Kentut dan (maaf) Pantat

Dalam seminggu ini saya berhasil menamatkan buku Naked Traveler karangan-nya Trinity.

Ada 2 biji : sampul biru dan sampul ijo.

Sampul biru yaitu buku pertamanya, yang ijo buku keduanya.

Di buku itu, ada sebuah chapter yang berjudul Kumbang. Apa(eh, ato siapa)kah Kumbang itu?

Kumbang adalah soulmate-nya Trinity, kadar kedekatan batinnya sangat pekat sampe-sampe nerima undangan nikahan pun tertera nama : buat Trinity dan Kumbang, padahal Kumbang bukan pacar apalagi suaminya Trinity. Lho, lalu siapakah Kumbang itu?

Kumbang adalah nama sebuah mobil Kijang jaman baheula yang bentuknya masih kotak. Si Trinity ini piara Kumbang selama beberapa tahun hingga akhirnya si Kumbang lumpuh total dan akhirnya dijual (saya penasaran, siapa yang mau beli?). Kumbang dideskripsikan seperti punya nyawa. Dia sering sekali mogok pada saat yang tepat, misal saat dia dipakai buat pergi ke kondangan dimana temen-temennya Trinity numpang disitu dengan dandanan yang udah oh-wow-banget. Akhirnya? Dengan dandanan full mereka terpaksa mendorong si Kumbang yang mogok -___-. Di lain kesempatan pas Trinity kencan lagi-lagi ada masalah gara-gara Kumbang gak bersahabat dan ‘terlihat’ cemburu. Lagian si Trinity juga terlihat memanfaatkan Kumbang, sering dipake tapi jarang diservice, wajar juga sih, sebagai mbak-mbak kantoran biasa yang hobi backpacking, Trinity pasti mentingin biaya jalan-jalan daripada biayain idup si Kumbang secara kontinu. Biaya si Kumbang yang sekalinya ‘nyalon’ itu jauuuhh lebih mahal dari biaya nyalon majikannya.

Simpul hubungan yang aneh antara Trinity dan Kumbang sungguh menggelitik pikiran saya. Saya menemukan kesamaan dengan beberapa ‘benda’ di kehidupan saya. Ada banyak sekali hal dalam hidup saya yang ngeklik banget dengan kondisi Trinity dan Kumbang, bedanya Kumbang intense berinteraksi (alias protes langsung) dengan Trinity, atau sebaliknya, Trinity langsung bentak-bentak/rayu Kumbang di saat-saat kritis. Nah kalo saya cenderung diam dan tak mau berinteraksi. Saya lebih memilih untuk mikir sendiri, kalo udah nemu solusinya baru diungkapkan masalahnya dan solusinya sekaligus.

 

Salah satu contohnya adalah antara saya dan pelajaran-pelajaran saya. Persis seperti Trinity dan Kumbang yang memiliki hubungan yang aneh, begitu juga saya dengan pelajaran-pelajaran saya. Trinity mendeskripsikan hubungan mereka seperti kentut dan pantat, membenci dan mencinta sekaligus pada saat yang bersamaan. Nah itu jugalah yang saya rasakan. Saya cinta belajar, tapi saya juga membencinya. Terlalu complicated (atau emang sengaja didramatisir -_-) dan rekursif, looping forever dah kayaknya. -_____-

 

Kayak lagu Slank : Oh ai mis yu bat ai het yuuuuuuuu my subjectssssssss

 

Tadi nemu di sebuah website, ada quote dari Albert Einstein : “Insanity is doing the same thing over and over, but still expect different result.”

 

Hehehe, saya emang harus coba cara yang baru, jangan melulu diam, harusnya kayak Trinity yang langsung express segala yang gak ngena di hati ke objek yang berhak. Diskusi, berinteraksi, tingkatkan jam terbang, dan kalo perlu coba siksa si objek atau buang jauh-jauh (kayak si Kumbang yang ban-nya copot -__- mengenaskan sekali—-bisaaaaaa ban copot pas lagi ngendarain  pula!). Biarin aja tersiksa awalnya, yang penting manis akhirnya. Okelah, jangan mendam-mendam lagi, just express everything. I need to learn more and more and more and more. I still have time, just keep up having good or even better great progress.

Mengutip potongan dialog di Film Kungfu Panda : Do the best for today, because that’s why it’s called “present”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s