Karena hidup tidaklah mudah, makanya jangan dipersulit

Dua bulan ini, Juli-Agustus aku merasa sok bijak sok berpengalaman gitu. Memang, kuakui dua bulan ini merupakan ‘puncak kematangan berpikirku’, dimana di dua bulan ini porsi belajarku meningkat drastis. Gak tau kenapa, yang jelas aku benar-benar haus ilmu pengetahuan. Sasaran paling empuk apalagi kalau bukan Nekku Google, sosok paling simpel dan paling tau segalanya [untuk saat ini, menurutku].

Aku benar-benar menemukan excitement of life akhir-akhir ini. Entah kenapa rasanya semua kemungkinan terbuka di depan mata. Semua manusia jadi protagonis, bahkan anjing tak bertuan pun tak pernah lagi mencuri sepatu-sepatu yang lupa dibawa masuk kalo malam. Bumi terasa jauh lebih indah dari biasanya, keponakanku pun jauh lebih kreatif dari biasanya—-yaiyalah, secara udah kuajarin gaya metal(jempol, telunjuk, kelingking, sambil ngomong “ROCK!” plus tampang sangar versi imut)—-.

YAH POIN YANG MAU AKU SAMPAIKAN ADALAH: aku telah berhasil merumuskan cara untuk bertahan dan menikmati hidup dengan seoptimal mungkin. Sesuai dengan judul postingan ini, Quote terbaruku adalah: “Karena hidup tidak mudah, makanya jangan dipersulit.”

Baiklah, mari kita ulas ungkapan ini. Sebenarnya ini ungkapan juga asal comot dari status Facebook salah seorang teman, tapi karena kebetulan KLIK BANGET sama kondisiku saat itu, makanya kuadopsi jadi salah satu my favourite quote di Facebook-ku.

Hidup itu sulit bukan? Yep, extremely right.

Ah, pesimis banget sih.

Memang begitu kenyataannya kan?

Ah masa iya?

Ah masa enggak?

AHH INTINYA MAU NGOMONG APA SIH???

~~~

~~~

~~~

Hm, serius. Quote ini benar-benar bermakna kalo kita mau ngambil hikmah di balik kalimat simpel ini. Coba bandingkan, ketika kamu mau masuk sekolah favorit, trus ada yang ngomong, “Yakin lo bisa lewat? rame loh anak pinter disitu, jauh lebih pinter dari lo lagi”. Atau yang lebih simpel lagi,”Yakin kamu bisa kuliah dengan bener? absen bolosmu aja udah bejibun”. Atau yang amat lebih simpel lagi,”Ah mana mungkin aku bisa kurus, napsu makanku aja kelewat gede -_-“. Dan masih banyak kalimat-kalimat dan pikiran-pikiran “penghancur semangat” lainnya.

PADAHAL kalo kita mau membuka pikiran, memandang positif segala sesuatu, ada aja kok jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan penghancur semangat itu. Misal untuk kasus nomor 1: yakin dong, otak gue kan encer dan gue pembelajar yang giat (semoga gak omdo), untuk kasus nomor 2: yakin lah, apa hubungannya coba absen kebanyakan dengan kualitas kuliah? belajar bisa dimana aja bung, kalo emang udah kelewat banyak bisa dimanipulasi kok ke dosennya langsung, easy mamen! (kasus ini agak sedikit gak tau diri). Dan untuk kasus nomor 3: oh meeeennn napsu makan gede berarti aku butuh asupan energi dan gizi yang optimal, demi kelancaran otakku dalam belajar, dan itu bisa diakali dengan mengatur pola makan sehat, dengan gizi yang mencukupi dan aku gak semakin overweight.

NAH, kalo begini kan lebih enakan. Rasanya everything has the solution. You no need to worry, because worry is worrying itself. Kalopun kamu mengucapkan kata-kata itu tanpa pembuktian, dalam artian asal omong doang, maka percayalah! sesungguhnya dengan aksi “omong doang”mu telah menyelamatkan jiwamu sendiri, kalo dalam hal berkelompok, berarti kamu telah menyelamatkan banyak jiwa. Kamu adalah superhero! Atau kalopun kamu gak berniat jadi superhero, asal ngomong tanpa maksud apapun, maka percayalah! sesungguhnya kemampuan ngelesmu semakin terasah. Dan kemampuan tersebut sangat amat berguna di kehidupan yang tidak kenal ampun ini. Percayalah!

Pada dasarnya, yang membuat segala sesuatu mudah adalah PIKIRAN kita. Jika kita berpikir semua ada solusinya, maka otak kita akan merespon pikiran tersebut dengan benar-benar mencari solusinya. Sebaliknya, ketika kita berkata pada diri sendiri: Ah gak mungkin, itu artinya kita MENUTUP kemungkinan-kemungkinan yang ada. Kemngkinan-kemungkinan yang jauh luar biasa.

Padahal, cuma dengan MEMBUKA PIKIRAN, dari sisi kejiwaan justru lebih baik. Jangan pernah membatasi pikiran kita, karena sesungguhnya dunia kita adalah sebatas pikiran kita. Jika kita mempersempit pikiran kita, maka nikmati saja dunia yang rasanya sempit itu. Tapi sebaliknya, ketika kita membuka pikiran kita seluas-luasnya, tidak menutup kemungkinan apapun, maka di situlah kita berada, di dunia yang tanpa batas.

The point: ketika kita mempersempit pikiran kita, menutup diri dari kemungkinan-kemungkinan yang ada, maka di saat itulah kita mempersulit kehidupan kita sendiri.

PERCAYALAH AMAT MENYENANGKAN MENGEKSPLOR DUNIA YANG TANPA BATAS INI!!!

P.S. : bahasaku terlalu tinggi ya? semoga yang baca ngerti. Intinya sih ini cuma curhat.

Advertisements