Dunia dan diri sendiri

Dunia ini tanpa batas.
Agama memberi batasan-batasan.
Ilmu pengetahuan merasionalisasikan batasan-batasan itu.
Pelaksanaannya? Ada pada diri sendiri.
Yang sesungguhnya membatasi adalah diri dan pikiran kita sendiri.
Kontrol diri yang baik membuahkan kehidupan yang lebih mudah dan lebih bahagia.
Amalan yang kita lakukan baik ataupun buruk, semua akan kembali ke diri sendiri.
Maka dari itu, tak ada yang dapat menolong kita dari diri kita sendiri.
Belajar yang benar, belajar yang banyak, praktekkan, terima konsekuensinya, peroleh banyak pengalaman, hingga dapatkan polanya.
Sehingga di lain kesempatan (pada waktu yang urgent dan penting) kita dapat memilih yang terbaik dan meminimalisir sesedikit mungkin kesalahan dan penyesalan.
Pikirkan matang-matang, imajinasikan ke masa depan, eksekusi, dan terima konsekuensi alias bertanggung jawab dengan apapun hasilnya.
It will lead to great self control.
Which I believe great self control leads to a great life.

Advertisements

People

People, are just like all the things in this world. Some bring joy wholeheartedly, some give happiness meaninglessly. Some are worth keeping, some are meant to be blacklisted. Tiba di umur ketika seleksi alam bekerja dengan terpampang nyata, membuat hidup ini jauh lebih mudah.

Dan ada status seorang teman di FB yang bernama Gloria Caeli, sungguh mengena :

So I got two options : change my perspective to adapt, or to remove the ones and things I cannot trust anymore.
Being generous is one thing. But being taken advantage of your generosity is an entirely different case.

So, choose your opponent wisely, people. Messing with me? You pick a wrong person.

Tentang mencintai diri sendiri

Mencintai diri sendiri adalah suatu yang esensial. Dalam kehidupan ini, satu-satunya manusia yang akan terus bersama kita sampai mati adalah diri kita sendiri. Merawat diri sendiri dari segi fisik maupun batin, juga memprioritaskan diri sendiri di atas segala apapun di dunia ini adalah bentuk dari mencintai diri sendiri.

Apakah itu berarti kita menjadi sosok yang egois? Nope. Mencintai diri sendiri dengan benar berujung pada memaknai rasa syukur, dengan memberi nilai maksimal pada diri sendiri, kita jadi tau betapa berharganya diri ini. Dengan menyadari hal itu, kita ingin diperlakukan berharga. Jika kita ingin dihargai, maka kita harus menghargai orang lain terlebih dahulu. Sebagaimana hukum Newton, aksi sama besar dengan reaksi.

Jika kita mencintai diri sendiri dengan benar, maka kita turut membagi cinta pada diri orang lain juga. Love and happiness is contagious.

Jadi, gak ada tuh cerita bisa kegeeran. Semudah itu jatuh cinta pada orang lain sampai-sampai dimabuk asmara sehingga lupa ingatan. Karena ketika ada yang bilang : I love you, kamu cantik sekali, aku bahagia bisa mengenalmu, kamu sangat baik hati. Kita otomatis bakal mikir : hm, itu bukan hal yang baru, aku tau aku cantik, baik hati, dan kebetulan bisa mengenalku berarti kamu beruntung sekali, wkwkwk. Wow, kesannya sombong sekali ya? Hahah, gak juga. Itu bukan sombong, itu adalah sikap menjadi rasional, menapak kaki, menjejak tanah.

Kalo kita mencintai diri on top 100%, itu bukan suatu hal yang baru lagi dong, cantik dan baik, itu memang diriku, gak perlu ditunjukkan pun aku juga udah tau, itu bukan info yang baru, bukan hal yang wow. Pujian level basic begitu gak akan mempan pada diri kita. Dengan mencintai diri sendiri 100%, orang yang memang tertarik dan berniat menjalin hubungan serius dengan kita akan berusaha lebih total, dia harus melampaui 100% agar mampu membuat kita merasa spesial.

Postingan ini terinspirasi dari stand up comedy Daniel Sloss yang ngena sekali, tentang relasi antara mencintai diri sendiri, pernikahan, dan perceraian.

Semangat dan Iman

“Udah sampe mana tesismu?”

“…”

“Bisa lulus gak semester ini?”

“…”

“Kok waktu baru beli laptop kemaren itu semangat sekali kerjain tesisnya, berkurung terus di dalam kamar. Kayak gak cukup waktu 24 jam buat kerjainnya. Sekarang macam gak terjadi apa-apa.”

“…”

“Jadi sekarang apalagi masalahnya?”

“… Itulah Yah, semangat ini suka naek turun… ”

“Hm… Begitu jugalah iman. Semangat itu kayak iman. Memang gampang sekali naik dan turunnya. Itu harus selalu diasah. Supaya fokus. Supaya apa yang diusahakan tercapai. Kalo gak dipelihara terus-menerus, gak akan sampai ke tujuan, gak akan kita dapat apa yang kita inginkan.”

Percakapan sahur ini, 10 Mei 2019.

Ayah terlalu fanatik!

Bukan, bukan ke agama atau politik. Tapi ke masakan Inyak.

Selama ramadhan ini inyak sakit, jadi gak bisa masak. Cuma beli-beli aja. Tiap beli lauk apapun, belum pun disentuhnya, belum pun dicicipnya, udah langsung bilang gak enak.

“Kenapa beli gule Hiu.. Itu gak enak kalo bukan inyak yang masak.. Ini pun kuah keumamah entah apa rasanya.”

Padahal menurutku enak-enak aja. Sebelas dua belas lah sama masakan inyak. Tapi di lidah ayah terasa beda. Masuk ke mulut, mikir yang lama, kening berkerut, geleng-geleng, suruh pindahkan. Gak selera ayah makan.

Dan akhirnya aku yang kewalahan harus menghabiskannya sendiri.

Hhmm entah kapan aku bisa mastering resep masakan Aceh dari the master ini.

Sweet, gengsi, dan absurditas.

Momen isi tape yang makan waktu sampe 1 jam lebih merupakan momen penumpahan segala unek-unek. Ada saja hal yang diributkan antara kedua orang tua ini.

Ayah : “Inyak tu kalo ayah pulang belanja gak pernah mau ditengok, disuruh tarok aja di dapur. Udah gitu 15 menit kemudian nanya “ada ayah beli xxx tadi?”. Kalolah mau tengok sebentar barang belanjaan ayah, gak payah bertanya.”

Inyak : “Ayah pun gitu, apa apa aja barang yang diambil, gak tau ditaroknya ke tempat semula. Udah gitu besok-besok pas perlu barang itu, udah bingung, cari-cari sana sini. Kalolah bukan Inyak yang urus benahi rumah ini, gak kapan beres. Begitulah terus semrawut. Segala perkakas bertumpok di tiap sudut rumah.”

Menyaksikan pertengkaran-pertengkaran kecil yang sebenarnya unyu ini, aku dipaksa untuk mendengarkan, menyimak, menilai, lalu mengomentari. Posisiku saat ini seperti hakim yang memutuskan perkara. Siapa yang salah, dan siapa yang benar.

Sebagai hakim yang baik dan adil, aku harus bisa menilai seobjektif mungkin. Namun, aku juga manusia yang sering kelelahan menghadapi hal-hal di luar kuasaku. Jadi, alih-alih membenarkan perlakuan salah satu dari mereka, lebih baik aku memutuskan untuk ikut dalam arus drama yang mereka ciptakan. Biar lebih seru. Dan akupun mulai menuangkan imajinasi.

