Semakin Mudah

Kayaknya aku berhasil menyimpulkan sesuatu lagi : cara paling enak menikmati hidup ialah bukannya DON’T CARE. Tapi sebaliknya : GET EXCITED.

Gak peduli itu bikin kita gak semangat dan acuh tak acuh. Tapi kalo get excited justru bikin hidup berapi-api.

Just get excited to do all the things! Get excited to every single new thing in your life. Get excited to not get involved in some areas that you should not.

JUST GET EXCITED! LIVE TODAY LIKE YOU NEVER LIVE BEFORE!

Saya suka sama lagunya Jason Mraz yang judulnya Life is Wonderful :

It takes a crane to build a crane
It takes two floors to make a storie
It takes an egg to make a hen
It takes a hen to make an egg
There is no end to what I’m saying

It takes a thought to make a word
And it takes some words to make an action
And it takes some work to make it work
It takes some good to make it hurt
It takes some bad for satisfaction

Ah la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la la life goes full circle
Ah la la la la life is wonderful
Ah la la la la la

It takes a night to make it dawn
And it takes a day to make you yawn brother
And it takes some old to make you young
It takes some cold to know the sun
It takes the one to have the other

And it takes no time to fall in love
But it takes you years to know what love is
And it takes some fears to make you trust
It takes those tears to make it rust
It takes the dust to have it polished

Ah la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la la life goes full circle
Ah la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la

It takes some silence to make sound
And it takes a lost before you found it
And it takes a road to go nowhere
It takes a toll to make you care
It takes a hole to make a mountain

Ah la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la life goes full circle
Ah la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la life is meaningful
Ah la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la life is meaningful
Ah la la la la la la life is full of
Ah la la la la la life is so full of love
Ah la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la la life is meaningful
Ah la la la la la life is full of
Ah la la la la la life is so full of love

^One of my favourite 🙂

Advertisements

I’m not stupid, I just don’t want to be smart

^itu status Facebook saya 2 taon yang lalu.

Tiba-tiba jadi teringat status itu, mengingat betapa suramnya tahun pertama dan kedua saya di IT Telkom.

Sekarang saya baru sadar kalo 1 semester itu ternyata panjang dan berat. Kok kayaknya taun-taun sebelumnya begitu cepat berlalu.

Saya gak ingat dulu itu saya ngapain aja, kayaknya malah gak pernah ngapa-ngapain.

AAAAHHHHH saya merasa seperti ashhabul kahfi yang terbangun setelah tidur panjang ratusan tahun dan mendapati sekelilingnya berubah dengan begitu dahsyat hingga tak mampu mengenali sekitarnya lagi.

Seorang kakak berkata kepada saya bahwa seorang abang mengomentari status saya itu dengan kalimat : “I’m not stupid, I just don’t want to be smart—–>Itu stupid, tauk!”. Mendengar respon begitu, saya tertawa, saya merasa status saya adalah representasi kekeraskepalaan saya yang gak mau dikatain bodoh. Tawa saya saat itu juga tergolong tawa depresi karena terlalu pesimis untuk mewujudkan kemauan dan kerja keras sehingga seharusnya saya membuktikan kata-kata saya itu—->saya tidak bodoh.

Lama-lama saya menelaah, untuk apa saya mempertahankan diri berkata kalo saya gak bodoh. Faktanya nilai-nilai saya dengan jelas memperlihatkan kebodohan saya. Akui sajalah. Easy mamen.

Hingga akhirnya saya menyadari sesuatu dan menuangkannya di status Facebook lagi : Kepintaran membuat kita tersenyum 🙂 . Kebodohan membuat kita tertawa :D. I love them all.

Bodoh, jelek, miskin, dan segala hal yang buruk-buruk itu pada dasarnya bermuara dari kemalasan.

Pintar, good-looking, kaya, dan segala hal yang bagus-bagus itu bermula dari kerajinan.

Orang yang rajin di bidang tertentu mungkin akan malas di bidang yang lain. Hanya sedikit sekali manusia yang mampu mengkombinasikan segala hal positif di berbagai sisi kehidupannya. Dan mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Dan benar kata abang tadi : kalo status saya itu stupid.

It’s okay untuk malas, tapi jangan di semua bidang. Ambillah satu bidang yang paling membuatmu tertarik dan membuatmu bisa bertahan di dalamnya dalam waktu yang lama(karena gak berasa). Rajinlah di satu bidang itu. Rajinlah nak. Rajinlah.

