Benar dan salah

Sering berkutat dengan problem BENAR dan SALAH, yang patut dipertanyakan adalah :

  1. Darimana asal muasal munculnya kata BENAR dan SALAH? Apa itu?
  2. Bagaimana bisa mengklaim sesuatu itu BENAR atau SALAH?
  3. Pada kenyataannya banyak yang melakukan hal yang SALAH tapi hidupnya tetap lancar dan bahagia, di sisi lain yang terus-menerus berada di jalur yang BENAR hidupnya justru stuck tanpa perkembangan. Mengapa bisa?

Saya mendapati materi BENAR dan SALAH itu di pelajaran Logika Matematika. Beberapa aksi diklaim benar atau salah, dikombinasikan dengan operasi logika AND, OR, NOR, NAND, etc.

Whatever, I don’t really get it. Logmat saya cuma dapat C. Dan yang berhasil saya simpulkan adalah BENAR dan SALAH itu hanyalah permainan logika.

Hidup harus berdasarkan logika agar terarah, tapi apakah melulu soal logika saja?

Sebenarnya untuk apakah akhir pencarian hidup kita? Untuk menemukan KEBENARAN ataukah KEBAHAGIAAN?
Banyak manusia yang melakukan kesalahan hingga akhirnya menyesal. Tapi tidak sedikit pula manusia yang menyampaikan kebenaran yang pada akhirnya juga mengalami penyesalan dan ketidakpuasan.
Nah, BENAR dan SALAH itu tidak menjamin valid ketenangan dan kebahagiaan hidup kita kan?

Menurut perspektif saya, tidak ada BENAR dan SALAH di dunia ini. Yang ada hanyalah PANTAS atau TIDAK PANTAS. LAYAK atau TIDAK LAYAK.
Kepantasan dan kelayakan melakukan sesuatu hanyalah klaim sesaat yang bersifat sangat subjektif. Ya, subjektif, depend on, tergantung.
Itu semua soal SIAPA, DIMANA, KAPAN. SIAPA yang melakukan? DIMANA dia lakukan? KAPAN dia melakukannya?
Bukan soal APA yang dikerjakannya? Karena, APAPUN bersifat MUNGKIN untuk dilakukan (hence, many people say Everything is Possible), yang menjadi masalah hanya PANTAS atau TIDAK dilakukan oleh si X pada masa Y di tempat Z, yang menggiring pada pengambilan kesimpulan : yang dilakukan sudah BENAR atau SALAH (menurut perspektif perorangan).

Kultur di dunia ini tidak seragam. Karena itulah ada peribahasa “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.”. Meski saya pernah mendengar segelintir orang yang berkata “Ah itu namanya gak konsisten”, you know, day by day you’ll realize that “The only constant is change.”. The only way to live is to change, for your better future. Konsisten untuk terus berubah menjadi lebih baik.

Yaaah hidup ini tidak melulu soal logika kan, tapi pake perasaan— yang keduanya sama-sama muncul dari proses yang berlangsung di otak.
Dan saya menemukan kesimpulan lain : jaga dan rawatlah otakmu dengan baik, agar kamu hidup bahagia.

“Watch your thoughts, for they become words.
Watch your words, for they become actions.
Watch your actions, for they become habits.
Watch your habits, for they become character.
Watch your character, for it becomes your destiny.”