Tak Ada Jalan Pulang Nak

Kamu telah melangkah sejauh ini. Kamu tau segala konsekuensinya. Tapi kamu tetap melakukannya. Itu adalah resiko. Sekarang nasibmu ada di dalam genggamanmu. Tinggal lihat kekonsistenanmu dan juga kesungguhanmu.

  1. Untuk mencapai IP 4, maka semua matakuliah harus A.
  2. Untuk mencapai indeks A maka nilai total matakuliah tersebut harus >=80.
  3. Nilai yang paling banyak menyumbang kontribusi terbesar ke dalam nilai total keseluruhan ialah UTS dan UAS. Biasanya UTS 30% dan UAS 35%.
  4. Dengan asumsi sudah mengerjakan segala jenis tugas, kuis, dan kehadiran di atas 75%, maka setidaknya minimal perolehan UTS dan UAS haruslah 60%
  5. Dengan demikian, UTS wajib dapat minimal 70, dan UAS wajib minimal dapat 70

Jika begitu faktanya, maka hal-hal yang wajib dilakukan setiap hari adalah BELAJAR. Minimal 1 jam sehari di luar jadwal kuliah. itu saja cukup. Selebihnya, temukan hobi baru. Ingat kamu tak bisa kemana-mana lagi, semester depan wajib 4. Tak ada kata tapi. Kita bisa jika kita mau. ^_^

Etis Tidak Etis

Tiap manusia punya pilihan di dalam hidupnya. Dia mau jadi apa. Hendak kemana. Visi ke depannya apa. Semua yang dipilih ada konsekuensinya. Ketika telah dibebankan amanah dan ia tidak berhasil menjalaninya, ia harus menanggung resikonya.

Seringkali manusia memandang sesamanya hanya menurut perspektifnya saja. Melihat dari kulitnya saja rasanya sudah cukup mewakili apa yang ada di dalamnya. Tapi kadangkala apa yang kita lihat belum tentu benar.

Inti yang mau saya omongin adalah : Dont Judge The Book By It’s Cover , dengan kata lain (untuk konteks mahasiswa) : Dont Judge The Student by His IP

Poin Pertama. mungkin ada yang niatnya bercanda “buang2 waktu, percuma belah kepalamu, toh aq gak bakalan nemu apa-apa, wkwkwkwk” —itu candaan salah seorang teman di salah satu jejaring sosial. Saya tau dia bercanda. Dan saya menanggapinya hanya dengan sebaris ekspresi gondok. Yang patut dipertanyakan sekarang adalah : apakah etis mengungkapkan candaan dengan pilihan kata seperti itu kepada orang dengan kondisi seperti ini (baca:IP 1,89)? Yah saya rasa anda sebagai pembaca pun bisa menjawabnya. Oke, mungkin karena yang dibecandain adalah orang seperti saya (baca:easy going), saya tidak terlalu ngambil pusing (paling cuma nulis di blog, baru kali ini lo, biasanya saya mendem). Tapi kalo candaan seperti ini dilontarkan kepada orang yang sensitif sekali, kemungkinan yang terjadi ialah tali silaturahmi mereka putus, atau bahkan bisa lebih buruk dari itu.

Poin Kedua. Ketika kondisimu berada di level terbawah (tapi karena kamu berjiwa besar-atau mati rasa?- jadi kamu tidak terlalu bersedih dengan keadaan ini) dan ada seorang teman dengan kondisi level agak jauh di atasmu (dia orang yang panikan)  sepertinya sama-sama dizhalimi oleh seorang dosen yang mengakibatkan nilai keduanya-bahkan sekelas- anjlok seanjlok-anjloknya. Kamu memperoleh E (yang setidaknya bisa dapet D lah) sedangkan temanmu dapet C (seharusnya bisa dapet B). Dia curhat ke kamu “gimana dong…padahal aku bisa jawab soal UAS nya, aku yakin banyak benernya. kok tega banget sih bapak itu?????” Pertanyaannya sekarang : Apakah etis bagi seseorang dengan pencapaian yang tinggi berkeluh kesah pada orang dengan pencapaian rendah?

Sebenarnya kedua poin di atas sudah sering saya rasakan semenjak SMA. Hanya saja baru sekarang saya menuliskannya. Ini adalah pilihan hidup saya. Saya malas, saya tidak mau bekerja keras, saya lalai dan tidak ulet. Semuanya pilihan saya. Dan saya telah merasakan dampaknya dalam waktu berkepanjangan (dari masuk SMA sampai sekarang). Saya sudah kapok dan akan bertaubat. Ternyata menjadi “bodoh” sangat tidak menyenangkan. Rasanya seperti mandi di kubangan tinja. Hina, memalukan, dan memancing orang lain untuk berbuat dosa. Well, semua kembali padamu.