-_______-  saya merasa seperti beruang kutub. Saya pernah berada di dua titik ekstrim. Pernah sangat rajin dan juga pernah sangat malas. *btw apa hubungannya sama beruang kutub?*

Tadi habis kuliah DAA, ada kata-kata yang keren dari pak dosen. Jadi ceritanya ada mahasiswa yang maju buat ngejelasin algoritma divide and conquer. Dia mampu menjelaskan runtunan algoritma itu beserta kompleksitasnya. Lalu setelah selesai menjelaskan, mukanya sumringah luar biasa sehingga mendapat respon dari pak dosen : “Nah, kalo bisa kamu seneng kan? Makanya bisa terus, biar seneng terus.”

Makanya, harus bisa laaaahhhh… aku bisa aku pasti bisaaaaaaaaaa!!! 😀

Friends are not accecories

Beberapa orang terlihat sangat pemalu

Beberapa lainnya terlihat sangat berani

Beberapa hanya sekedar mencari sensasi

Beberapa ada yang apa adanya

Saya suka dengan siapapun yang menjadi dirinya sendiri

Saya suka dengan orang-orang yang bersikap sangat natural dan apa adanya

Orang-orang yang bersikap sebagaimana diri mereka sendiri

Jika tak mau mereka berkata tak mau

Jika ingin mereka akan melakukannya

Beda orang maka beda pula pemikirannya

Teman dalam kamus bahasa Indonesia berarti seseorang yang kita kenal dan seseorang yang bisa kita jumpai disaat tertentu atau tidak selamanya kita jumpai.

Kalo dalam paradigma saya :

Teman bukanlah accecories yang dengan mudahnya kita pakai semau kita.

Teman bukanlah accecories yang menghiasi kehidupan kita.

Teman bukanlah accecories yang akan menutupi keburukan-keburukan kita.

Teman hanyalah manusia yang ada di sekeliling kita.

Indahnya hidup kita, tertutupnya aib kita, banyaknya orang yang berbuat baik kepada kita, banyaknya orang yang memusuhi kita, itu semua bukan karena teman, tapi karena diri kita sendiri.

Kitalah yang memegang kendali hidup kita ini, bukan orang lain.

Banyaknya teman bukanlah tolak ukur dirimu semakin berharga.

Semakin banyak teman yang menyapamu bukan berarti semakin baik/pintar/cantik/tampannya dirimu.

Semakin banyak orang yang mengenalmu bukan berarti semakin tingginya tingkat kepercayaan mereka padamu.

Banyaknya teman hanyalah tolak ukur popularitas.

Semakin gesit kamu bergerak maka semakin banyak pula orang-orang yang mengenalmu.

Popularitas adalah tolak ukur keaktifan.

Semakin aktif kamu bergerak maka semakin populer dirimu.

Jadi aktif itu penting, tapi jadi populer itu gak penting.

Popularitas bisa didapat dengan cara apa saja.

Menjadi populer/terkenal adalah imbas dari apa yang kita perbuat.

Banyak sekali manusia yang terkenal.

Terkenal karena keburukannya, terkenal karena kebaikannya, terkenal karena keramahannya, tekenal karena sumbangsih pemikirannya, terkenal karena kecantikannya, ketampanannya, karyanya. Apapun.

Kamu dan teman-temanmu hanyalah manusia biasa. Satu sama lain tidak lebih baik dalam berbagai hal.

Kamu tidak bisa berharap terlalu banyak dan tidak pula bisa memberi terlalu banyak harapan pada mereka.

You are based on yourself, not your friends.

Kamu dilihat berdasarkan dirimu sendiri, bukan berdasarkan teman-temanmu.

Kamu hidup di kehidupanmu, bukan di kehidupan teman-temanmu.

Dan inilah poin terpenting yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini:

Tidak penting ada berapa banyak orang yang mengenalmu.

Yang harus kamu harus pay more attention adalah pada ada berapa banyak orang yang melihatmu di saat kamu down.

Di saat kamu tersesat tak tentu arah, di saat kamu kehilangan harapan, di saat dunia serasa gelap gulita.

Saat nilai-nilaimu anjlok dan kamu hampir berkata “Give UP”, saat akidahmu terguncang kuat, saat kamu terpuruk sakit di atas tempat tidur atau bahkan mungkin tak punya tempat tidur.