“Ooh jadi ayah maunya inyak tu jangan kek gitu ya? Maunya inyak tu sambut ayah tiap pulang belanja. Kalo perlu sambil lari-lari kecil. Inyak sambut barang belanjaan dengan kedua belah tangan, pindahkan tenteng ke tangan kiri, terus tangan kanan inyak menyalami takzim ayah. Trus inyak harusnya ngomong “Alhamdulillah, makasih ayah atas barang belanjaannya, udah lengkap semua yang inyak pesan ada di sini, insyaAllah inyak masak makanan enak untuk Ayah dan anak-anak”…

Belum siap kuimajinasikan versi perkakas ayah yang inyak keluhkan, omonganku sudah dipotong sama ayah “BUKAN BEGITU.. KAMU INI SUKA SEKALI MELEBIH-LEBIHKAN.. IKAH KUTEUTAH BABAH KAH NYAN”. Artinya : KAMU INI! KUPOTONG MULUTMU.

Ayah ngomong dengan suara kencang dan membentak. Tapi ekspresi tak bisa menipu kalo sedang menahan malu dan berkeras untuk tidak tersenyum malu. Kalolah kulit ayah putih, sudah tampak semburat kemerah-merahan di pipi. Malu. Tapi senang. Kebayang gak gimana ekspresi kakek umur 72 tahun malu-malu?

Wkwkwkwk. Wkwkwkwk. Wkwkwkwk.

Begitulah ayahku, sungguh absurd, gengsi setinggi menara Mesjid Raya, namun sesungguhnya manis sekali ke Inyak, sampe giyung.

Pemilu 2019 I chose…

(Gambar diambil dari https://m.detik.com/news/berita/d-4518122/update-data-kawalpemilu-jokowi-5021-prabowo-4979)

I chose Jokowi-Ma’ruf. Of course.

Saya pilih Pak Jokowi untuk memimpin Indonesia sekali lagi. Dengan harapan agar Indonesia tumbuh dan berkembang sesuai timeline, kemajuan yang terarah,terstruktur, dan direncanakan hingga akhirnya tampuk kepemimpinannya nanti dilanjutkan oleh next leaders yang matang, terbukti, terpercaya yang juga punya visi membangun yang sama, yaitu Pak Ridwan Kamil dan atau TGB di tahun 2024 (SEMOGA, AAMIIINNN).

Sejujurnya baru kali ini saya begitu antusias mengikuti perkembangan politik negeri kita. Entah mungkin karena udah sampai umurnya ya. Pada pemilu kali ini saya merasa begitu tercerahkan dan tahu betul harus memilih siapa, dengan argumen pendukung yang sangat masuk akal (setidaknya bagi saya).

Tanpa membandingkan dengan oposisi pun, sesungguhnya segala poin plus ada pada diri Pak Jokowi. Kalau ibu saya sering bilang “Kamar aja masih berantakan, gimana nanti klo punya anak, rumah bisa kayak kapal pecah.”. Dalam tahapan mengambil tanggung jawab, kita diarahkan untuk mengambil tanggung jawab yang kecil-kecil dulu, diselesaikan dengan baik, baru challenge diri dengan tanggung jawab yang lebih besar. Ibarat main game, untuk bisa mainin level 70 kita tetap harus start dari level 1.

Nah, Pak Jokowi ini dari level mengurus diri sendiri, keluarga, membangun usaha meubel, mengurus Kota Solo, semuanya itu bisa dibilang tuntas. Pada level mengurus diri, beliau mampu membawa dan menempatkan diri, mampu mengendalikan diri dengan baik, punya kematangan emosional yang baik, bertutur kata yang baik dan bersikap santun, dari sisi keluarga sangat harmonis, cucunya Jan Ethes pun anak yang cerdas, ceria, dan dekat sekali dengan beliau, anak kecil bersikap apa adanya dan keakrabannya dengan beliau menunjukkan bahwa Jokowi adalah seorang figur teladan, yang mengayomi, penyayang, dan lemah lembut. Selanjutnya di level keluarga, anak-anaknya merupakan figur yang mandiri, mengikuti jejak ayahnya membangun usahanya sendiri-sendiri, dan tidak berminat mendompleng masuk ke pemerintahan. Itu menunjukkan Jokowi merupakan figur yang realistis dan menanamkan prinsip pada jiwa anak-anaknya untuk mencari suakanya sendiri dan puas dengan hasil usaha dan kerja keras sendiri sehingga mampu berdiri di atas kaki sendiri. Di level perusahaan yang dibangunnya, yaitu usaha meubel, dibangun dari nol, bergerak dengan sangat baik hingga merambah beragam segmen pemasaran lainnya. Di level menjabat Walikota Solo, gak usah dijabarkan lagilah prestasinya ya, udah sekian banyak pemberitaan positif dan gebrakan-gebrakan dalam membangun Kota Solo. Melihat prestasi Jokowi yang gemilang, dia ditarik ke ibukota, disuruh mengurusi kota yang ruwet itu, belum selesai dia buktikan keberhasilannya mengurus Jakarta, ditarik lagi dia untuk ngurus Indonesia, saking hopeless nya bangsa ini akan langkanya putra negeri yang seberkualitas Jokowi. Daripada negeri ini ditangani oleh yang gak jelas visinya dan belom punya track record memimpin rakyat sipil, maka Jokowi is the only option for better Indonesia.

Satu periode sudah berlalu. Janji-janji yang diucapkan Jokowi tahun 2014 silam tidak semuanya terpenuhi. Hutang membengkak, hutang tertinggi dalam sejarah Indonesia sejak merdeka. Dan segala kekurangan itu dijadikan bahan untuk framing Pak Jokowi agar tidak dipilih lagi. 2019 ganti presiden katanya. Dibumbui isu-isu agama dan membalut semua kekurangan Jokowi itu sebagai musibah besar bagi agama dan negara kita. Rezim laknat dan zalim katanya. Sedih sekali rasanya, orang setulus Jokowi difitnah demikian.

Padahal, kalau kita mau menelaah dengan jernih, banyak membaca dan menimbang dari berbagai sumber, tidak hanya dari Jokowi, menteri-menterinya, kritikus-kritikusnya, media-media supportif, netral, maupun oposisi, kita akan dapat pengetahuan yang berimbang. Dengan membuka mata seluas-luasnya, kita dapat melihat dari berbagai perspektif, kenapa begini kenapa begitu, apakah bisa dimaklumi ataukah fatal sekali. Sehingga gak seenak jidat main hakim sendiri. Terlebih lagi tokoh-tokoh yang seharusnya jadi panutan malah menggunakan influence yang dia punya dengan menyebarkan kecenderungannya tanpa argumen rasional dan terbukti.

