Chicken Katsu

Di depanku terhidang 2 piring nasi hangat, semangkuk gulai ayam, sepiring kecil teri balado, gulai daging sapi, dan sepiring penuh chicken katsu.

Kuambil sepotong chicken katsu ke dalam piring nasiku.

Gigitan pertama rasanyaa… enak. Udah lama gak makan chicken katsu.

Tiba-tiba …

“Kak, enak gak? Itu opung* ku yang bikin lho”   *opung=nenek(bahasa batak)

“Iya, emang bikinan opungmu selalu enak, makanya aku selalu makan disini.”

“Kalo tau itu namanya apa?”

Dia pikir saya sebegitu ndeso-nya sampe-sampe gak tau chicken katsu -_-

Masih sambil mengunyah, “Chicken katsu kan?”

“Bukan.”

Eh salah ya, ternyata saya emang ndeso.

 

“Itu katsu babi tau.”

 

WWHHHHAAAAAAAAAAATTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!!!!!!

Dengan mulut terbuka lebar masih ada isinya. Mata melotot menatap si Jojo. Kemudian….

 

“Huwakakakakakakakaka”. Dia ngakak luar biasa.

 

“Eh Jo, kamu jangan becanda Jo. Ini chicken katsu kan?”

“Yang coklat sih ayam, tapi yang putih babi.”

Antara percaya dan tidak, saya nanya ke bibi yang ada di dapur.

 

“Itu ayam neng, si Jojo mah dipercaya.”

 

Sial. Kali ini saya yang dikerjain.

Tanpa mempedulikan si Jojo yang teramat lahap menyantap makanannya, saya melanjutkan makan.

 

“Kakak pasti gak pernah liat babi jadi makanan kan?”

“Gak.”

“Enak lho, yang banyak lemaknya.”

“Oh gitu. Btw kalian makan babi pasti setahun sekali kan? Pasti Cuma pas natalan doang kan?”

“Gak ah, sering kok. Kemaren-kemaren juga ada. Kakak aja yang gak nyadar.”

 

Oh nasib banget dapat anak didik begini.

Saya dan Orang Gila

Pulang telat. Jam 11 malam. Dengan sepeda.

 

“Vi, bukain pintu pagar dong. Maap ya gan mengganggu tidur lo.”

 

Sambil menunggu Vivi yang lumayan lama keluar, saya senderan ke tembok rumah tetangga. Dengan mata menatap ke hape, saya konsentrasi memecahkan game sudoku yang kemaren belom selese-selese. Dari sebelah kiri saya terasa ada bayangan orang berjalan mendekat.

 

Ah, paling ada warga yang mau lewat.

 

Saya masih tetap berkonsentrasi ke hape sampai ‘si warga’ melongok melewati tembok yang saya sender. Perasaan saya gak enak, ‘warga’ ini kok lama banget melongok nya, kalo mau lewat kenapa gak lewat aja, ngomong ‘Punten…’ gitu.

 

Konsentrasi saya buyar. Saya menoleh ke kiri. Kira-kira berjarak 1,5 meter dari tempat saya bersender, berdiri sesosok makhluk dengan rambut mirip Mbah Surip (Cuma lebih awut-awutan lagi) serta pakaian compang-camping menatap ke arah saya. Dengan disinari lampu jalan berwarna kuning suram itu, saya dan dia saling menatap selama sepersekian detik.

 

Dag. Dig. Dug.

 

Jantung saya berdetak kencang.

Ini bukan cinta pada pandangan pertama. Ini ekspresi ketakutan.

Saya ketakutan. Banget.

Sepersekian detik yang rasanya lama sekali itu mampu membuat saya mengucurkan keringat dingin.

Di detik berikutnya, entah ada angin apa, saya dan dia sama-sama membalikkan badan. Menjauh.

 

Masih dengan jantung dag dig dug, saya berusaha bersikap seolah tidak melihat apa-apa.

Tapi aneh, ‘si warga ini’ gak nongol-nongol lagi. Ketika saya mencoba melongok ke arah dimana dia berasal, yang saya lihat dia sudah menutup diri di balik kardus TV yang agak besar. Di depannya ada api unggun.

 

WOW. Kayaknya dia lagi camping. Hehehe

 

Beberapa detik kemudian akhirnya si Vivi datang juga. Dan saya cerita ke Vivi. Dia antara khawatir dan mau ketawa. -____-

 

Saya jadi sadar satu hal tentang kejadian barusan. Tadi bukan Cuma saya yang menjauh. Dia  juga.

Mengapa tadi saya menjauh? Karena saya ketakutan, tapi berusaha cool dan tenang.

Mengapa dia menjauh? Langsung meringkuk dibalik kardus pula.