Ada berapa orang yang mengunjungimu di saat-saat sulit itu.

Ada berapa orang yang hanya sekedar ingin tahu kabarmu dan menyampaikan sapa rindu.

Dan mereka disebut keluarga.

Orang-orang yang tulus kepadamu adalah keluargamu.

Kamu tak butuh teman, yang kamu butuhkan adalah keluarga.

Tahukah kamu tentang satu hal?

Ketika kamu menerima dengan ikhlas dirimu sendiri apa adanya.

Ketika kamu percaya sepenuhnya pada dirimu sendiri, di saat itulah kamu menemukan teman sejati.

Ya, teman sejatimu adalah dirimu sendiri.

Karena itu bertemanlah dengan dirimu sendiri.

When you lose your hope, at least never lose yourself.

Overall, popularitas bukanlah tolak ukur kebahagiaan.

You cannot rely on things besides yourself.

Kamu tulus kepada dirimu sendiri, maka orang-orang tulus pun akan berada di sekelilingmu.

—–dan ini adalah postingan tergalau yang pernah saya buat -___-  ————-

Ternyata Informatika itu MENYENANGKAN!

Setelah 3 tahun berselang, baru beberapa minggu ini saya menyadari kalo NGODING ITU MENYENANGKAN!!!

hahaha *ketawa depresi*

entah karena ke-gak-jelasan saya yang selama ini amat sangat terlampau jelas, entah karena memang baru SADAR kalo gak ada jalan pulang.

makanya work hard nak, study hard.

FEEL THE SWEETNESS OF LEARNING! belajar itu nikmat tau.

Keripik Karuhun, Sushi, dan Maio Burger

Awal bulan maret ini saya lagi kaya.

Akibatnya saya belanja banyak makanan.

Selayaknya single fighter, saya menelusuri jalanan buah batu seorang diri, jalan kaki pula.

Dengan setting hujan gerimis dan langit mendung, saya melirik kanan kiri depan belakang (kayaknya lebih mirip maling daripada orang yang mau shopping).
Mau gimana lagi? Mbak gita lagi kere, nilam jelas-jelas gak mau pergi kalo gak jelas (dia ini kan Monk sejati), mbak una dan mbak dian belom pernah kuajakin kalo yang beginian (mereka maunya karokean), kalo vivi lebih beda lagi alirannya, jadilah saya jalan sendirian.

Akhirnya, sebagaimana yang saya rencanakan yaitu tanpa rencana, saya langsung cao keluar kosan tanpa ngasih tau siapapun. Naik angkot dua kali, berenti di depan kimia farma buah batu.

Mengapa saya berhenti di depan kimia farma? Karena di depannya berjejeran orang-orang jualan duku palembang. Mumpung murah : Rp10.000/3kg, akhirnya saya beli.

Dukunya dimasukin tas, trus saya jalan lagi. Sampailah saya di depan STSI, di seberangnya ada warung pojok namanya Sushi Teio. Naaaahhh ini dia makanan yang jadi tujuan saya. SUSHI!

Saya udah penasaran sama rasa sushi dari sejak SMA, karena sering ngeliat di majalah Kawanku. Selain itu, nonton film-film jepang juga kayaknya gimana gitu pas makan sushi.

Akhirnya saya cobalah.

Yang paling bikin saya penasaran yaitu ikan mentahnya. Jadinya saya cari menu yang menonjolkan ikannya, bukan nasinya. Eh ternyata mahal bo.

Agak lama berkutat di depan menu dan membuat si abang sushi harus menjawab banyak-banyak pertanyaan dari saya, akhirnya jatuhlah pilihan saya pada menu yang paling standar dan sering saya bikin juga (pas maen game sushi) , yaitu Maki. Karena harganya lumayan terjangkau buat saya.

 

Saya minta wasabi sama abangnya, ditaruh di piring kecil dengan diameter 6 cm.  Wasabinya gak banyak, kira2 gak nyampe setengah piring, dikit banget malah. Yang pernah saya baca, wasabi itu pedas, tapi dari teksturnya kok gak terlihat pedas ya. Lebih mantep liat cabe rawit diulek buat ayam penyet. Saya cium aromanya malah kayak sayuran ijo biasa. Jadilah saya cocol itu wasabi sama sushi. Gak tanggung-tanggung, wasabinya tinggal setengah.

