 850ribu dan casing untuk hdd internalnya seharga 80ribu sudah dibeli. Pulang ke rumah siap untuk pindahkan data. Eh ketika dicoba ternyata hdd internal tak terdetect! 

Beragam cara dicoba lagi untuk seenggaknya mendeteksi si hdd internal, kadang cara yg sama dites sampe lebih dr 10x. Saya menyerah, dan akhirnya bawa ke servis komputer. Lima toko yang saya singgahi semuanya geleng2 kepala. Semuanya menolak bahkan untuk mencoba. Karena dari kasus2 yg pernah mereka tangani yg sudah2, tak ada cara untuk recover data pada hdd yg tak terdeteksi. Ada satu toko yang kasih pencerahan, disini gak ada servis yg bisa balikin data dengan kasus begini. Katanya, solusinya kirim ke servis yg di surabaya, itu bayar 2,5juta per 200GB, itu belom dengan beli hdd baru untuk pindahin datanya 😥. Ada lagi servis yang bilang kalo mau data di hdd itu kembali musti ganti board. Cari board hdd dg spec yg persis sama dengan hdd kita yg rusak ini, untuk kasus saya cari hdd internal WD 320 gb. Itu sama aja kayak nyari jarum dalam jerami 😰. 

Sehingga kesimpulannya hasilnya nihil lagi. Data di hdd internal tak bisa direcover. Kalo tau begini kan mending beli hdd internal aja. Hiks. Keluarlah lagi duit beli hdd internal 500 gb seharga 680ribu. 

Sampai disini, kesialan tentang laptop berakhir. Laptop udah berfungsi dengan normal kembali. Alhamdulillah. 

Tiga. 

Kehilangan uang 100ribu 😭 setelah pengeluaran yang warbiasah sebelumnya itu… Berat… 

Ceritanya dikasih duit bekal untuk ditinggal jauh (macam betol aja). Walaupun cuman 100ribu, nominal itu amat sangat teramat berharga buat saya yang udah bocor banyak kemaren-kemaren. 

Empat. 

Hilang lagi duit 50ribu dikala mau membayar bensin. Ceritanya udah ngisi full tank, pas rogoh2 kantong tas kok duit yang diharapkan terlipat rapi disitu jadi tak ada.. Sedangkan orang-orang pada ngantri di spbu itu tapi saya gak maju-maju. Akhirnya terpaksa kumpulin duit receh buat kasih ke abang spbu. Tapi nominalnya pun tak cukup. Terpaksalah ngutang dulu 😭. Duit yang diutangin sih tak seberapa, tapi malunya itu loo.. Udah isi minta yang full, tapi duitnya tak dee huaaa 😩

Jadiii apa yang bisa dipelajari dari keempat kesialan beruntun di bulan ini?? 

1. Selalu backup data penting di beberapa tempat, entah itu hard disk eksternal, flash disk, atau cloud seperti google drive, dropbox, one drive, mega sync, dsb dsb. Jadi kita selalu siap ketika data di satu tempat hilang, ada backupnya di tempat lain. Kalo kena kejadian begini kan sedih juga hilang foto2 lama jaman masih polos-polosnya, foto2 kenangan lainnya, atau data penting kerjaan. 

2. Belilah dompet, anna. Udah sekitar 8 tahun kamu gak pake dompet. Pernah punya dompet pun karena dikasih. Hadeh, gak modal banget si. 

Marilah kita menata apa-apa dengan lebih baik.. Duit dan data, perbanyaklah dan simpanlah pada tempatnya.. 

Untuk hidup yang lebih baik! 

Ready for marriage

Tolong, ini bukan postingan galau.

Hadeh, udah lama gak pernah ngepost, postingannya beginian hahaha.

Jadi begini, tadi tu sebenarnya buka laptop, buka word, buka browser, tujuannya mau nyari bahan untuk buat proposal. Yah seperti biasalah, godaan sebelum bertugas, pasti melipir ke sosmed sana sosmed sini. Lumayan buat nambah-nambah info orang-orang sekitar, cuman patroli doang, palingan ngelike, ngelove, udah. Jadi tau si ini udah nikah, si anu udah tunangan, si itu anaknya udah dua, dsb dsb.