 

Hm, kayaknya bukan Cuma saya yang ketakutan. Tapi dia juga.

 

Saya bingung, harus bangga atau terpukul.

Tapi yang pasti, saya bersyukur 🙂

Saya dan Jojo

“Jo, kamu tau gak Thomas Alva Edison?”

 

“Penemu bohlam yang terkenal itu kan?”

 

“Iya. Dia itu punya kesamaan sama kamu.”

 

Dengan muka sumringah dan mata berbinar-binar Jojo bertanya pada saya “Oh ya, apanya yang sama????”

 

“Sama-sama dikatain sama gurunya ‘Lemot. Idiot’. ”

Seketika muka Jojo langsung berubah datar dan matanya menatap saya dengan tajam. Melihat perubahan ekspresinya, saya langsung tertawa ngakak. Sebenarnya saya Cuma niat ngisengin Jojo. Soalnya saya selalu pusing luar biasa tiap ngajarin dia. Dia gak pernah mau serius. Tiap saya ngajarin, tangannya selalu mencet-mencet BB, atau benerin jam, atau foto-foto sana-sini. Berkali-kali saya bilang “Eh Jo, kakak pulang ya. Kamu gak niat belajar.” barulah dia menghentikan ‘kegiatannya’, tapi Cuma beberapa detik. Selanjutnya? Mulai lagi seperti tadi. Looping -__-.

 

Melihat saya tertawa ngakak, Jojo ngomong”Puaaassss????”

 

Muka saya kembali datar. “Gak, biasa aja.”

 

Jojo yang jadi agak pundungan membuat saya agak sedikit merasa bersalah. Supaya agak meredakan rasa bersalah saya, saya mencoba menyampaikan sisi positif dari ‘mirip Thomas Alva Edison’ tersebut.

 

“Kamu tau gak Jo, Edison itu kan di sekolahnya nilainya jelek terus, ibunya udah berkali-kali dipanggil sama gurunya. Sampai akhirnya si guru nyerah dan mengeluarkan Edison dari sekolah karena menganggap Edison tidak punya masa depan. Gurunya berkali-kali bilang Edison lemot. Edison idiot. Tapi edison gak nyerah. Ibunya juga gak putus asa dengan kondisi anaknya yang seperti itu. Edison terus-menerus mencoba hingga akhirnya dia menemukan banyak sekali penemuan-penemuan yang berguna bagi kehidupan.”

 

“Makanya, kamu juga gitu. Gak masalah orang lain bilang kamu lemot, kamu idiot. Yang penting itu kamu punya keinginan untuk berubah gak, punya keinginan untuk mematahkan kata-kata orang itu gak. Ini Cuma masalah kamu serius atau gak untuk mencapai apa yang kamu inginkan.”

 

Kata-kata saya tadi cukup membuat Jojo terdiam dan tertegun.

 

Hei tunggu, bukan Cuma Jojo, saya juga.

 

Selalu, tiap kali saya ‘menasehati orang’ —yang sebenarnya berkilah—, selalu menjadi pukulan telak buat diri saya sendiri. Pada hakikatnya, semua yang kita bicarakan adalah apa yang kita rasakan. Sebenarnya saya tak jauh berbeda dengan Jojo dan anak-anak yang tidak serius lainnya. Saya dengan lancar bisa berkata ini itu kepada Jojo. Dengan mudah bisa membuat dia manggut-manggut dan setuju dengan isi dari pembicaraan saya karena pada hakikatnya saya membicarakan apa yang dia rasakan. Saya membicarakan apa yang dirasakan oleh orang-orang ‘bodoh lemot dan idiot’ itu. Karena saya salah satu dari mereka.

 

Dua jam privat bersama Jojo, saya pun pamit pulang. Sembari mengantar saya keluar, Jojo ngomong ke ibunya “Ma, tadi Kak Anna ngomong aku mirip Thomas Alva Edison.”

“Oh iya? Bagus dong, penemu terkenal itu kan?”

“Iya, katanya aku dan Thomas Alva Edison punya kesamaan. SAMA-SAMA LEMOT. IDIOT.” Jojo ngomong dengan mata membelalak dan suara yang sangat lantang sambil melirik-lirik ke arah saya.

 

Mamanya ketawa. Saya nyengir pamit dan langsung mengayuh sepeda. Kabur.

Seandainya

Kata ini saya pelajari maknanya ketika berada di SMP kelas 1.

Seandainya merupakan salah satu contoh kata pada majas pengandaian.

 

Seandainya. Jikalau. Jika. Andai saja. Kalau.

Kamu suka sastra? Tulislah kalimat-kalimat indah dengan padanan kata-kata dari majas pengandaian ini, tulis, baca, dan lihat berulang-ulang.

