Liar

Pikiran yang liar menuntun ke dalam tindakan yang liar.

Tindakan yang liar menuntun ke dalam kepercayaan yang liar.

Liar. satu kata yang sangat subjektif.

menurut saya, kepercayaan mereka liar. menurut mereka, kepercayaan saya yang liar.

SAYA dan MEREKA punya PEGANGAN masing-masing.

Pegangan saya bisa saja dibantah oleh mereka. Begitu juga dengan pegangan mereka, bisa dengan mudah saya bantah.

Setiap hal di dunia ini punya sisi lemah dan sisi kuat, sisi baik dan sisi buruk, sisi mulia dan sisi hina. Semua itu melekat pada hal tersebut. Tak bisa dipungkiri. Tak bisa dielakkan.

Tapi lagi-lagi itu semua masalah subjektivitas. Tergantung cara dan sudut pandang orang yang menilainya.

Ketika pegangan seseorang dibantah, pasti orang yang bersangkutan melakukan pembelaan bukan? Ya, pasti.

jika terus menerus diurutkan, akan ada titik stuck yang membuat orang tersebut tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Semuanya seperti itu. Hal itu sangat bisa dibuktikan dengan pasti.

Jika para theist ditanyakan: darimana asal Tuhan? Mereka menjawab: Tuhan memang sudah ada.  Darimana kamu tahu? Saya tahu dari kitab.

Para atheis tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban seperti itu.

Sebaliknya jika ditanyakan kepada para atheis: darimana asal materi? Mereka menjawab: Materi memang sudah ada. Darimana kamu tahu? Saya tahu dari hasil penelitian saya. Gas hidrogen itu materi, oksigen itu materi, tubuh manusia tersusun atas materi-materi. Segala jenis materi sudah disediakan oleh alam, sedangkan alam ini sendiri merupakan hasil dari siklus. Segala kesempurnaan sudah tersedia di alam semesta, semuanya tersedia begitu saja.

Para theist terdiam. Begitukah?

Jika direnungkan lebih dalam lagi, bukankah penjelasan si atheis bisa dipersingkat dengan KEBETULAN?

Mengutip kalimat dari sebuah forum:

atheist: hari gini masih percaya TUHAN? sama aja kayak percaya mitos !

theist: hari gini masih percaya KEBETULAN? sama aja kayak percaya takhayul !

Sekedar info, karakter orang atheis itu bisa digambarkan dengan quote ini: it’s all about choice, not destiny. Dengan kata lain, mereka sangat percaya pada rencana, usaha, dan kerja keras. Semuanya tidak ada yang kebetulan. But you see? mereka percaya kalo materi yang begitu sempurna terbentuk karena kebetulan. Tidakkah mereka yang notabene orang-orang high-level-educated itu belajar teori probabilitas?

Kata-kata mutiara dari saya: Theists stuck on the faith. Atheists stuck on the fact.

Intinya, sudah menjadi sifat alami kita sebagai manusia untuk mempertahankan apa yang kita anggap benar. orang yang punya pengetahuan di bidang tertentu, pikirannya pasti akan terpengaruh oleh ilmu tersebut. Tak ada manusia yang bebas dari prasangka.

Science is objective. Isn’t it?

Who said?

Who cares?

Advertisements