Jika lelah menyerang, istirahat sejenak…

Di saat kau merasa sangat lelah dan penat dengan masalah kehidupan ini, sebaiknya istirahat dulu. Pergilah ke tempat-tempat indah dan menyejukkan mata seperti sawah, ke laut, atau sekedar menatap ke langit, menikmati indahnya langit biru berhias awan. Nikmatilah pemandangan di depan matamu, lalu tutuplah matamu, ambil nafas panjang dan dalam, lalu hembuskan perlahan-lahan. Dan bukalah matamu perlahan. Lihatlah, ciptaan Allah begitu indah. Masalah yang kamu hadapi hanyalah sebesar sel kulit jika dibandingkan dengan ciptaan-Nya. Soo, bersyukurlah dan tersenyumlaahh ^_^ hadapi hari esok dengan suasana hati yang ceria.

Maksiat

Maksiat adalah candu.

 

“sekali kau melakukannya, selamanya kau akan punya keinginan untuk melakukannya lagi.”

 

“seperti yang kau lakukan pada shalat-shalatmu, kau merasa sesak dan menyesal karena melalaikannya hingga akhirnya kau lupa dan meninggalkannya. Di lain kesempatan, kau mencoba untuk melakukannya lagi. Kau mengira kali ini kau tidak akan lupa. Tapi kenyataan berkata lain. Kau lupa dan akhirnya meninggalkannya LAGI.”

 

 

“HAL INI SAMA HALNYA DENGAN BERJUDI. KAU BERTARUH DENGAN WAKTUMU. KAU BERTARUH DENGAN INGATANMU. KAU BERTARUH DENGAN KESADARANMU. PADAHAL KAU TAK BISA MENJAMIN SEGALANYA MASIH AKAN TETAP ADA. MASIH AKAN TETAP TERSISA. SESUNGGUHNYA SEMUA YANG ADA PADA DIRIMU ADALAH MILIK ALLAH. HAK ALLAH UNTUK MENCABUT APA2 YANG DITITIPKAN-NYA PADA HAMBA-NYA KAPANPUN IA KEHENDAKI. SEHARUSNYA KAU SADAR AKAN HAL ITU.”

 

 

Jadi janganlah kau melalaikan perintah Allah jika sudah sampai pada waktunya. Jangan pernah kau tidur untuk kesekian kalinya padahal kau tahu saat itu sudah masuk waktu shalat.

 

Change

    Apa yang akan aku lakukan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik?

  1. Ubah cara pandangku.
  2. Ubah pemikiranku.
  3. Pikirkan masalah2 besar.
  4. Munculkan ide-ide kecil dan brilian.
  5. Bagi masalah2 besar itu menjadi kecil2.
  6. Selesaikan masalah2 kecil itu dengan ide2 kecil dan brilian tadi.
  7. Sedikit masalah kecil terselesaikan.
  8. Banyak masalah kecil terselesaikan lagi.
  9. Lebih banyak lagi masalah kecil yang terselesaikan lagi dan lagi.
  10. Akhirnya hanya tinggal segelintir masalah kecil yang belum dan mungkin gak bisa terselesaikan.
  11. Setidaknya dunia menjadi lebih baik.
  12. Atau paling tidak diri sendiri menjadi lebih baik.

 

Memaknai hidup dengan lebay

Setiap peranan di dalam hidup kita memiliki porsi masing-masing untuk dikenang.

Tergantung bagaimana kita merasakan tiap detik dari kehidupan kita, seberapa besar kita menghargai diri sendiri dan juga orang lain.

Ini bukan masalah bagaimana kita ingin dikenang oleh orang lain, bukan masalah bagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain, bukan masaalah seberapa banyak orang di dunia ini yang menyukai kita, bukan masalah membangun relasi, dan bukan pula masalah menghargai atau tidak menghargai sesama manusia, bukan itu semua.

Ini masalah antara diri sendiri dengan satu objek. Melalui yang satu itu bisa bercabang kemana-mana. Yang satu itu adalah alasan, satu-satunya alasan untuk melakukan apapun.

Masalahnya sekarang adalah, ketika kita melakukan apapun kepada cabang-cabang yang kecil itu tanpa melalui objek tunggal tadi, seringkali segalanya menjadi lebay. Lebay disini dalam artian mencurahkan segalanya berserakan, tak tentu arah. Bisa dalam bentuk emosi yang berlebihan, pemberian yang berlebihan, apapun, dengan kelebayan.

Tapi jika kita mencurahkan segalanya kepada yang satu itu, Dia akan membaginya sama rata kepada semua cabang, tak ada istilah lebay untuk yang satu itu.

Laksana keran air dan sumbernya yang berada di tengah2, ketika sumbernya itu diisi air, semua keran akan bisa menerima dan mengeluarkan air tersebut, tergantung besarnya keran itu terbuka.