Dalam 5 tahun Jokowi sudah menunaikan tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab orde baru, melakukan pembangunan yang merata dari paling barat sampe paling timur Indonesia, gak cuma Jawa sentris, itu suatu hal yang luar biasa. Jokowi dengan sangat berani mengambil langkah itu dengan resiko yang gila-gilaan demi pemerataan pembangunan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Langkah brutal yang belum pernah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin kita sebelumnya, langkah yang teramat berani dan memuji beliau secara berlebihan pun rasanya takkan cukup. Beliau bekerja dengan hati, punya rasa empati yang tinggi terhadap seluruh rakyatnya di pelosok negeri. Beliau turun langsung menyaksikan daerah terluar Indonesia betapa terbelakang dan tak diperhatikan pemerintah terdahulu. Meskipun beberapa janji kampanye terdahulunya tidak terpenuhi, tapi semuanya akan segera tercek list kalau infrastruktur udah selesai. See? Pak Jokowi berpikir runut. Yang dasar dulu dibenahi, pondasi awal dulu dikuatkan, barulah janji-janji itu bisa terealisasi. Sebenarnya Pak Jokowi bisa aja penuhi janji-janji itu duluan, tapi pencapaian itu akan lenyap gak berbekas, atau akan susah sekali terealisasi dengan cost yang sangat besar karena gak punya pondasi infrastruktur yang baik. “Kami tidak makan infrastruktur! ” kata orang kota yang makan nasi,berasnya diangkut dari petani di desa lewat jalan raya. Malahan yang dituntut subsidi BBM dan sembako, masyarakat kita mentalnya minta disuapin pemerintah terus, bukan usaha ndiri. Minta dikasih ikan aja, dikasih pancingan gak mau, mental maunya serba instan. Menuntut hal remeh temeh tapi yang besar diabaikan. Memenuhi semua janji kampanye tanpa membangun infrastruktur ibarat mengikis puncak gunung es, yang dikikis cuma atas-atasnya aja, muncul lagi, muncul lagi gak kelar-kelar. Karena gak bisa menakar kedalaman akarnya yang melebar di bawah permukaan laut tak terlihat. Nah Pak Jokowi ini udah menandai akar di dasar itu duluan, kalo itu diangkat, semua sampe puncaknya jadi keangkat. Jadi terimalah segala usaha pak Jokowi dan segala kekurangannya, bersabarlah. Kalo infrastruktur selesai, perekonomian makin lancar dan kuat, pemasukan ke negara makin besar, hutang negara akan cepat terlunasi. Jadi jangan takut berhutang banyak kalo diinvestasikan ke arah yang benar. Pak Jokowi ini businessman sejati, mengelola negara layaknya mengelola perusahaan. Dan semua businessman pasti punya hutang, biasanya makin besar usahanya maka makin besar pula hutangnya. Negara pun begitu, semakin maju sebuah negara maka semakin besar hutangnya, seperti Amerika dan Jepang. Kita bisa lihat pattern nya. Cara kerja Pak Jokowi ini terpola dengan baik. Dikira mudah membenahi negara luas dengan populasi bengkak dan sistem yang kacau balau? Siapa yang sanggup selain Pak Jokowi? Sabar dan dukung. Sami’na wa atha’na. Indonesia lagi merangkak perlahan, lagi tumbuh dan berkembang dengan bagus-bagusnya. Meskipun bergerak pelan sekali, tapi ke arah yang lebih baik. Di balik segala kekurangan dan keburukan yang mungkin pernah dilakukan -well, manusia tak luput dari salah dan khilaf-, Pak Jokowi masih menjadi pilihan terbaik di tahun 2019 ini.

Kalau saya menganalogikan negara kita saat ini sesederhana ini : kalo kamu punya anak umurnya udah 5 tahun tapi baru bisa merangkak, trus ngomong cuma tau Papa Mama, tapi dia ceria dan sehat fisiknya. Apa yang akan kamu lakukan? Support perkembangannya sambil terus bersabar juga bersyukur, atau malah kamu bunuh dan ganti anak lain yang dikira ‘lebih sempurna’?

Kalo saya punya anak suatu saat nanti, akan saya syukuri apa adanya dan saya support perkembangannya. Karena dia adalah anugerah, dia telah ditakdirkan bersama saya, maka saya adalah orang tua terbaik yang Allah titipkan untuk dia. Syukuri dan gali potensinya. Lihat, telaah, gali potensi dan rangkul apa yang kita punyai sekarang dulu tanpa perlu tergiur dengan iming-iming yang belum terbukti. Every child is special. Every person is special.

Oke oke, Pak Jokowi orang baik, tapi dia kan presiden boneka, di belakangnya orang2 gak bener semua! Hmmm, ya, di antara dua pilihan buruk pilihlah yang mudharatnya paling sedikit, yang utama adalah pemimpinnya, bukan orang2 di belakangnya. Kalo pemimpin baik,semua ikut baik. Kalopun kamu merasa orang2 belakang pak Jokowi itu gak bener dan kamu merasa tertindas, solusinya jadilah orang baik, pinter dan kaya. Trus bikin partai dan nyalon jadi presiden yang baik trus aturlah negara ini. Kita lihat saja,sekuat apa kamu menahan godaan harta dan tahta, semoga tidak terjerumus seperti orang2 gak bener yang kamu teriaki di belakang Jokowi itu. Kalo saya pribadi cuma percaya apa yang terjadi saja, segala yang terjadi pasti atas izin Allah, Allah menaruh Jokowi di tengah-tengah orang yang menurut kita ‘tidak baik’, faktanya Indonesia lebih baik di tangan Jokowi dan saya tidak punya opsi yang lebih baik dari itu. Dan saya pun meyakini dalil Al-Qur’an “Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Dan saya merasa golput bukanlah sebuah pilihan. You can’t be indifferent in this life, however bad life can be, you have to take side to prevent something worse coming. Set the priorities right. Saya pernah membaca bahwa komposisi dunia ini 10%, 10%, 80%. Masing-masing 10% adalah yang kuat baik dan kuat ‘jahat’, sisanya 80% hanya follower. Yang mana yang paling kuat di antara 10% itulah yang akan menentukan kemana arah perkembangan kelompok tersebut. Kalo lebih banyak yang memilih untuk tidak memilih maka akan memengaruhi keabsahan hasil akhir. Ibarat kamu bikin polling di instagram. Followermu 3000, tapi yang merespon pollingmu cuma 2 orang, eh itupun beda pilihan, jadi hasilnya 50:50. Hasil polling itu menunjukkan apa? Hmm sedih kalo harus mengatakan ini : itu artinya yang peduli sama kamu cuma 2 orang,sisanya 2998 orang followersmu bodoamat, berteman tapi kayak gak berteman. Begitu juga dengan pemilu, bagi yang golput apapun alasannya dan caranya, itu artinya bodoamat dengan negara ini. Kita tau politik itu kotor, orang-orang di dalamnya tak bisa dipercaya, tapi kita bisa menelaah siapa yang lebih dibutuhkan negara ini. Terlebih lagi jika yang bertanding kita curigai sebagai orang-orang yang ‘buruk’ yang berpotensi membawa negara ini pada kehancuran, berarti kita menyerah (bersikap apatis) pada kezaliman alias membiarkan diri sendiri dizalimi (masokis), seharusnya kita bisa memilih yang terbaik dari yang terburuk. Tapi lagi-lagi di dalam yang baik ada jahatnya, di dalam yang jahat ada baiknya. Tergantung perspektif kita dan doa serta harapan kita yang akan mempengaruhi segala hal secara keseluruhan. Saya sangat setuju dengan paparan Mbak Najwa Shihab berikut ini, yaitu alasan basi tidak ikut Pemilu 2019 berikut ini.

Lihatlah kubu oposisi, gak jualan apa-apa selain menyebar ancaman, ketakutan, dan konspirasi. Siapa yang bisa jamin kalau agama kita akan terselamatkan dengan ganti presiden? Meski didukung ulama, apa gagasan yang ingin disampaikan oleh kubu sebelah? Langkah konkrit apa yang akan dilakukannya untuk menyelamatkan agama? Yang saya amati hanya gaungnya aja kenceng “selamatkan agama kita, kalo rezim ini berkuasa lagi, agama kita akan hancur”. Pertama : coba tolong definisikan dengan baik, terstruktur, dan terarah, agama Islam akan hancur itu seperti apa? Tanda-tandanya apa? Ulama ditindas, ulama yang mana? Apakah yakin itu ulama? Siapa namanya? Dimana kejadian penindasan itu? Yang teriak2 peduli ulama ayo datangi ulama yang ditindas itu langsung, cari tau kebenarannya, apa iya ditindas? Kalo iya lapor dong, jangan teriak2 mempengaruhi orang lain di sosmed aja tapi gak ada bukti. Lalu langkah nyata apa yang akan dilakukan tim sebelah untuk ‘menyelamatkan’ agama yang katanya akan hancur ini? Adakah tersampaikan dengan baik di visi dan misinya? Coba baca dengan baik, visi dan misi masing-masing kubu, dan telaah dengan rasional, pasangan mana yang punya visi misi yang spesifik, terarah, dan achievable? Bisa dilihat dari visi misi yang singkat, padat, lugas, terarah biasanya jelas mau membawa negara ini kemana. Tapi kalau visi dan misi bertele-tele dan gak bisa ditangkap maksud dan tujuannya biasanya dia sendiri gak jelas dan gak tau mau bawa kemana arah negara ini. Seperti kata Mbah Einstein : If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough. Jika kamu gak bisa menjelaskan sesuatu secara mudah/simpel, berarti kamu gak cukup mengerti apa yang kamu bicarakan. Ini saya lampirkan igstory Mbak @scorpioritta yang ngena banget.

