Motif orang bercerita

Mungkin dia ingin diperhatikan (butuh perhatian)

Mungkin dia ingin meminta solusi

Mungkin dia ingin didengar saja

Maka, respon yang kita berikan harus disesuaikan dengan niatnya dan kapasitas diri kita

Berilah perhatian dan antusiasme ketika dia bercerita

Berikan buah pikiran jika dia menuangkan keluh kesah dan masalahnya

Berilah ia empati dan sinyal bahwa ia didengar

Percakapan ringan sehari-hari (15)

Ayah: “Coba simpan dulu nomor orang Suzuki ni. ” *sambil menyerahkan hp*

Aku: “Siapa namanya?” *sambil mengetik*

Ayah: “Ruslan Suzuki”

Aku: *sambil mengetik* “Untuk apa Ayah simpan? “

Ayah: “Itu tadi dia telepon, dia tanya apa benar ini Bapak Djamaluddin. Trus Ayah jawab iya. Dia bilang mobil kita bisa tukar tambah dengan yang baru. Itu bagus itu. Nanti kita tinggal tambah dikit aja udah dapat mobil yang lebih baru lagi. Itu bisa nanti itu kapan kita hubungi dia.”

Fyi, mobil kami baru beli kurang dari 2 tahun lalu.

Aku: “Kalo orang itu yang perlu, ngapain Ayah yang simpan nomor dia. Itu dia yang perlu kita. Bukan kita yang perlu dia. Tia hapus aja lagi ya. “

Ayah: “Hei kenapa dihapus. Perlu nanti itu kita hubungi dia.”

Aku: “Yah, itu teknik marketing. Dia itu jualan mobil, sales. Dia nelepon Ayah supaya target jualannya laku. Coba Ayah pikir, mobil kita itu belum lagi 2 tahun. Mesin masih baru, jok pun masih bersih. Apa alasan Ayah mau beli mobil baru? Gak ada. Jadi yang butuh bukan Ayah, tapi dia.”

Ayah: “Ya tapi apa salahnya simpan nomor hp dia.”

Aku: “Gak salah. Cuma gak berguna aja. Dia pun bukan kawan atau sanak saudara Ayah. Nomor Ayah pun belum tentu disimpan sama dia, kok baek kali Ayah mau simpan nomor dia. Yang perlu dia, kalo dia mau, dia yang telpon Ayah lagi. Kalau Ayah perlu sama Suzuki, hubungi aja sales yang kita beli mobil kita tu. Kan udah ada ni Santi Suzuki. Itupun kalau Ayah perlu hubungi dia, bukan untuk tukar tambah mobil baru. Karena itu bukan yang Ayah mau sekarang ini. “

Ayah: “…..” *ekspresi kzl namun tak mampu membalas lagi karena semua yang kukatakan masuk akal dan tak terbantahkan.*

Kita semua ada kalanya oleng. Apalagi orang tua yang sudah masuk masa uzur. Mari siap siaga membackup satu sama lain agar segera sadar dan kembali pada track yang seharusnya. Yang membuat orang gak sadar dalam mengambil keputusan adalah ego. Dan jika ego sudah bermain, ingatkan, perhatikan, dan jangan tinggalkan.

Percakapan ringan sehari-hari (14)

Ayah: “Cobalah liat ini, berkali-kali Ayah mau dikirim uang 100juta, 175juta, 200juta.” *sambil menunjukkan HP, sms penipuan berisi selamat menang undian*

Aku: “Oh.. Iya.. ” *sambil lalu*

Ayah: “Kalaulah mau dia transfer ke Ayah, udah banyak duit Ayah 475juta.” *berbicara sambil tetap menatap nanar ke layar HP*

Aku: *menanggapi dengan serius* “Yah, taukah Ayah? Ayah itu orang terkaya. Rumah ada, besar, luas, kebun luas, gaji mengalir terus tanpa bekerja, hutang gak ada, karyawan gak punya, makan selalu enak dimasak Inyak. Jaman sekarang ini Yah, orang-orang yang duitnya bejibun itu udah bangkrut, gulung tikar semua. Sekarang bukan jamannya lagi tumpuk2 duit. Siapa aja bisa hidup mewah sekarang, semiskin apapun bisa merasakan kemewahan tanpa harus menumpuk duit. Jadi Yah, sadarilah kalo Ayah itu orang kaya melebihi kayanya orang2 kaya. Bapak Djamaluddin kaya raya. Jadi gak perlu duit banyak gitu.” *menutup dengan kasih 2 jempol*

Ayah: *masih tetap memandangi isi SMS tipu-tipu itu*

Percakapan ringan sehari-hari (13)

convo 1

Ayah: “Banyak kali kerja Ayah, mau tanam labu ni.”

Aku: “Ngapain tanam labu hujan-hujan gini.”

Ayah: “Ayah mau tanam labu air ni. Makin ditanam pas hujan makin banyak airnya.”

Entah teori dari mana.

convo 2

Ayah: “Bereskan ini. Berantakan kali.”

Aku: “Yang keluarin Ayah, yang pake Ayah. Kenapa gak Ayah bereskan sendiri?”

