Hal yang dibenci Part 1

Lagi-lagi kali ini saya mosting kilat dari hape. Mumpung lagi ingin mencurahkan apa yg ada di kepala. Kalo dinanti-nantiin bakal gak pas moodnya.

Sekarang saya lagi ada di bus primajasa menuju ke Jakarta. Tadi pertama naik bus ini (seperti biasa dari atas tol) saya liat kok tumben bgt ini bus rada banyak kursi yang kosong. Alhamdulillah rejeki bisa duduk, biasa2nya mah kalo udah sore menjelang maghrib gini saya selalu kebagian berdiri. Mayan banget kan 2 setengah jam berdiri dari Bandung-Pasar rebo. Berotot brotot lah itu betis. 😛

Jadi saya kebagian kursi kosong keempat dari depan. Itu memang kursi kosong pertama yg saya liat, sisanya di belakang-belakang. Sengaja pilih kursi itu karena berdasarkan pengalaman, makin ke belakang otomatis makin dekat ama pintu Smoking Area, yang mana si kenek suka keluar masuk pintu itu. Otomatis asap rokok pun ikut masuk ke area ber-AC, dan yang pertama kali menghirup si asap itu ya orang2 yang kursinya paling dekat sama pintu. Jadi tadi itu saya merasa cukup beruntung dapet kursi yang lumayan di depan.

Singkat cerita, sepanjang jalan saya cukup nyaman, walaupun kebagian kursi yang bertiga dan saya di posisi paling pinggir area lalu-lalang. Lewat rest area kedua (saya lupa kilometernya) mulailah tercium bau-bau gak enak. Bau apakah itu? Apalagi kalo bukan ASAP ROKOK. 😬😬😬

Sebenarnya, saya orang yang cukup toleran dengan asap rokok. Saya masih bisa berada di satu ruangan dengan org yg sedang merokok, asalkan bukan ruangan tertutup. Beberapa anggota keluarga saya adalah perokok-ada yang masih, ada yang udah insap-. Seringnya perokok2 di sekitar saya ini cukup tau diri dengan tidak merokok di tempat2 yg gak semestinya. Tapi yang sekarang saya alamin ini sumpah saya gak tau kepalanya ditaroh dimana.

Saya tersadar ketika kepala mulai nyut nyut dan sedikit mual (padahal saat itu sy gak ngetik, cuma liat jalan aja). Sebelum kepala nyut nyut emang udah kecium bau asap, tapi positive thinking mungkin keneknya lalu lalang terus ke smoking area. Tapi lama-lama baunya makin intens, gimana gak? dengan adanya AC, pendistribusian asap rokok ini makin merata. Asli saya kesal banget, jelas-jelas ini bus ber-AC, smoking area udah disediakan, saya noleh ke belakang berkali2 memastikan pintu pembatas smoking area ditutup, dan memang jelas ketutup rapat. Yaudah fix ini apalagi kalo bukan orang yang di ruangan ber-AC yang merokok, mana saya gak bisa liat orangnya. Paling parah kalo ternyata pak supir nya malah yang merokok 😦😦😦.

Udah gitu ini bukan pengalaman pertama saya pula, udah berkali2 saya ‘terperangkap’ dalam asap rokok BUS ber-AC. Paling benci kalo ada orang yg merokok di ruangan ber-AC. Kalo udah gini dalam hati ni udah saya kata-katain itu orang. Huh, kesal banget. Pengen ngasih dubsmash ini:

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

P.S1: Sebenarnya saya tipe yang mabok perjalanan kalo sambil baca atau ngetik di dalam kendaraan yg sedang berjalan. Tapi keinginan untuk menuangkan kekesalan ini jauh lebih kuat dari mabok itu sendiri. Tadi pas nulis title postingan ini saya udah mual-mual. Eh sekarang mualnya udah nguap entah kemana.

P.S2: P.S1 ditulis baru kelar paragraf 3, karena awal paragraf 4 produksi air liur makin deras, yang mana artinya saya hampir m*ntah tapi ditahan2 sehingga ngetiknya dihentikan dulu. Jadi mual yang nguap entah kemana itu cuma bertahan selama 3 paragraf. Emang pada dasarnya saya gampang mabok kalo baca/ngetik di kendaraan yg sedang jalan.

Semoga lain kali saya gak seruangan ber-AC sama perokok lagi. Aaamiiinnn..

Nonton Gratis Film-Film Jerman di XXI Ciwalk

Banner German Cinema

Ini postingan kilat dibikin dari mobile.

Kemarin saya dan salah seorang teman cukup beruntung ketemu info gratisan ini. Kapan lagi ya kan dapet kesempatan nonton gratis di bioskop, ciwalk pula, dan bisa berkali-kali gak dibatesin hihihi.