Oh katanya gak mau negara kita jadi kayak Singapura yang dikuasai cina komunis (katanya -_-). Ngomong begitu tapi liburannya ke Singapura juga -_- ,nyaman toh di negara cina komunis? Pengen tinggal di Singapura, UK, atau Amerika tapi bikin negara sendiri kayak Afghanistan, miris. Negara-negara maju yang sudah tertata rapi, menjunjung tinggi dan menjamin kebebasan berpendapat, menghargai perbedaan, melindungi semua penduduknya apapun kepercayaan dan golongannya, sehingga membuat orang2 dari negara acak adut kayak kita terkesima dan senang membuang uang untuk liburan atau sekalian minggat dan menetap di sana. Coba definisikan dulu apa itu cina komunis, jangan-jangan ngerti aja kagak -_-. Lah negara kita ini, mau ditata rapi eh malah rakyatnya yang menolak. Diajak maju kok gak mau. Memuji dan kagum berlebihan dengan negara orang, tapi negara sendiri dihina dan kemajuannya dihambat. Mindset masyarakat kita masih banyak sekali yang begini, menggunakan logika terbalik. Bermanis-manis menjilat orang lain, tapi sama anak/istri/suami sendiri menghina dan marah-marah terus. Ibarat anak tetangga dipuji karena pinter, eh anak sendiri dihina karena bego gak ketulungan. Lah, sadarlah buk, pak, anak pinter karena ortunya pinter, menanamkan mindset berpikir yang benar, kebiasaan unggul yang dibangun dengan baik dari kecil. Kalo anak bego? Ya jawab aja ndiri. Kalo si anak bisa jawab, dia bakal bilang “Lah, mamak juga bego, gak pinter kayak mamak tetangga!” Nah lho.

Kalo saya liat, masyarakat kita ini suka sekali makan teori konspirasi, daya imajinasinya sebenarnya bagus sekali tapi sayangnya sampai-sampai membuat mereka berhalusinasi dan mempercayainya, sangat gampang sekali disetir oleh pemakaian label-label yang menakuti. Ditakut-takuti agama akan hancur eh tapi dianya sendiri masih menggampangkan shalat. Yang membuat agama itu hancur ya diri sendiri, bukan orang lain, wake up! Coba kaji diri sendiri, apakah rukun Islam sudah kita tegakkan pada diri sendiri? Kalo shalat aja masih bolong, gak tepat waktu, puasa juga gak, bayar zakat boro-boro, ngaji belum lancar, bahkan pelafalan makharijul huruf dan tajwid saja masih tidak tepat, lantas teriak-teriak SAYA BERJIHAD MEMPERJUANGKAN AGAMA ALLAH! Islam seperti apa yang ingin diperjuangkan sebenarnya? Tanamkan nilai Islam dengan benar dulu di dalam diri sehingga menjadi rahmatan lil ‘alamin, menebar manfaat ke banyak orang, selamatkan lingkungan hidup kita, ke bumi dan seluruh isinya, perbaiki akhlak dan jauhi prasangka, lalu capai taqwa barulah boleh merambah ke hal yang mengatasnamakan ummat, supaya apa? Supaya runut, semua dimulai dari diri sendiri, supaya sinkron antara kelakuan dan ucapan, jangan halu. Apakah pantas menyebut diri Islam padahal belum berislam dengan sepenuhnya? Jujurlah pada diri sendiri, bahaya lho, kalo kelakuan sekuler tapi pemikiran radikal, gak sinkron. Apa pantas dengan kualitas diri demikian menyebut diri ‘berjihad atas nama Islam’? Oh come on.. Jihad untuk mengislamkan diri sendiri aja dulu. Jihad itu bukan cuma modal suara lantang ALLAHU AKBAR. Sebenar-benarnya jihad adalah mengendalikan hawa nafsu di diri sendiri. Sesungguhnya diri sendirilah yang menghidupkan atau menghancurkan agama. Karena agama itu adanya di hati masing-masing, sebuah nilai dalam menjalani hidup, bukan sekedar label atau atribut yang disokong dan digaung2kan kayak bawa bendera partai. Ini malah berlomba-lomba menampakkan atribut seolah paling Islam, tapi kualitas ibadah dan kelakuan minus, rukun Islam terbengkalai. Ngumpul-ngumpul di GBK atas nama memperjuangkan Islam, tapi ibadah gak sesuai tuntunan Islam. Menyelamatkan diri sendiri saja belum sanggup, jangan sok-sok merambah ke hal yang besar dan bawa-bawa nama ummat. Sedih rasanya agama yang jadi pegangan hidup kita malah dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan duniawi namun dengan cara yang tidak sesuai syariat. Cobalah melihat dengan lebih jelas, ini hanya permainan sentimen semata, karena negara kita mayoritas muslim, jadi atribut agama kita dijadikan alat untuk memperoleh massa dukungan. Sedangkan kebanyakan dari kita yang cuma Islam ala kadarnya langsung kepancing gara-gara agama kita dibawa-bawa, takut agama kita dirusak dan digantikan dengan pemahaman lain yang asing di telinga, padahal diri sendiri saja tidak melaksanakan tuntunan agama dengan benar, masih milih-milih ngerjain yang gampang-gampang aja, yang menyusahkan gak usah dikerjain. Tak bisa menentukan prioritas, bahwa diri sendiri dan keluargalah yang harusnya diurusi dulu. Beragama untuk diri sendiri saja belum baik tapi malah fokus takut ke hal asing. Ketakutan pada label-label asing. Takut akan suatu hal yang tidak dimengerti. Ketakutan tak beralasan yang merupakan buah dari kebodohan. Kebodohan yang bermula dari kemalasan. Kemalasan mencari tahu, kemalasan mengasupi diri dengan wawasan dan pengetahuan dari segala sisi. Belajar lagi, komunisme itu apa? Khilafah itu apa? Jangan-jangan teriak pengen mendirikan negara khilafah tapi definisinya aja gak tau, sistem seperti apa yang akan dipakai, hukum bagaimana yang akan ditegakkan, coba bayangkan kira2 negara kita bisa gak dijadikan seperti itu. Coba imajinasikan dalam kepala, kamu bakal sanggup gak hidup di negeri dengan sistem khilafah? Masih relevan tidak jika diterapkan di zaman sekarang? Tabayyun dulu coba. Jangan asal judging. Terima seenaknya apa yang disuntikkan ke kita tanpa mengkritisi terlebih dahulu. Coba definisikan negara yang kamu senang hidup/liburan di dalamnya : Singapura, Jepang, Amerika, UK. Ya, kamu senang hidup/sekedar liburan di situ kan? Itu negara-negara maju. Coba pelajari sistem bernegara mereka, itu goal yang ingin dicapai negara kita, menyusul mereka, menjadi negara yang maju. Perkuat diri sendiri dengan berpikir kritis dari sisi ilmu pengetahuan, agama, tauhid, tegakkan rukun iman dan Islam, bentengi diri dengan iman, dengarkan pendapat siapa saja termasuk fatwa ulama, tapi jangan perlakukan fatwa sebagai dalil, tidak ada kewajiban seorang mukmin untuk mengikuti pendapat ulama. Karena ulama juga manusia biasa, bisa khilaf dan salah. Ulama hanya berkewajiban menyampaikan pendapatnya, pandangannya terhadap suatu fenomena sosial disokong dengan dalil Qur’an dan Hadits. Namun ingat, pendapatnya bukanlah dalil. Jika terjadi perbedaan pendapat maka kembalikan lagi ke Quran Hadits.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An-Nisa’ : 59]