Ayah: “Ayah ini udah tua…”

Aku: “Dari Tia kecil Ayah udah kek gini…”

Ayah: *menahan tawa kuat-kuat*

Percakapan ringan sehari-hari (12)

Inyak : “Nasinya belum matang, bentar lagi baru matang. Ayah makan nasi dingin ini aja atau mau tunggu sebentar lagi? Terlambat tadi si Tia masaknya”

Ayah : “Teledor sekalii” *geleng-geleng kepala, raut wajah tidak senang*

Inyak : “Tuu teledor sekali Tiaaa… ” *membeo, mengulang ketidaksenangan Ayah*

Aku : “Berarti kurang ya. Baiklah akan Tia tingkatkan”

Ayah : “??” *raut wajah tidak senang + gak ngerti*

Tia : “Akan Tia tingkatkan dua kali, tiga kali, empat kali lagi. Karena teledor sekali saja nampaknya Ayah gak senang. ” *kabur*

Gaslighting

Ucapan “Kamu gak tau apa-apa” yang dilontarkan ketika sedang berdebat adalah salah satu contoh fenomena gaslighting. Penerimanya dibuat mempertanyakan pengetahuan yang dia punya. Kenyataannya: gak ada satu manusia pun yang gak tau apa-apa sama sekali. Berpeganglah pada pengetahuan yang kamu miliki, seminim apapun itu, jangan dibuang, kalo ada yang baru, tambahkan, bukan mengganti yang lama dengan yang baru. Be wise. Wisdom is merging knowledge, connecting the dots.

Percakapan ringan sehari-hari (11)

Kak Listia: “Na, kalo tape nasi tu ditambah air lagi?”

Aku: “Maksudnya?”

Kak Listia: “Misalnya ditambah air gula.. Biar berair dan manis.. “

Aku: “Air yang nampak di tape? Itu gak ditambah.. Air tape itu emang keluar sendiri, hasil fermentasi.”

Kak Listia: “Naaah iyaaa kaann… Airnya harusnya keluar sendiri kaaan.. “

Aku: “Iya.. Kenapa, kakak bikin tape?”

Kak Listia: “Iya.. Udah kakak peram 2 hari, gak keluar air, baunya pun aneh.. Langsung kakak buang aja.. “

Aku: “Lho.. Gak kakak rasa? Mungkin memang gak keluar banyak airnya, tapi udah jadi.”

Kak Listia: “Gak kakak rasa lagi, soalnya baunya gak enak, gak kayak bau tape, malah kayak bau nasi basi”

Aku: “Hmm.. Ya coba lagi aja kak.. Biasa tu kalo bikin tape emang susah-susah gampang. Jarang orang percobaan pertama langsung berhasil.”

Kak Listia: “Iya.. Nantilah kakak coba lagi.. Apa yang salah ya tu kira-kira?”

Aku: “Banyak faktor tu kak.. Bisa jadi pas cuci berasnya kurang bersih, atau pas tuang ragi ke nasinya pas masih panas, bisa jadi peramnya gak cukup lama, gak cukup hangat/dibalut yang bagus, mungkin kualitas raginya juga kurang bagus.”

Kak Listia: “Ooh kakak pake ragi sisa sih kemaren.. Apa mungkin karena udah terbuka beberapa hari ya.. “

Aku: “Gak masalah harusnya, Ana juga sering pake ragi sisa yg dipotek sebelumnya, dibiarin di ruangan terbuka lagi, sebelum dipake dijemur dulu biar kering bagus, gak lembab sebelum dihalusin dan ditabur pas bikinnya”

Kak Listia: “Ooh gitu.. Padahal kakak pake merek ragi yang bagus, sisa bikin roti pizza kemaren.. Pake ragi Fermipan bisa kan?”

Aku: “….”

Percakapan ringan sehari-hari (10)

Di sebuah acara keluarga, seperti biasa bapak-bapak berkumpul dengan bapak-bapak, ibu-ibu berkumpul dengan ibu-ibu. Ada sodara namanya Om Bujang, istrinya mencari-cari untuk mengajak pulang. Ditanyalah ke ayahku.

Istri Om Bujang : “Na Bang Bujang keunan, Bang?” artinya: Ada Bang Bujang di situ, Bang?

Ayah : *pasang muka serius* “Hana. Hana yang bujang disinoe. Kana inong mandum” artinya : Gak ada. Gak ada yang bujang (lajang) di sini. Semuanya udah punya istri.

Istri Om Bujang : *awalnya menyimak dengan serius, di akhir kalimat tergelak sendiri* “Hahaha alahai Bang Jamal…”

Percakapan ringan sehari-hari (9)

Ayah : “Ambilkan ini. Hidupkan lampu itu. Matikan kompor. Kamu harus selalu standby setiap Ayah suruh. Apa yang gak siap Ayah kerjakan, kamu lanjutkan.”

Aku : “Ayah cocoknya punya asisten pribadi dengan bayaran mahal, atau tinggal di smart home. You know smart home?”

Ayah : “No.”

Aku : “Ini smart phone, telepon pintar *tunjuk hape*. Telepon ini bisa Ayah suruh-suruh. Telepon si A. Suruh berhitung. Suruh ketik SMS. Suruh cari video, artikel. Kalo smart home, berarti rumah pintar. Bisa Ayah suruh-suruh atau dia kerja otomatis, hidupkan lampu, masak nasi, isi kulkas, cuci baju, setrika otomatis. Ayah tinggal menikmati hidup.”

Ayah : “Oh itu kayak di surga.”

😩