Kadang mikir orang-orang berani banget untuk ngambil langkah besar dalam hidupnya. Karena sampai sekarang, jujur, saya belum masuk golongan yang mupeng atau baper ngeliatin orang-orang berubah status. Saya lebih ke “woooh hebat” ngeliat keberanian teman-teman ini untuk take a big leap dalam hidup mereka.

Untuk usia saya yang udah 26 tahun 6 bulan ini *detil ya, gak penting kali* harusnya udah ada pikiran ke arah sana. Tapi kok ya sampe sekarang saya gak ngerasa apa-apa ya, mati rasa apa ya, apa yang salah ya sama pikiran saya. Tiba-tiba terloncatlah pikiran ini sehingga menggerakkan tangan mengetik keyword “why do i feel not ready to get married”. Keluarlah hasil pencarian, artikel teratas judulnya “10 signs you’re not ready blabla”, skip, artikel kedua “9 ways to know blabla”, skip, males baca yang poin-poin gitu, lagi pengen cari artikel dengan analisis mendalam kali panjang kali lebar.

Mata terpaut pada artikel ketiga, judulnya di tab “Marriage: Not Ready? You never will be, Until you marry”, judulnya di artikel “The ‘I’m Not Ready to Get Married’ Trap”. Artikel ini dibuka dengan :

In every age, people say and believe things that aren’t true but somehow become accepted as “conventional wisdom.” The statement “I’m not ready to get married” is a current example.

Judul utamanya, judul kecilnya, kalimat pembukanya sesuatu sekali. Pikiran “saya gak siap” itu sebenarnya gak bener. Yang bener itu “saya gak tau saya siap atau gak kalo saya gak melakukannya”.

Contohnya aja orang jaman dulu, rata-rata nikah di usia yang baru puber bahkan sebelum puber juga banyak. Mereka gak ditanya siap apa gak. Nikah dulu, barulah memantaskan diri. Belajar tanggung jawab, belajar menjadi “pribadi yang sudah menikah”. Semua karena tuntutan, entah itu tuntutan status, lingkungan masyarakat, atau agama.

Sama halnya dengan menjadi orang tua, sedikit sekali yang “siap” untuk menjadi orang tua sebelum memiliki anak. Sebagian besar “siap” untuk menjadi orang tua setelah punya anak. Dipaksa untuk siap, siap gak siap harus siap *di Biologi namanya adaptasi*.

Begitu juga dengan dokter, pengacara, perawat, programmer, profesi apapun, menjadi apapun, akan selalu ada “kali pertama” dalam melakukan segala sesuatu.

Lalu saya mulai teupeh pas baca advice di artikel ini dari Susan Patton yang isinya:

“Find a husband on campus before you graduate. . . . You will never again be surrounded by this concentration of men who are worthy of you.”

Hmm….

Trus katanya lagi, semakin lama menunda untuk “membuat diri siap” maka seseorang akan sampai di satu titik dimana sudah nyaman dengan kejombloannya dan ketertarikan untuk berumah tangga semakin berkurang. Kayak lagunya Kunto Aji sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama aku asik sendiri, lama tak ada yang menemani..rasanyaaaa

Kena peh sama satu paragraf lagi ni

And one more thing: If you’re 25 and not ready to commit to another person, in most cases — even if you are a kind person, and a responsible worker or serious student — “I’m not ready to get married” means “I’m not ready to stop being preoccupied with myself,” or, to put it as directly as possible, “I’m not ready to grow up.” (No job on earth makes you grow up like getting married does.)