Yang jadi pegangan hidup kita cukup dua : Al-Qur’an dan Hadits, gak lebih. Kita wajib mengikuti Qur’an dan hadits dalam menjalani hidup ini tapi tidak ada kewajiban mengikuti fatwa ulama. Gak ada tuh di Qur’an Hadits kita wajib memilih nama tertentu dalam pemilu. Apalagi kalau yang dijadikan dasar memilih bukan dari Qur’an hadits, hanya berbekal pandangan mata batin seorang ulama kasyaf? Wah sungguh bisa menyesatkan, gak ada tuntunannya itu. Silahkan baca artikel ini mengenai apa itu ulama kasyaf : https://islami.co/kasyaf-dijadikan-panduan-memilih-capres-catatan-untuk-ustadz-abdul-shomad/. Agama Islam itu milik kita, milik umat Islam, milik siapa saja yang mau mempelajarinya, bukan milik ulama saja. Kalau ada yang tidak dimengerti coba belajar lagi, telaah Qur’an dan hadits, tanya pendapat dari banyak ustadz, liat banyak pemahaman, dan tetapkan pilihan untuk diri sendiri, jangan cuma ikut-ikutan. Kalo orang masuk neraka, kita mau ikut masuk neraka juga? Di hari akhir nanti akan Allah pertanyakan dan dimintai segala pertanggung jawaban selama kita hidup di dunia, kenapa kita memilih ini dan itu, apakah kita secara tidak sadar telah zalim kepada sekelompok orang. Jangan jawab kita ikut si A karena kita gak paham dan malas mencari tahu,sedangkan kita kira si A lebih paham padahal belum tentu. Pas ujian aja kita gak boleh nyontek meskipun nyonteknya ke anak yang ranking 1, karena belum tentu jawaban dia bener semua. Giliran kamu nyontek jawabannya yang kebetulan salah gimana? Hayolo… Segala yang kita putuskan dan perbuat di dunia ini akan dihisab, kita akan dihisab sendiri-sendiri. Tidak boleh taqlid buta, harus punya argumen atau landasan berpijak atas pilihan diri sendiri. Allah sudah memberi kita akal pikiran masing-masing. Maka berpikirlah, punya prinsip dalam hidup yang diperoleh dari proses berpikir. Seperti ayat di Al-Qur’an : Maa tatafakkaruun? Mengapa kamu tidak berpikir?

Negara ini punya masalahnya sendiri. Gak bisa disama-samakan dengan negara lain. Gak perlu banding-bandingin kok negara lain dalam 5 tahun udah bisa ini itu bla bla. Ya gitulah, jawabannya ya karena kebanyakan warga negara ini sibuk ngurusin urusan orang lain tanpa berkaca pada diri sendiri. Masalah negara ini ya disini. Di diri kita sendiri.

Different struggle

Different approach

Different time spent

Indonesia punya kesulitannya sendiri, hanya bisa diatasi dengan pendekatan-pendekatan tertentu yang cuma orang2 kompeten dan ahli yang mengerti itu. Dan hasilnya gak cukup hanya dinilai/diukur dalam waktu 5 tahun. Butuh 2 periode Pak Jokowi agar (semoga,kita doakan) tuntas merealisasikannya, dan baru akan terasa hasilnya dalam 15-30 tahun ke depan. Semoga pola pembangunan ini terus konsisten dan tidak banyak aral melintang yang berarti.

Well, argumen saya bisa saja salah. Dan saya menerima segala masukan asalkan rasional dan beralasan. Lagipula tulisan ini hanyalah opini, bila menurut pembaca kubu oposisi yang terbaik, ya silahkan, bebas. Negara ini menjamin kebebasan berpendapat kan.

Btw segala hal baik dan buruk melekat pada setiap hal di dunia ini, begitu juga manusia. Sebaik-baik Pak Jokowi pasti ada celanya. Seburuk-buruknya oposisi (menurut saya) pasti ada baiknya. Kita cuma bisa doakan saja, siapapun yang terpilih nanti semoga menjadi pemimpin yang adil dan amanah. Kepada pemimpin kami : sami’na wa atha’na. Kami dengar dan kami taat. Kami percaya Allah sudah takdirkan yang terbaik untuk negara ini.

Di balik segala intrik politik, kita sebagai warga negara yang baik haruslah banyak-banyak mengedukasi diri sehingga mampu membedakan orang-orang dengan niat baik dan tulus yang ingin memajukan negeri. Indonesia negara besar yang punya kekuatan yang sangat besar jika kita bersatu padu. Cerdaskanlah diri sendiri dan jangan mau dicerai-berai oleh isu-isu perbedaan. Memang Indonesia berbeda-beda kok, kenapa kita gak menghargai perbedaan yang merupakan rahmat dan karunia Allah? Bedakan pemimpin yang memiliki niat tulus untuk menjadikan negara berflower ini naik kasta menjadi negara maju, negara yang tertata rapi, yang bersih, yang orang-orangnya beradab, yang membuat warganya nyaman hidup di dalamnya. Negara yang orang-orang senang menghabiskan liburannya di sana, bukan buang-buang uang ke negara lain yang rapi dan bersih sekali, sedangkan negara kita yang jorok dan kacau ini ditinggal aja gak usah dipikirin. Jangan gampang ketipu dengan isu-isu perpecahan yang dilempar oleh segolongan oknum tak bertanggung jawab demi meraih kekuasaan. Jangan mau diadu domba, berpikirlah dengan rasional, jika ada yang terlihat mengadu domba kita dengan kelompok lain jangan tersulut emosi, tabayyunlah ke kelompok tersebut, apakah benar demikian, buktikan sendiri. Jika seseorang ingin meraih kekuasaan dengan niat yang baik dan tulus, pasti dengan cara yang baik dan tulus juga. Jika caranya tidak baik, maka patut dipertanyakan niatnya. Ingat, goal kita adalah menjadikan Indonesia negara yang lebih tertata dengan sistem pemerintahan yang lebih rapi dalam melayani masyarakat dan memiliki ekonomi yang kuat, dan kedua hal itu sudah tampak perlahan tetapi pasti di era Jokowi. Dengan perekonomian sekarang dan terus konsisten seperti ini, kita diprediksi masuk 10 besar peringkat negara dengan perekonomian terkuat sedunia pada tahun 2050 lho, sangat tak terprediksi di luar dugaan. Check it out :


Umur saya nanti udah 60 tahun, semoga masa tua nanti hidup jadi lebih mudah. Tapi itu kalo kita terus konsisten dengan pola pemerintahan ini, tauk deh klo ganti presiden, bisa jadi ganti sistem lagi dan mengacaukan pembangunan dan perekonomian yang sudah berjalan.