Saya masukkanlah sushi itu perlahan-lahan ke dalam mulut (agak slow motion), masih juga belum mencium aroma pedasnya. Saya masukkan semua, trus saya kunyah perlahan-lahan ala pak Bondan Winarno. Mungkin di detik kunyahan pertama itu, ekspresi saya mirip pak Bondan, dengan muka menerka-nerka rasa makanan dan menikmati tiap kunyahan. Tapi sepertinya ekspresi itu hanya saya alami di detik pertama saja.

Detik selanjutnya? Saya memegang kepala saya kuat-kuat, mencoba bernafas dengan berat dan dalam sembari terus memaksa rahang saya untuk mengunyah. Masih dengan nafas tidak teratur, saya melihat orang di sekeliling saya. Sebelah saya ada teteh yang lagi pacaran sama akangnya, trus abang yang jualan sushi juga lagi sibuk membuat pesanan lainnya. Untunglah gak ada yang merhatiin saya yang tadinya megang2 kepala. Saya mencoba biasa saja, dengan muka pemakan sushi profesional, saya pesan air sama abangnya.

Tahukah kamu apa yang saya rasakan?

Saya PUSING LUAR BIASAAAAAAAAAA. Si wasabi ini ternyata pedasnya bukan kayak pedas cabe yang menyengat lidah dan bibir. Tapi pedasnya wasabi ini menusuk, mengoyak, dan menorehkan alam sadar saya (halah bahasamu nak!).

Serius, pedasnya wasabi ini menyengat area yang sangat sensitif : langsung ke otak! Sengatannya itu menjalar ke hidung, kerongkongan, dan kepala sampe bikin nyut-nyut. Untuk mengalihkan nyut-nyut yang ada di kepala saya, saya minumlah the botol sosro yang sudah datang sampe habis setengah.

Sebelum melanjutkan mencocol lagi si wasabi, saya lihat sisanya di piring kecil tadi. Mungkin saya juga yang keterlaluan mencocolnya, masa sekali makan tinggal setengah, wajar jadinya kalo kepala saya nyut-nyutan.

Lumayan kenyang makan sushi yang Cuma 6 potong, selanjutnya saya bayar, harganya Cuma Rp16.000 saja. Kayaknya lumayan murah.

Selesai makan sushi saya beli keripik karuhun dan maio burger yang ada tepat di depan warung sushi itu buat dibungkus bawa pulang.

 

Sesampainya di kosan, saya buka bungkusan si maio burger ini. Sebelum makan, saya menjalankan ritual ekspedisi terlebih dahulu.

Harga maio burger ini ‘relatif’ mahal, yaitu Rp 15000. lalu apa yang membuat dia terasa mahal?

Saya lihatlah bungkusannya : Cuma kertas ijo dengan merek dan tulisan cabangnya yang ada di bandung.

Kayaknya biasa aja, tapi emang kertasnya agak lebih tebal dari kertas pembungkus pada umumnya sih (saya bandinginnya sama kertas bungkus Rotiboy, rata-rata kertas pembungkus kan setipis itu). Seperti slogannya: GREEN BURGER, dari bungkus luar, bungkus dalam, sampe buns (rotinya) benar-benar berwarna ijo. Kalo tadi ngomongin bungkus luar, pas saya buka ternyata ada bungkus kedua yang juga sama-sama berwarna ijo. Berbeda dengan bungkus pertama, bungkus kedua ini jauh lebih alami. Coba tebak, apakah bungkus keduanya?

Plastik! Salah. Tadi jelas-jelas saya bilang lebih alami.

Kain! Lo kira rantangan ibu-ibu jaman penjajahan, pake kain.

Jawabannya adalaaaahhhh : daun pisang!

Btw sensasi makan burger ini agak beda gimana gitu, lebih harum karena ada aroma daun pisangnya.

Nah, sekarang beralih ke taste-nya. Dan gigitan pertama cukup mewakili kalo sesuailah harga dan produknya. Cukup satu kata : enak.

 

Setelah kenyang dengan si maio, saya keluar kamar dan saya keluarkanlah si Karuhun dan duku di depan anak-anak kosan.

“Sok agan-agan, mau nyoba gak?” tawaran dari saya.

Dan reaksi yang saya dapat dari tiap orang semuanya hampir sama, geleng2+decak heran+ngomong : “GAN, LO ORANG KAYA BANGET YA GAN!!!”

Dan berkali-kali juga saya bilang “Hari ini sushi, burger, duku, dan karuhun gan, besok ikan asin.”

-_-