Hmmmm lagi…

Lanjuuut… orang-orang gak nikah karena jatuh cinta. Banyak orang yang saling jatuh cinta tapi gak menikah. Manusia menikah karena tuntutan sosial. Manusia memahami mengapa menikah itu lebih baik karena pernikahan akan membawa kesejahteraan untuk lingkungan masyarakat, karena pernikahan memungkinkan sebanyak mungkin individu untuk commit to someone and take care of that person. Dari segi ekonomi, pernikahan dapat meningkatkan pendapatan seseorang. Gaji/pendapatan seorang pria akan meningkat setelah menikah. Mengapa? Karena semakin sedikit waktu dan uang yang disia-siakan, karena ada pasangan yang membantu mengelolanya. Dari sisi pencari karyawan (bos/majikan), mereka juga lebih memilih pria yang sudah menikah. Hmm itu sebabnya kenapa pernikahan itu melancarkan rejeki..

Sepanjang sejarah, pada masyarakat manapun, seseorang menikah bukan ketika dia “siap”, tapi ketika dia sudah sampai “umur menikah” dan diharapkan untuk dapat memikul tanggung jawab sebagai orang dewasa.

Di akhir artikel disebutkan kalau kita ini sedang berada di era yang apa-apa pake perasaan. Bukannya menilik dari segi rasional dan moral, kita malah lebih sering mempertimbangkan perasaan. Kita lebih mengutamakan perasaan dibandingkan aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban. Jadi mungkin yang bisa dipetik dari sekian panjang artikel ini adalah: LAKUKAN SAJA. Jika kewajiban itu sudah sampai waktunya, jika itu baik secara rasional dan moral, maka harus ditunaikan tanpa menunda-nunda. Pada akhirnya, pilihan kitalah yang membentuk pribadi kita. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang akan terjadi pada kita.

In life, behavior shapes feelings. Act happy, you’ll become happy. Act like you’re single, you’ll remain single. Act like you’re ready for marriage, you’ll become ready for marriage. Do it, in other words. Then you’ll be “ready.”

PS: studi kasus “pernikahan” adalah sampel, contoh. Contoh lain yang lebih dekat dari nikah adalah nulis proposal tesis. Kapan bisa selesainya ini proposal kalo gak dibikin-bikin. Kapan saya “siap” untuk maju seminar kalo gak mulai nulis dan memahami dari sekarang. Lakukan, maka kamu akan siap. Lakukan, maka kamu akan bisa.

Okelah, sekian dulu, mayan juga nulis gini 2 jam, niat amat. Sampai jumpa kapan-kapan.

Lakukan “Segala Cara” untuk Dapat Beasiswa

buat nambah wawasan

Scholarship and Career Tips

Ketika saya menulis “segala cara”, benar-benar saya maksudkan semua cara yang mungkin kamu lakukan untuk mendapatkan beasiswa. Yang halal tentunya. Saya tertarik menulis tentang hal ini karena pengalaman beberapa orang dan saya sendiri ketika sedang berjuang untuk mengejar beasiswa. Beasiswanya sebenarnya tidak lari kemana mana, hanya memang rada susah ngedapetinnya. Jadi dikejarlah dengan cara-cara yang tidak biasa.

View original post 997 more words

Pentingnya Mindset Dalam Mengejar Beasiswa

Scholarship and Career Tips

Mindset: A fixed mental attitude or disposition that predetermines a person’s responses to and interpretations of situations. Answers.com

Perburuan saya mencari beasiswa dimulai setelah saya bekerja di sebuah perusahaan tambang asing di timur Indonesia. Saya ingat beasiswa pertama yang saya coba adalah beasiswa dari Australia, yaitu The Australian Development Program. Hanya bermodal keinginan kuat dan kepercayaan diri yang terlalu tinggi, saya mengirimkan lamaran saya tanpa dilengkapi beberapa dokumen yang diperlukan. Itu pengalaman pertama saya, dan hasilnya bisa diramalkan: gagal.

Percobaan kedua, beasiswa Chevening Award dari negara Inggris yang menjadi sasaran saya. Seingat saya, salah satu persyaratan beasiswa ini adalah menulis esai. Dokumen dokumen yang diperlukan sudah saya peroleh. Tetapi untuk urusan esai, wah, saya benar-benar cuek. Esainya saya tulis seadanya tanpa memperdulikan isi tulisan, struktur, dan lain-lain. Hasilnya lagi-lagi bisa diramalkan: gagal deuy!

View original post 1,275 more words