Apa-apa mahal dan Dolar meroket? Belajarlah ilmu ekonomi lebih banyak, dan pahami kenapa bisa begitu. Jangan cuma jadi warga negara yang nyinyir tukang ngeluh. Negara adalah hasil gotong royong, jika memang saatnya lagi mahal ya pahami, sabari dan syukuri. Kalo serba mahal, anggap kamu lagi bergotong royong, lagi urunan/patungan, bahu-membahu sedekah ke negara demi kelancaran aliran ekonomi. Di Jepang aja sekali naik bus bayar 220 Yen setara dengan Rp27.000. Kalo disini? Naik Busway masih Rp3.500-Rp5.000. Apa masih mahal tinggal di Indonesia? BBM naik karena subsidi dicabut, dialihkan ke pos-pos yang lebih penting seperti dana bantuan untuk orang miskin supaya segera lepas dari kemiskinannya. Syukurilah punya menteri dengan kualitas internasional yang mengurus aliran uang kita, percayakan uang kita padanya, beliau orang yang berpendidikan dan amanah. Jika gak bisa ditolerir lagi ditandai dengan perkembangan ekonomi yang stagnan/gak berkembang, menimbulkan kesengsaraan kayak di Venezuela barulah boleh teriak-teriak ganti presiden. Tapi kalo masih bisa makan sehari-hari, beraktivitas seperti biasa, dapat bantuan dana dari pemerintah, jalan-jalan raya dan bandara-bandara bagus, pembaruan moda transportasi, rejeki melimpah bahkan bisa jalan-jalan liburan ke luar negeri, kok mau-maunya menjelek-jelekkan pemerintahan yang udah ngasih kamu segala kemudahan ini? Oh mungkin kamunya aja yang gak sadar kalo sedang disetir. Masih ngerasa rezim ini lebih buruk dari jaman Soeharto? Hadeuh..
Hadits dari Abu Hurairah di dalam Shahih Bukhari dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (disebutkan): bahwa beliau pernah ditanya: kapan hari kiamat? Maka Rasulullah berkata kepadanya:

«إِذَا وُسِدَ الأَمْرُ إلى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ»
“Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya”.

Maka serahkan semuanya pada ahlinya. Kita gak perlu sok-sok berkomentar kalo gak punya kapasitas di bidang itu. Banyak baca, belajar bahasa Inggris jadi berita yang dibaca gak melulu berita dalam negeri. Baca berita luar dan ketahui kualitas pemerintahan kita dari perspektif luar negeri. Apa yang dipikirkan orang luar tentang bangsa kita, tentang pemerintahan kita. Apa pendapat orang-orang dari negara lain tentang Jokowi dan pemimpin2 kita sebelumnya.

Buka mata seluas-luasnya, follow orang-orang berkualitas, yang wawasannya luas, banyak jalan, banyak melihat dunia dari beragam perspektif. Ini saya lampirkan testimoni dari orang yang banyak jalan.

Kalo Jokowi terpilih lagi, apa yakin dia akan tetap konsisten kerja kerja kerja dan tetap humble seperti itu? Siapa yang bisa jamin? Well, gak ada jaminan di dunia ini. Kita sebagai manusia cuma bisa doa, usaha, kasih dukungan juga pengawalan terhadap sistem pemerintahan. Kita usaha juga untuk terus mengawal kerja beliau dan timnya, kritisi kalo memang perlu, tapi kalo kerjanya bagus kasihlah apresiasi, jangan dijelekin terus. Ibarat punya anak, dihina-hina terus, kapan bisa berkembangnya? Menyuntikkan pesimisme dan hal negatif terus ke diri orang lain, sesungguhnya merupakan cerminan kepesimisan dan insecurity terhadap diri sendiri. Pemerintah kita, uang kita, kawal terus, dukung, dan terus berdoa kepada Yang Maha Kuasa.

Yang aku yakini : nobody can’t resist kindness and great attitude. Orang dengan niat yang baik terpancar dari kelakuannya dan cara dia membawa diri. Iman terpancar dari akhlak. Mau mengklaim kualitas iman sangat baik di atas rata-rata orang di seluruh dunia pun, tapi kalo tutur kata dan akhlaknya minus, sama dengan bullshit. Jika kita merasa berada di jalan yang baik dan benar, akhlak pun harus baik dan benar. Kepemimpinan adalah keteladananan. Orang yang akhlaknya patut diteladani maka layak dijadikan pemimpin. Mendahului keputusan resmi dan terburu-buru mendeklarasikan kemenangan jauh sebelum proses yang dilaksanakan oleh yang berwenang berakhir adalah suatu sikap yang tidak bijak, tidak sportif, dan menunjukkan akhlak yang tidak baik, karena melampaui kewenangan KPU, berarti attitude nya tidak ada. Ibarat dalam pertandingan, belum dinyatakan menang oleh wasit malah tanpa babibu langsung melakukan selebrasi, kalo ternyata kalah ya malu kan ya? Yang punya akhlak baik dan mampu berpikir dengan baik pasti malu melakukannya. Dalam deklarasi kemenangan itu yang terlihat mukanya lesu dan tak bersemangat hanya Pak Sandiaga Uno. Maka bagi kita yang mengamati, bersikap tegaslah dan katakan yang salah itu salah. Jangan terpancing dan malah membenarkan sesuatu yang salah meskipun itu junjungan kita sendiri.

Ibu saya selalu berkata, “Inyak kalo yang salah tetap Inyak katakan salah, meskipun suami atau anak sendiri. Jangan mentang-mentang anak sendiri kelakuannya salah, tapi karena sayang jadi dibenar-benarin. Itu bukan sayang namanya.”. Sultan Iskandar Muda pun juga menegakkan yang haq dari yang bathil, dengan berani melakukan hukuman pancung pada anaknya sendiri yang melanggar hukum agama dan adat. Putra Mahkota Meurah Pupok  melakukan zina dengan istri perwira, Sultan berkata, “Akulah yang menegakan hukum di negeri ini dan kepada siapapun yang bersalah tidak terkecuali terhadap keluargaku sendiri harus dihukum. Kerajaan ini kuat karena hukum yang ditegakan dan adanya keadilan”. Sultan kemudian menyebut dalam bahasa Aceh – “Gadoh aneuk meupat jeurat, gadoh hukom ngon adat pat tamita? – yang artinya hilang anak masih ada kuburan yang bisa kita lihat, tetapi jika hukum dan adat yang hilang hendak kemana kita mencarinya?. Baca tragedi Meurah Pupok disini : http://habahate.blogspot.com/2009/09/tragedi-meurah-pupok-sang-putra-mahkota.html. Begitulah, yang salah, katakan salah. Yang benar, katakan benar. Be a gentleman.

Allah mengutus Rasulullah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Jadi ingat mata pelajaran waktu SMP : Aqidah Akhlak. Kedua hal itu disejajarkan untuk menjadi sebuah mata pelajaran. Keduanya harus berjalan beriringan. See? Aqidah itu setara dengan akhlak. Aqidah yang benar terpancar dari akhlak yang menyejukkan. Bagaimana mengetahui seseorang punya akhlak yang menyejukkan? Simpel, parameternya adalah kita senang/bahagia ketika sedang bersamanya. Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Orang yang punya iman dan ilmu yang baik dan benar terlihat dari akhlaknya. Semakin tinggi ilmu yang dipunya maka semakin kecil egonya. Seperti padi, makin berisi semakin merunduk. Be that kind of person. Jika akhlak diri saja belum baik, berarti di level mengurus diri sendiri saja belum becus, bukan? Apakah bisa dibayangkan jika orang seperti itu diberi kekuasaan? Kayak Game of Thrones, King Joffrey I Baratheon yang emosinya belum stabil dikasih tahta untuk memimpin kerajaan, mengambil keputusan apapun atas dasar emosi, memberi perintah asal-asalan dan gampang sekali memberi titah untuk membunuh orang yang tidak disukainya demi hiburan semata. Coba bayangkan jika tahta kepemimpinan negara kita diserahkan ke orang yang begitu juga, akan jadi apa negara kita. Saya sih bisa membayangkannya, orde baru jilid 2.