Berawal dari si temen yang baca koran pikiran rakyat -yang juga gratis- didapet dari pameran ICT di kampus. Sekilas cerita, pagi jam 9an kami ke ICT Expo yang diadain Telkom University tanggal 10-12 September kemarin. Pameran ini dapat dikunjungi tanpa perlu merogoh saku alias gratis untuk semua kalangan. Disana cukup banyak booth pameran, mulai dari perusahaan startup hingga yang cukup meraksasa. Selain pameran ada pula rangkaian talkshow dan seminar yang diadakan di panggung utama. Tak ketinggalan beragam doorprize yang diberikan oleh panitia maupun masing-masing booth.

Singkat cerita, sepulang dari pameran si temen ini -sebut aja Syifa- berkutat dengan semua brosur dan media cetak hasil comot dari pameran. Semua yg menarik dia baca. Hingga terhentilah dia pada koran Pikiran Rakyat di halaman khusus yang menampilkan timeline acara-acara yang sedang digelar di Bandung dalam seminggu ini. Di halaman tsb tercantum ICT Expo Telkom tadi, Bazaar hasil kebun lokal, Jermanfest, dan beragam acara lainnya. Diantara semua agenda itu yang paling menarik perhatiannya adalah Nonton gratis dari Jermanfest secara dia ini pernah les di Goethe Institut. Langsung lah Syifa ngajak saya kesana yang dengan jelas saya sambut riang gembira. 😀

Syifa ngajaknya jam setengah 3 buat nonton marathon 3 film sekaligus yang jam 5,7, dan 9. Kita kelar siap2 jam 3, asumsi sampe sana jam 4 supaya bisa nonton yang jam 5. Tapi apalah daya manusia hanya bisa berencana, yang menentukan adalah aplikasi gojek. Huft. Satu setengah jam berkutat dengan reservasi via mobile app demi promo 10ribu. Akhirnya berhasil juga walau sampe ciwalknya telat sekitar 20 menit. Film untuk jam 5 sudah dimulai dan tiket pun udah sold out. Akhirnya kami mengantri untuk jam 7 dan 9.

Sambil menunggu film dimulai, dalam waktu kurang lebih 1 jam kami cari makan. Tercetuslah ide untuk coba makan di warung yang lagi ngehits itu, apalagi kalo bukan Warunk Upnormal yang salah satu cabangnya berada di jalan yang sama, jalan Cihampelas. Beres makan masih ada waktu sekitar 30 menit untuk balik ke Ciwalk jalan kaki n.n secara jalan Ciwalk searah, itung-itung olahraga habis makan.

Sesampainya di bioskop, kami masih harus nunggu buat masuk. Seumur-umur saya nonton bioskop kayaknya baru kali ini ngeliat bioskop isinya membludak begitu. Sampe ada waiting list pula. Gak ada satu seat pun yang kosong. Namanya juga the power of gratisan, wajar penuh begitu.

Film jam 7: Die Erfindung der Liebe. Kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris jadi The Invention Of Love. Bercerita tentang sepasang kekasih miskin yang si wanitanya menyuruh si pria untuk menikahi wanita kaya raya yang sekarat agar mendapatkan harta warisan setelah ia meninggal. Film ini sebenarnya masih dalam proses pembuatan ketika salah satu aktornya yaitu Maria Kwiatkowsky meninggal dunia. Sehingga dalam proses penyelesaian film ini si aktor digantikan oleh aktor lain. Saya sebagai penonton dibuat cukup berpikir berkali-kali karena kemunculan aktor asli dan aktor pengganti secara bergantian di scene yg berdekatan. Bahkan di akhir film pada scene terakhir si aktor asli dan aktor pengganti berada di satu frame.

Film jam 9 : Zeit der Kannibalen. Yang diterjemahkan Age of Cannibals. Bercerita tentang persaingan bisnis antara konsultan perusahaan.

Kedua film yang saya tonton kemarin punya 2 kesamaan : sama-sama bikin mikir hahaha. Apa semua film Jerman begitu ya?

Selesai menonton waktu menunjukkan pukul setengah 11 malam. Keluar dari bioskop kami tak menyangka dapat doorprize dari Jermanfest. Selain itu Syifa juga diberikan goodie bag secara cuma-cuma dari Goethe Institut yang isinya notes, pulpen, gantungan kunci dan pin.

image

Bagi yang di Bandung berminat nonton gratis ini, masih ada waktu kok sampai besok. Di XXI Ciwalk jam 5 sore, 7 dan 9 malam. Ayok diserbu!

Rangkaian acara nonton gratis ini dinamai German Cinema. German Cinema diputar di kota-kota besar di Indonesia dari tanggal 11-20 September 2015.

image

German Cinema merupakan salah satu dari rangkaian acara Jerman Fest yang diselenggarakan dari bulan September-Desember 2015. Untuk info lebih lanjut langsung aja ke websitenya http://jermanfest.com

PS: Untuk postingan selanjutnya saya akan review mengenai Gojek dan Warunk Upnormal.