Padanan kata-kata bagus ini akan sangat indah jika terbit menjadi novel yang terkenal dan menghasilkan. Tapi lain halnya jika kata-kata ini terlontar di saat rambutmu memutih, kulitmu yang sudah mengeriput dan tubuhmu yang sudah tidak lagi tegak.

Kata-kata ini hanya akan menambah suram mukamu yang sudah tua dan muram.

Jangan pernah menggunakan kata ini dikala umurmu senja nanti.

 

“Seandainya saya dulu masuk sini”

“Seandainya dulu saya coba itu”

“Seandainya saya dulu ke sana”

“Seandainya dulu saya lebih rajin”

Ahhhhh seandainya sajaaa…..

 

Just shut it all up. Lakukan semuanya. Sekarang. Selagi otot-ototmu masih kuat dan kencang. Selagi tulang-tulangmu masih kokoh menopang. Selagi suaramu masih lantang. Selagi kamu masih bisa tertawa girang.

Lakukan segala hal yang akan membuatmu senang bukan kepalang.

Do. It. Now.

Now. Or. Never.

Overprotective

Akhir-akhir ini sedang concern tentang overprotective parents.
berikut link-link yang menarik dan sangat bermanfaat menurut saya:
http://www.drrobynsilverman.com/parenting-tips/helicopter-parents-helpful-or-harmful/
http://www.livestrong.com/article/48744-side-effects-overprotective-parenting/
http://www.sciencedaily.com/releases/2007/05/070501112023.htm
http://www.brainy-child.com/article/avoid-overparenting.shtml

Bagaimanakah cara mengatasinya? >>>> http://www.wikihow.com/Deal-With-Overprotective-Parents

Lalu, ini ada topik menarik tentang Peter Pan Syndrome, erat kaitannya dengan overprotective parents, nah apa itu???
>>> http://wiki.answers.com/Q/What_causes_Peter_Pan_syndrome

Those articles really are helpful.

Research Group

“Apa alasan yang membuat kami harus menerima kamu?”

…… “Mmm saya punya kemauan yang keras kak”

“Trus?”

…… “Mmmmm emang kemauan yang keras aja gak cukup ya kak?”

“Tergantung, bisa jadi cukup, bisa juga gak.”

……. “Kalo saya bener-bener pengen sesuatu saya bakalan kerja keras kak. lebih sering nekat sebenernya, hehehe” —-> ini sesungguhnya ungkapan hati yang jujur dari lubuk hati yang terdalam, saya emang keseringan nekat. Padahal buta informatika, tapi nekat daftar jadi ASISTEN RESEARCH GRUP. -_____-

“Trus, kalo seandainya kamu diterima dan gak berjalan sesuai harapan kamu, kira-kira kamu bakalan tetap bertahan apa gak?”

…….. “Yaa harus commit kak”

Dengan bibir tersungging sebelah ke atas dan mata menatap menyelidik serta suara yang disertai tawa kecil, si kakak bertanya lagi “Se-commit apa kamu?”

Uh! saya merasa bagai ditusuk ratusan belati, amat sangat terlampau ngenak sekali!

Dengan pasrah saya menjawab “Saya usahakan kak.”

 

Selang beberapa menit kemudian si kakak membolak-balik KHS saya, lalu bertanya “Kamu suka bahasa Inggris ya?”

………. “Kok kk tau?”

“Soalnya cuma itu yang nilaimu A, selain………….. praktikum”

Gubraaakkk. Kali ini rasanya seperti coba wahana Bungee Trampolin, rasanya jantung saya diremas-remas. Dan ekspresi saya saat itu langsung membenamkan muka di atas meja.

Untuk mencairkan suasana, saya balik nanya ke kakaknya “Yang apply angkatan berapa n jurusan apa aja kak?”

“Ada 2009, ada 2010, kebetulan IF semua”

…… “Oooooo”

“Kenapa nanya gitu? takut yang 2010 lebih jago ya dari kamu?”

Dan. Kali. Ini. Saya. Cuma. Bisa. Senyum. Getir. Dan. Mencoba. Berlapang. Dada.

 

——————————————————————————————————————————————————-

 

Setelah melewati wawancara berdarah itu, saya mulai mencoba melupakan Lab itu. Saya gak berharap untuk lolos mengingat isi wawancaranya yang seperti itu. Biar saya otodidak aja. Mungkin nanti akan ada jalan yang lebih baik.

Seminggu kemudian. Saya terima sms lolos tahap rekruitasi selanjutnya.

WHAT?!@#!@$#

Anyway, alhamdulillah. Mungkin inilah jalan yang lebih baik.

 

Saya siap digembleng di dunia yang keras ini!