Mengenai ‘kecurangan dalam pemilu’, berhenti sebentar di situ. Siapa yang pertama kali menggunakan istilah itu, siapa yang tunjuk siapa? Yang pertama kali berucap bahwa ada kecurangan, silahkan beri bukti yang konkret, nyata, dan laporkan kepada yang berwenang agar diproses. Karena seperti kata Carl Sagan : Extraordinary claim needs extraordinary evidence. Klaim yang luar biasa membutuhkan bukti yang luar biasa. Mengklaim/menyatakan seseorang berbuat curang adalah perkara berat luar biasa, jika benar maka ghibah, jika salah maka fitnah. Dan seburuk-buruk tuduhan adalah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebagaimana ayat dalam Al-Qur’an : Alfitnatu asyaddu minal qatl. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Kalo kita cuma dengar dari orang kalo ada kecurangan dan kita bukan saksi utama, alangkah tidak bijaknya jika kita ikut membagikan kabar angin tersebut. Allah menyuruh kita untuk tabayyun/klarifikasi/cek n ricek kebenarannya sebelum membagikan kabar. Yuk kita lebih banyak mempertimbangkan segala sesuatu sebelum kita bagikan di sosmed. Teliti sebelum membagi. Mari tabayyun.
“Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.” [al-Hujurât/49:6]. Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/3445-mengapa-mesti-tabayyun.html. Whatever you think, think the opposite. Bisa jadi yang teriak curang adalah orang yang melakukan kecurangan. Maling teriak maling. Segala kemungkinan bisa saja terjadi kan~. Kalau ‘kemenangan’ nya dideklarasikan sebelum keputusan resmi, disertai dengan mengatakan orang lain curang, ‘bukti-bukti pendukung’ menyusul belakangan, bukannya lapor duluan ke Bawaslu, tidakkah aneh? Kayak melakukan kriminalitas tapi gak terstruktur, sulit dipercaya. Seperti penjahat-penjahat di film Home Alone, penjahat bodoh yang sama anak kecil aja bisa kalah. Dagelan~ Tapi sedihnya banyak pula yang percaya -__-. Harusnya kan kalo mau nyusun kriminalitas yang niat sekalian, kasih bukti-bukti yang membuat publik betul-betul tercengang, level negara gitu lho. Ini malah katanya hacker lah padahal cuma ketik –help di command prompt Linux, form C1 dipalsukan lah padahal sangat bisa dibedakan yang asli ada hologramnya. See? Sasarannya orang awam yang gak punya ilmu dan wawasan disitu. Membenturkan antara orang awam yang fanatik dari kedua kubu sehingga chaos dan memaksa KPPS bekerja ekstra berkali-kali lipat untuk mengulang-ulang memeriksa dan meneliti kembali letak kesalahannya dimana. Bisa jadi aktor yang memalsukan C1 Plano itu adalah fans-fans fanatik yang menghalalkan segala cara agar junjungannya menang. Hingga yang terjadi apa, petugas KPPS yang kelelahan satu-satu berjatuhan, gugur dalam tugas menghandle chaos dari orang-orang awam ini. Tidakkah merasa berdosa, melempar isu, menciptakan kerusuhan, menuduh curang, sehingga petugas kebingungan dan kewalahan sehingga terjadi error terus menerus, salah input berkali2 karena tidak tahu lagi yang mana yang bisa dipercaya, sampai membuat petugas kelelahan luar biasa bahkan sampai ada korban yang meninggal?

Pemilu 2019 ini awalnya seru dan lucu sekali, meskipun berakhir dengan tragis dan memakan korban, sampai saat ini sudah 91 orang petugas KPPS yang meninggal dunia. Nyawa manusia menghilang karena kelelahan yang teramat luar biasa, udah pilpres dan pileg serentak, ditambah serbuan penyebar hoax dan adu domba. Sekilas dilihat di kedua kubu sama2 tak bisa dipercaya. Ada putih di dalam hitam, dan ada hitam di dalam putih, seperti filosofi Tionghoa Yin Yang. Yah, begitu juga hidup ini. Kita semua pun begitu. Tidak ada yang penuh kesucian, dan tidak ada juga yang penuh kebiadaban. Seperti soundtrack Wiro Sableng : ” segala yang ada di dalam dunia ini terdiri atas dua bagian… Yang berlainan namun merupakan pasangan, semuanya tak dapat terpisahkan… ” Yeah, bertolak belakang namun saling melengkapi. Jadi tidak tepat dan naif sekali rasanya jika kita terlalu fanatik dan mengagung-agungkan sesuatu. Karena kefanatikan menuntun kepada kesesatan bahkan korban jiwa.

Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah~. Huh tak perlulah kita terlalu memikirkannya, dunia hanya senda gurau semata. Jangan sampe gara2 ngomongin pilpres gak berkesudahan malah kerjaan terbengkalai dan lupa prioritas. Dunia itu kejam, hal yang bisa kita jaga dan rawat hanyalah keluarga. Dengan merawat dan mengajarkan keturunan kita nilai-nilai baik, maka kita sedang turut andil menciptakan dunia yang lebih baik. Harta yang paling berharga adalah keluarga~

Oh ya, dan selain keluarga, persahabatan dan pertemanan adalah juga yang paling utama. Jadi tak perlulah kita gontok-gontokan membela elit politik, karena toh pada akhirnya kita juga gak dapat apa-apa dari itu. Mereka hanya bertukar pasangan dengan sesamanya yang kalo ditelaah itu lagi itu lagi. Dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Yang abadi hanyalah kepentingan. Maka dari itu ayo rangkul kembali teman-teman kita, dan mohon maaf jika menggunakan kata-kata yang menyakitkan selama berseberangan pandangan. Ini saya lampirkan komen yang cukup menggugah di Youtube dan juga quotes dari film legendaris The God Father. Semoga menginspirasi.

pinter

2.-15-Approachable-Quotes-From-The-Historical-Movie-The-GodFather-You-Need-To-See

Daripada buang-buang energi gak berkesudahan ke hal-hal yang gak bawa faedah, kenapa gak alihkan fokus kita ke hal yang lebih nyata : diri sendiri, keluarga, alam lingkungan. Set priorities right. Kalo diri sendiri udah beres, naik level ngurusin keluarga, jaga, rawat, dan tanamkan nilai-nilai yang baik dan benar dalam keluarga kita. Kalo keluarga udah jempolan, naik level lagi ke tanggung jawab yang lebih besar lagi : lingkungan hidup, kelestarian bumi, dan alam semesta. Jadilah rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta. Saat ini ancaman lingkungan begitu nyata. Manusia berbuat kerusakan di bumi pemberian Allah ini, industri-industri merajalela tanpa ada kearifan sehingga merusak lingkungan hidup. Kita sebagai orang waras, berinisiatiflah dan beri sedikit usaha  untuk kelangsungan generasi kita di masa depan. Lakukan langkah menyelamatkan bumi, sekecil apapun usaha itu. Misal yang paling mudah kita lakukan adalah dengan membatasi pemakaian plastik, bergaya hidup minimalis dan tidak konsumtif, mengonsumsi segala sesuatu sebijak mungkin dan mengembalikan ke bumi juga dengan bijak. Adanya industri-industri kapitalis yang mengeruk kekayaan bumi berawal dari memanfaatkan perilaku konsumtif manusia. Maka sepertinya kita harus lebih berinisiatif untuk bijak dalam apapun yang kita konsumsi, apapun yang kita ambil dari alam. Karena apa yang kita lakukan, itu yang kita tuai. Kerusakan di bumi saat ini sungguh nyata. Salurkan ide dan ciptakan inovasi penyelamatan bumi untuk masa depan generasi kita yang lebih baik.

