Ready for marriage

Tolong, ini bukan postingan galau.

Hadeh, udah lama gak pernah ngepost, postingannya beginian hahaha.

Jadi begini, tadi tu sebenarnya buka laptop, buka word, buka browser, tujuannya mau nyari bahan untuk buat proposal. Yah seperti biasalah, godaan sebelum bertugas, pasti melipir ke sosmed sana sosmed sini. Lumayan buat nambah-nambah info orang-orang sekitar, cuman patroli doang, palingan ngelike, ngelove, udah. Jadi tau si ini udah nikah, si anu udah tunangan, si itu anaknya udah dua, dsb dsb.

Kadang mikir orang-orang berani banget untuk ngambil langkah besar dalam hidupnya. Karena sampai sekarang, jujur, saya belum masuk golongan yang mupeng atau baper ngeliatin orang-orang berubah status. Saya lebih ke “woooh hebat” ngeliat keberanian teman-teman ini untuk take a big leap dalam hidup mereka.

Untuk usia saya yang udah 26 tahun 6 bulan ini *detil ya, gak penting kali* harusnya udah ada pikiran ke arah sana. Tapi kok ya sampe sekarang saya gak ngerasa apa-apa ya, mati rasa apa ya, apa yang salah ya sama pikiran saya. Tiba-tiba terloncatlah pikiran ini sehingga menggerakkan tangan mengetik keyword “why do i feel not ready to get married”. Keluarlah hasil pencarian, artikel teratas judulnya “10 signs you’re not ready blabla”, skip, artikel kedua “9 ways to know blabla”, skip, males baca yang poin-poin gitu, lagi pengen cari artikel dengan analisis mendalam kali panjang kali lebar.

Mata terpaut pada artikel ketiga, judulnya di tab “Marriage: Not Ready? You never will be, Until you marry”, judulnya di artikel “The ‘I’m Not Ready to Get Married’ Trap”. Artikel ini dibuka dengan :

In every age, people say and believe things that aren’t true but somehow become accepted as “conventional wisdom.” The statement “I’m not ready to get married” is a current example.

Judul utamanya, judul kecilnya, kalimat pembukanya sesuatu sekali. Pikiran “saya gak siap” itu sebenarnya gak bener. Yang bener itu “saya gak tau saya siap atau gak kalo saya gak melakukannya”.

Contohnya aja orang jaman dulu, rata-rata nikah di usia yang baru puber bahkan sebelum puber juga banyak. Mereka gak ditanya siap apa gak. Nikah dulu, barulah memantaskan diri. Belajar tanggung jawab, belajar menjadi “pribadi yang sudah menikah”. Semua karena tuntutan, entah itu tuntutan status, lingkungan masyarakat, atau agama.

Sama halnya dengan menjadi orang tua, sedikit sekali yang “siap” untuk menjadi orang tua sebelum memiliki anak. Sebagian besar “siap” untuk menjadi orang tua setelah punya anak. Dipaksa untuk siap, siap gak siap harus siap *di Biologi namanya adaptasi*.

Begitu juga dengan dokter, pengacara, perawat, programmer, profesi apapun, menjadi apapun, akan selalu ada “kali pertama” dalam melakukan segala sesuatu.

Lalu saya mulai teupeh pas baca advice di artikel ini dari Susan Patton yang isinya:

“Find a husband on campus before you graduate. . . . You will never again be surrounded by this concentration of men who are worthy of you.”

Hmm….

Trus katanya lagi, semakin lama menunda untuk “membuat diri siap” maka seseorang akan sampai di satu titik dimana sudah nyaman dengan kejombloannya dan ketertarikan untuk berumah tangga semakin berkurang. Kayak lagunya Kunto Aji sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama aku asik sendiri, lama tak ada yang menemani..rasanyaaaa

Kena peh sama satu paragraf lagi ni

And one more thing: If you’re 25 and not ready to commit to another person, in most cases — even if you are a kind person, and a responsible worker or serious student — “I’m not ready to get married” means “I’m not ready to stop being preoccupied with myself,” or, to put it as directly as possible, “I’m not ready to grow up.” (No job on earth makes you grow up like getting married does.)

Hmmmm lagi…

Lanjuuut… orang-orang gak nikah karena jatuh cinta. Banyak orang yang saling jatuh cinta tapi gak menikah. Manusia menikah karena tuntutan sosial. Manusia memahami mengapa menikah itu lebih baik karena pernikahan akan membawa kesejahteraan untuk lingkungan masyarakat, karena pernikahan memungkinkan sebanyak mungkin individu untuk commit to someone and take care of that person. Dari segi ekonomi, pernikahan dapat meningkatkan pendapatan seseorang. Gaji/pendapatan seorang pria akan meningkat setelah menikah. Mengapa? Karena semakin sedikit waktu dan uang yang disia-siakan, karena ada pasangan yang membantu mengelolanya. Dari sisi pencari karyawan (bos/majikan), mereka juga lebih memilih pria yang sudah menikah. Hmm itu sebabnya kenapa pernikahan itu melancarkan rejeki..

Sepanjang sejarah, pada masyarakat manapun, seseorang menikah bukan ketika dia “siap”, tapi ketika dia sudah sampai “umur menikah” dan diharapkan untuk dapat memikul tanggung jawab sebagai orang dewasa.

Di akhir artikel disebutkan kalau kita ini sedang berada di era yang apa-apa pake perasaan. Bukannya menilik dari segi rasional dan moral, kita malah lebih sering mempertimbangkan perasaan. Kita lebih mengutamakan perasaan dibandingkan aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban. Jadi mungkin yang bisa dipetik dari sekian panjang artikel ini adalah: LAKUKAN SAJA. Jika kewajiban itu sudah sampai waktunya, jika itu baik secara rasional dan moral, maka harus ditunaikan tanpa menunda-nunda. Pada akhirnya, pilihan kitalah yang membentuk pribadi kita. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang akan terjadi pada kita.

In life, behavior shapes feelings. Act happy, you’ll become happy. Act like you’re single, you’ll remain single. Act like you’re ready for marriage, you’ll become ready for marriage. Do it, in other words. Then you’ll be “ready.”

PS: studi kasus “pernikahan” adalah sampel, contoh. Contoh lain yang lebih dekat dari nikah adalah nulis proposal tesis. Kapan bisa selesainya ini proposal kalo gak dibikin-bikin. Kapan saya “siap” untuk maju seminar kalo gak mulai nulis dan memahami dari sekarang. Lakukan, maka kamu akan siap. Lakukan, maka kamu akan bisa.

Okelah, sekian dulu, mayan juga nulis gini 2 jam, niat amat. Sampai jumpa kapan-kapan.

Advertisements