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) [ar-Rûm/30:41]

Ini ada inspirasi dari seorang anak berumur 16 tahun bernama Greta Thunberg, seorang aktivis politik yang bekerja untuk menghentikan pemanasan global dan perubahan iklim. Pada bulan Agustus 2018, ia menjadi tokoh terkemuka yang menginisiasi gerakan  pemogokan sekolah pertama untuk iklim di luar gedung parlemen Swedia. Dan langkahnya menginspirasi anak-anak muda sehingga melakukan gerakan serupa kepada pemerintahan mereka di seluruh dunia, cek di sini.

Btw siapapun presidennya, kita tetap harus usaha sendiri-sendiri juga untuk melangsungkan hidup kan. Akhir kata, maafkan jika ada yang tidak berkenan, hanya mencoba berbagi dari sudut pandang saya. Bagi yang berbeda pilihan, semoga membuka perspektif baru. Yang penting, walau berbeda pilihan, kita tetap bersaudara, oke? Peace, love, and gawl.

Salam~

Mediocre

Kita keluarga sedang-sedang aja, gak kaya-kaya kali, gak miskin-miskin kali juga

-Ayah

Menjadi mediocre, mungkin bagi sebagian orang adalah pilihan hidup, bagi sebagian lain merupakan impian, sebagian lainnya bahkan berpikir itu bencana. Menjadi mediocre, dimana effort yang dikeluarkan untuk tetap berada di posisi itu tidaklah sesulit jika berada di kalangan atas atau bawah. Menjadi mediocre, menjadi tetap berada di zona aman dan nyaman.

Suatu ketika, Ayah sudah mampu membeli mobil baru. Sangat mewah untuk standar kami orang mediocre ini. Selama sejarah hidup kami, mobil-mobil yang dimiliki Ayah second semua, gak pernah beli baru.

Ketika aku mengendarai mobil baru ini dan tanpa disengaja melewati sekolah SMA ku, tercetus omongan Ayah, “Apa pernah selama SMA dulu terpikir kita akan punya mobil baru kek gini? “. Kujawab, “Gak Yah, berarti sekarang kita bukan orang sedang lagi ya? “. Ayah jawab, “Kalo ayah masih miskin. Kalo kamu masih tetap orang sedang.”. Kujawab lagi, “Iya yah, kita orang sedang, sedang menuju kayaaaa *dengan intonasi ala Coki Muslim*”.

Ayah ketawa meremehkan. “Apanya kaya, makanan aja dibuang-buang, tu kan sama aja buang-buang uang. kapan kaya nya kalo gitu”.

Dan percakapan ini berakhir dengan ketidakpedulianku. *Ayah memang suka sekali hiperbola. Makanan yg dibuang itu ikan teri yang udah digoreng seminggu gak ada yang sentuh. Siapa yg mau makan kalo gitu?*

Formula Kehidupan

Selama 28 tahun saya hidup, saya merasa sudah merumuskan suatu pemikiran yang saya pegang sendiri demi kemudahan hidup saya. Apakah itu?

Sesuai motto hidup saya : karena hidup tidaklah mudah, makanya jangan dipersulit.

Motto itu sendiri saya rumuskan dan pegang setelah melalui berbagai kesulitan hidup yang saya alami, tuntutan orang tua yang terus-menerus menyuruh tanpa henti dari sejak saya bisa mengingat. Saya merasa hidup saya banyak sekali dituntut, dibandingkan teman2 lain yang bebas menghiasi masa kanak2nya dengan bermain, sedangkan ingatan masa kecil saya seputar panggilan inyak saya dari dapur : “Tiaaaaaaaaa”. Dan panggilan itu selalu bikin was-was dan tak bisa menolak segala suruhan pekerjaan tetek bengek rumah tangga.

Berangkat dari motto sederhana “Karena hidup tidaklah mudah, makanya jangan dipersulit”, maka saya melatih pikiran saya untuk berpikir terbalik. Whatever you think, think the opposite. Karena pola asuh orang tua saya mengadopsi jaman penjajahan, harus kerjakan segala suruhan, tidak boleh membantah,tidak menerima kritik, dan penuh intimidasi dari penampakan mimik muka inyak saya. Dan dari sisi ayah saya sebaliknya, penuh guyonan, canda tawa, dan sebagai penerjemah sikap keras inyak. Inyak itu begitu demi kebaikan kamu, supaya bisa kerjain semua, jadi perempuan jangan gak bisa apa-apa. Jadi saya memang diasuh dengan logika terbalik. Dikerasin karena sayang. Dihukum karena sayang. Kalo dimanja berarti gak sayang. Maka saya seumur hidup tak pernah bahkan walau sekali dimanja2, diberikan pujian, diberikan kata2 manis oleh inyak saya. Di sisi lain, ayah saya justru merangkul saya dan sering tiap inyak memarahi saya, ayah datang menyanyikan lagu konyol supaya saya terhibur. Jadi ayah dan inyak saya dua kutub yang saling bertolak belakang.

Dengan metode parenting dari 2 orang berbeda kutub itu menimbulkan trauma sekaligus kebingungan bagi diri saya. Membuat saya kesulitan dalam masa2 pencarian jati diri, saya mau cenderung kemana. Saya menyadari kalo saya keras seperti inyak, tapi juga penuh humor seperti ayah.

Jadi saya melabuhkan kepribadian ini menjadi gabungan dari kedua orang tua saya : strict namun santai. Serius tapi juga main-main. Saling bertolak belakang tapi bisa sejalan.

Dengan demikian saya jadi lebih bisa menikmati hidup. Gak melulu keras, namun juga gak santai terus2an. Gimana cara eksekusinya?

Nah, ini dia formulanya : menerapkan makna Islam pada diri sendiri dengan sepenuh hati. Salama. Islam. berserah diri. terima segala yang diberikan oleh kehidupan ini. Jika positif, rangkul, syukuri, manfaatkan. Jika negatif, terima saja, syukuri, dan belajar dari itu disertai counter attack.

Contoh :

1. Kalo dikatain gendut : “alhamdulillah semok”. “iya saya penuh lemak dan kehangatan”. “ndak papa, i love myself #2019gantibodi”.

2. Kalo dikatain jelek : “iya, trus gimana, apa saya harus cari muka satu lagi buat cadangan trus jadi bermuka dua? ” . “sesungguhnya saya cantik, cuma sial miskin aja”. “gak papa jelek, yang penting masih hidup. Syukuri apaaa yang adaaa hidup adalah anugeraaah”

3. Kalo dikatain ramah : “makasih, kamu juga pasti orang yang ramah.” . “iya saya tau saya ramah, gak perlu diulang2 gitulah, saya kan jadi mualu”. “aaiiihhh bisa ajaaaa *sambil pukul2 manja* *sesungguhnya saya geli menuliskan suggestion ini*”

4. Kalo dikatain pinter : “wah kamu kok tau? Pasti kamu pinter juga dong ya! “. “makasih, segala pengetahuan hanya milik Allah”. “makasih, you made my day”

5. Kalo disuruh perintah atau pekerjaan apapun, lakukan segera, tanpa tunda2, tanpa excuse2, tanpa banyak kata.

See the pattern? Semuanya kalimat positif, gak ada penolakan disitu. Kalo yang menghampiri kita adalah hal negatif ya akui dan counter, kalo sebaliknya yg datang adalah sesuatu yang positif ya akui dan berterima kasih. Nanti akan jadi lucu sendiri, dibawa santai aja.

Karena hidup tidaklah mudah, makanya jangan dipersulit.

Hidup adalah komedi bagi mereka yang berpikir, tragedi bagi mereka yang berperasaan.

Maka banyak2lah mikir, dan kurang2ilah baper, biar hidup ini banyak komedinya.